Era kekinian menuntut seseorang untuk bekerja lebih giat dalam memenuhi kebutuhan fisiologis. Beban dan tanggung jawab kerja mengharuskan seseorang agar senantiasa meningkatkan kinerja semakin meningkat dan serius menyukseskan visi dan misi organisasi. Pustakawan Perguruan Tinggi memiliki peranan penting dalam menyukseskan visi dan misi organisasi yang menaunginya. Pustakawan Universitas Andalas (Unand) misalnya seyogianya berusaha untuk menyukseskan visi dan misi Unand yaitu Menjadi Universitas Terkemuka dan Bermartabat pada Tahun 2028. Misi Unand yakni :

  1. Menyelenggarakan pendidikan akademik dan profesi yang berkualitas, berkarakter serta berkesinambungan;
  2. Menyelenggarakan penelitian dasar dan terapan yang inovatif untuk menunjang pembangunan dan pengembangan IPTEK serta meningkatkan publikasi ilmiah dan HAKI;
  3. Mendharmabaktikan IPTEK yang dikuasai kepada masyarakat;
  4. Menjalin jaringan kerjasama yang produktif dan berkelanjutan dengan kelembagaan pendidikan, pemerintahan dan dunia usaha di tingkat daerah, nasional dan internasional;
  5. Mengembangkan organisasi dalam meningkatkan kualitas tata kelola yang baik (good university governance) sehingga mampu beradaptasi dengan perubahan lingkungan strategis;
  6. Mengembangkan usaha-usaha, baik dalam bidang pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat serta usaha lainnya yang berkaitan dengan core bisnis Unand yang dapat meningkatkan revenue.

Visi dan Misi Unand merupakan tanggung jawab seluruh sivitas akademika termasuk pustakawan yang juga tenaga kependidikan di Unand. UPT. Perpustakaan Unand sebagai unsur penunjang atau sumber belajar tetap memiliki tanggung jawab untuk menyukseskan proses belajar mengajar sehingga tercipta insan akademiki (baca:sarjana, magister dan doktor) yang mumpuni dalam bidangnya.

Beban dan tanggung jawab kerja yang berat tersebut terkadang “menjebak” Pustakawan sehingga merasa “paling” bertanggung jawab agar Unand sukses dan rankingnya dalam Webometrics. Beban kerja Pustakawan Unand yang meningkat ditunjukkan oleh job description yang rangkap mereka kerjakan. Hal ini dikarenakan Pustakawan Senior telah banyak yang pensiun (retirement) dan tidak adanya rekruitmen pustakawan untuk “menghandle” pekerjaan yang mereka tinggalkan. Apabila pustakawan tidak memiliki manajemen waktu kelamaan dapat pula pustakawan tersebut menjadi workaholic.

Dilansir dari wikipedia.com, adalah suatu kondisi dari seseorang yang mementingkan pekerjaan secara berlebihan dan melalaikan aspek kehidupan yang lain. Workaholic mempunyai kecanduan yang tidak sehat, dalam hal ini adalah kecanduan kerja, mengejar karier dan menganggap mereka adalah satu-satunya yang bisa mengerjakan pekerjaan dengan benar. Workaholic biasa disematkan kepada mereka yang menggilai sebuah pekerjaan. Setiap wilayah ataupun negara sudah pasti memiliki angkatan karyawan yang gila bekerja.

Berdasarkan data statistik yang mereka dapatkan dari Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan, penduduk Jepang, Kanada dan Meksiko disebut sebagai negara yang memiliki jam kerja minimal setengah jam lebih lama dari jam kerja standar yang dikeluarkan Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan setiap harinya, yakni 8,1 jam. Meksiko menduduki peringkat paling teratas dimana penduduknya rata-rata memiliki total jam kerja hampir 10 jam per hari. Meski begitu, negara ini juga memiliki rata-rata tingkat pekerjaan yang tidak dibayar, yakni sekitar 4,2 jam. Sementara itu, penduduk di negara Eropa disebut menjadi yang sebaliknya. Mereka memiliki jam kerja yang paling sedikit dibandingkan negara lainnya, khususnya penduduk Belgia yang rata-rata hanya bekerja maksimal 7,1 jam setiap hari.

Banyak orang kurang sepakat akan definisi workaholic atau gila kerja. Ada yang menyebutkan, workaholic itu muncul dikarenakan orang tersebut mencintai pekerjaannya, sehingga bersedia mengorbankan seluruh waktunya untuk pekerjaan itu. Tetapi, menurut Dr Randall S. Hansen, edukator dan penulis buku seputar motivasi, di masa sekarang workaholic bukan hanya sebatas rasa cinta terhadap pekerjaan. "Ini juga berkaitan dengan tuntutan finansial, sosial, dan juga teknologi. Tuntutan finansial membuat harus menghasilkan banyak uang untuk kebutuhan hidup, sehingga bisa jadi akan melakukan segala jenis pekerjaan dan mengorbankan waktu istirahat. Sementara tuntutan sosial lebih berkaitan pada budaya kerja masyarakat atau negara tertentu. Sedangkan tuntutan teknologi sedikit-banyak dipengaruhi oleh adanya e-mail, blackberry, hingga fasilitas lainnya. Otomatis, Anda tidak bisa beristirahat meskipun sudah di rumah," jelas Hansen.

Apabila seorang Pustakawan menjadi workaholic, akibatnya bisa berdampak buruk terhadap hidupnya. Misalnya saja, mudah stres dan frekuensi pertemuan dengan keluarga juga jadi berkurang. Survei yang dilakukan di Amerika Serikat memperlihatkan, 40 persen pekerja malah tidak ingin mengambil kesempatan untuk berlibur, karena takut ketinggalan pekerjaan saat kembali bekerja lagi. Padahal, liburan juga penting untuk menyeimbangkan kondisi pikiran dan jiwa seseorang. Ciri-ciri seseorang pengidap workaholic yaitu memiliki prinsip pekerjaan adalah prioritas utama, stres jika tidak bisa bekerja, mudah sakit, menjadikan kerja sebagai pelarian, tidak punya waktu untuk kehidupan pribadi (work-life balance), dan tak menyadari bahwa yang bersangkutan mengidap workaholic.

Workaholic berbeda dengan pekerja keras (hardworker). Hardworker memiliki motivasi ingin berkontribusi secara maksimal dalam pekerjaannya, namun tetap menyisihkan waktu untuk kehidupan sosial. Misalnya, pekerja keras masih mau diajak main futsal atau bersepeda santai setelah jam kerja bersama rekan-rekan pada hari tertentu. Kadang kala masih menyisihkan waktu hari Minggu untuk bersantai bersama keluarga ke pantai atau ke pegunungan.

Orang yang bekerja keras memang asyik dengan pekerjaannya, namun keasyikannya itu sangat alasan yakni untuk merealisasikan target-target yang dinamis. Siapapun yang membaca riwayat hidup Thomas Alva Edison, sang penemu listrik, akan menyimpulkan beliau sebagai pekerja keras. Kegiatan rutin beliau adalah membaca, bereksperimentasi, bertemu dengan orang lain, dan lain-lain. Nasihat Thomas Alva Edison yang sangat tepat di sini adalah: "Jangan hanya menenggelamkan diri pada kesibukan tetapi lupa menanyakan tujuan dari kesibukan itu." Pekerja keras akan menetapkan batas pada pekerjaan sehingga masih memiliki relasi dengan keluarga dan teman, serta melakukan aktivitas rekreasi. Disamping itu, pekerja keras dapat mengendalikan dirinya untuk tetap tenang dan mampu mengalihkan pikirannya pada hal-hal yang menyenangkan selain pekerjaannya.

Bila dilihat dari narasi diatas dimanakah posisi Pustakawan Unand?  Pustakawan Unand dapat diposisikan sebagai pekerja keras. Realitanya, Pustakawan Unand umumnya mengambil cuti tahunan setiap tahun. Meskipun Pustakawan Unand memiliki jiwa altruisme dalam melayani pemustaka namun Pustakawan Unand bukanlah workaholic. Perilaku workaholic biasanya diidap oleh buruh pabrik karena bos perusahaan menekankan target produksi tertentu sehingga apabila target perusahaan tidak terpenuhi maka yang bersangkutan akan terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Demikian pula halnya dengan pemilik toko grosir yang memiliki pelanggan yang banyak. Adakalanya pemilik toko tersebut enggan menutup tokonya untuk sekedar berlibur akhir tahun menuju destinasi wisata yang viral di media sosial. Padahal tempat wisata yang dituju tidak begitu jauh dan tak sampai menguras isi dompetnya. The world is a book, and those who do not travel read only one page. Dunia adalah sebuah buku dan mereka tidak bepergian hanya karena membaca satu halaman. Demikian quote Saint Augustine, sang filosof Romawi Barat Abad ke 3 Masehi.

30 Mei 2022

Surat Keterangan Bebas Pustaka (SKBP) merupakan salah satu syarat kelulusan bagi mahasiswa Unand. Aturan ini juga berlaku di sebagian besar perguruan tinggi yang ada di Indonesia. Kewajiban mengurus SKBP bertujuan untuk memastikan bahwasanya mahasiswa tersebut sudah menyelesaikan semua kewajibannya di perpustakaan, seperti mengembalikan pinjaman buku, dan atau membayar denda keterlambatan peminjaman buku.

Di Perpustakaan Unand ada 4 syarat yang harus dipenuhi oleh mahasiswa untuk mendapatkan SKBP, yaitu: bebas peminjaman buku, mengunggah tugas akhir ke dalam repository Unand (hhtp://scholar.unand.ac.id), menyerahkan sumbangan buku, dan menyerahkan tugas akhir tercetak.

Selama ini semua syarat tersebut harus mendapatkan pengesahan dari masing-masing bagian yang ada di perpustakaan. Setelah semua syarat terpenuhi, barulah mahasiswa mendapatkan SKBP, yang kemudian diserahkan ke admin wisuda di jurusan/program studi masing-masing. Oleh admin jurusan SKBP dijadikan sebagai rujukan untuk mengentrikan status bebas pustaka mahasiswa di aplikasi wisuda universitas, sebagai salah satu syarat pendaftaran wisuda.

Semua proses yang dijalani untuk mendapatkan SKBP cukup memakan waktu, dan menyita energi mahasiswa. Padahal di sisi lain mereka juga harus mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk menghadapi prosesi wisuda. Akibatnya cukup banyak keluhan yang disampaikan oleh mahasiswa terkait dengan panjangnya birokrasi yang dilalui untuk mendapatkan SKBP.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, perpustakaan Unand mempunyai inisiatif untuk membuat aplikasi kliring bebas pustakan online. Aplikasi ini bisa diakses melalui laman: http://katalog.pustaka.unand.ac.id/mandiri dan bisa digunakan dari mana saja. Melalui aplikasi ini mahasiswa bisa melakukan perpanjangan peminjaman buku, melihat riwayat peminjaman buku, dan mendaftar kliring bebas pustaka (mendapatkan status bebas pustaka).

Untuk menggunakan aplikasi ini, mahasiswa cukup login menggunakan akun perpustakaan, yang sudah didapatkan pada saat aktifasi keanggotan. Sebelum mengusulkan kliring bebas pustaka, pastikan seluruh buku yang dipinjam di perpustakaan sudah dikembalikan. Kalau tidak mahasiswa yang bersangkutan tidak akan bisa mengentrikan data kliring bebas pustaka.

Selain itu mahasiswa harus mengunggah tugas akhir terlebih dahulu, serta menyerahkan buku sumbangan dan tugas akhir tercetak (bisa dikirimkan melalui kurir atau diserahkan langsung ke perpustakaan). Setelah itu usulan kliring bebas pustaka mahasiswa diverifikasi kebenarannya oleh petugas perpustakaan. Kalau semuanya sudah sesuai dengan ketentuan, status mahasiswa tersebut akan “bebas”.

Aplikasi terintegrasi dengan aplikasi katalog perpustakaan, dan aplikasi wisuda, sehingga bisa mendeteksi dan mengcounter mahasiswa yang belum mengembalikan pinjaman buku. Karena sudah terintegrasi dengan Sistem Informasi Wisuda (SIWUD), setiap perubahan status bebas mahasiswa di aplikasi Bebas Pustaka Mandiri otomatis terverifikasi di SIWUD Unand. Admin di jurusan/prodi tidak perlu repot lagi mengentrikan status mahasiswa yang akan di wisuda.

Aplikasi ini sangat membantu memudahkan mahasiswa dalam mengurus SKBP. Kemudahan yang didapat diantaranya adalah: birokrasi lebih simpel, lebih fleksibel karena bisa diakses darimana saja, lebih efisien dari segi waktu, serta ramah lingkungan karena mahasiswa tidak perlu lagi mencetak bukti bebas pustaka (paperless). Selain itu mahasiswa tidak perlu lagi sibuk bolak-balik ke perpustakaan, dan fakultas untuk mendapatkan SKBP.

Aplikasi Bebas Pustaka Mandiri sudah diujicobakan pada saat pendaftaran wisuda periode II 2022 ini. Walaupun masih ada sedikit kendala, akan tetapi secara keseluruhan sangat membantu memudahkan mahasiswa, petugas perpustakaan, dan admin wisuda fakultas dalam proses pengurusan SKBP. Keberadaan aplikasi ini merupakan bagian dari transformasi dalam proses digitalisasi perpustakaan Unand.

Tak semua orang tahu kapan istilah phubbing mulai populer dalam kehidupan bermasyarakat. Istilah phubbing berawal dari kata phone, artinya telepon, dan snubbing, yang bermakna menghina. Terminologi ini pertama kali muncul pada medio Mei 2012 lalu di Australia. Kala itu, sebuah biro iklan Australia menggunakan istilah phubbing untuk menggambarkan fenomena yang berkembang di era digital ini. Banyak orang mengabaikan teman dan keluarga yang berada tepat di depannya karena malah lebih asyik dengan ponselnya.

Phubbing adalah kata yang menggambarkan perilaku seseorang yang asyik dengan gadget ketika berhadapan dengan orang lain atau sedang berada di dalam pertemuan. Dilansir dari Healthline, salah satu penelitian membuktikan lebih dari 17 persen orang melakukan phubbing kepada orang lain, setidaknya empat kali sehari. Sementara itu, hampir 32 persen menjadi korban phubbing hingga dua sampai tiga kali sehari.

Phubbing mengganggu kemampuan untuk merasa benar-benar hadir dan terlibat dengan orang-orang di sekitarnya. Seseorang mungkin hadir secara fisik di hadapan orang lain namun dengan perhatian yang sepenuhnya teralihkan. Peralihan perhatian ini dilakukan dengan sengaja ketika kita mulai menggunakan smartphone, diniatkan atau tidak sama sekali. Riset membuktikan, chatting selama percakapan tatap muka, yang termasuk phubbing, membuat interaksi yang terjadi kurang mengesankan, Hal ini berdampak pada semua orang yang terlibat interaksi tersebut, bahkan pelaku phubbing. Phubbing, yang “notabene” merupakan penggunaan smartphone berlebihan, berdampak pada hubungan pribadi. Terbukti, phubbing menurunkan kepuasaan pernikahan karena konflik atas penggunaan smartphone tersebut. Studi lain membuktikan, pasangan yang kerap melakukan phubbing, pada satu sama lainnya, berisiko lebih tinggi mengalami depresi. Saat ini, hampir semua orang di seluruh dunia memiliki smartphone sehingga diprediksi perilaku phubbing akan semakin parah dan makin meluas.

 Efek Phubbing pada Kesehatan Mental

            Phubbing dapat memberikan pengaruh buruk bagi kesehatan mental termasuk bagi kalangan digital native dan digital immigrant. Korban phubbing mungkin merasa ditolak, dikucilkan, dan tidak penting. Hal yang tentunya bisa berdampak signifikan pada kesehatan mental seseorang. Akibatnya, phubbing menjadi ancaman serius bagi empat kebutuhan dasar manusia secara sosial yakni rasa memiliki, harga diri, keberadaan yang berarti, dan kontrol.

            Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Applied Social Psychology menginformasikan, individu yang menjadi korban phubbing akhirnya terjerumus dalam pola perilaku serupa. Korban berusaha mengisi kekosongan interaksi yang terjadi dengan menggunakan smartphone-nya, yang akhirnya menjadi perilaku phubbing pula. Hal ini akhirnya menjadi lingkaran setan yang memperburuk kondisi hubungan sosial maupun mental semua pihak. Atas realitas tersebut dapat dikatakan phubbing juga memiliki kemampuan menular kepada korbannya.

Penting pula untuk memahami jika media sosial, yang cenderung dinikmati ketika phubbing, dapat memperburuk masalah mental. Media sosial mungkin memiliki dampak negatif pada kesehatan mental kita, menurut penelitian yang dipublikasikan di Computers and Human Behavior. Studi tersebut menemukan bahwa media sosial dapat memperburuk perasaan depresi, dan semakin sering kita menggunakannya maka semakin besar kemungkinan kita merasakan depresi atau kecemasan.

Tips mengatasi Perilaku Phubbing

            Menurut Wiguna (2022) dalam tulisannya yang berjudul Lakukan 3 Cara Ini untuk Mengurangi Kebiasaan Phubbing, dinyatakan bahwa  phubbing dapat diatasi dengan beberapa tips berikut ini :

Pertama, Tinggalkan ponsel. Penyebab utama seseorang melakukan phubbing adalah ponsel yang berada dalam jangkauan, seperti di dalam saku atau tas, ketika sedang berinteraksi dengan orang lain. Karena itu, salah satu solusi yang bisa dilakukan adalah meninggalkan ponsel untuk sejenak, seperti meninggalkan ponsel di rumah atau di dalam mobil. Hal ini akan mencegah seseorang untuk melakukan phubbing ketika berinteraksi dengan orang lain.

Kedua, Batasi Penggunaan Ponsel. Tidak bisa dinafikan bahwa ponsel memegang peranan penting pada era serba digital. Akan tetapi, hal tersebut bukan berarti bahwa ponsel tidak bisa dikurangi penggunaannya. Kebanyakan orang menggunakan ponsel untuk hal-hal yang tidak terlalu penting, seperti bermain media sosial atau game. Kebiasaan-kebiasaan tersebut dapat dikurangi untuk mengatasi kebiasaan phubbing.

Ketiga, Jangan memainkan ponsel ketika makan. Phubbing tidak hanya terjadi ketika seseorang tengah terlibat interaksi sosial. Ketika melakukan kegiatan lain, seperti makan, seseorang juga dapat melakukan phubbing. Beberapa orang bahkan tidak mampu menghabiskan makanannya tanpa memainkan ponsel. Karena itu, mencoba untuk menjauhkan ponsel ketika makan menjadi salah satu solusi untuk mengatasi kebiasaan phubbing.

            Sebagai perilaku anti sosial maka dalam organisasi Perpustakaan khususnya UPT.Perpustakaan Unand perlu dilaksanakan sikap anti Phubbing. Kebiasaan peserta rapat bidang terkadang masih saja memainkan handphone ketika pimpinan rapat sedang berbicara. Perilaku yang kurang baik ini sudah saatnya dirubah. Saatnya berpikir secara rasional dimana setiap apa yang kita kerjakan ada aturan dan tempatnya masing-masing. Bermain gadget tidak dilarang namun ada batasnya sehingga hubungan sosial tidak terganggu hanya karena teknologi. Kita seyogianya merenungkan kembali quote Alber Einstein pakar Fisika kondang. Technological progress is like an ax in the hands of a pathological criminal. Yang bermakna bahwa kemajuan teknologi seperti kapak di tangan seorang penjahat patologis.

Pada Hari Sabtu, 9 April 2022 yang bertepatan dengan 7 Ramadhan 1443 Hijriyyah, telah diselenggarakan iftar atau buka puasa bersama di Rumah Makan Silungkang. Rumah makan ini terletak di Simpang Haru. Pemilihan rumah makan tersebut sebagai lokasi kegiatan iftar karena akses ke lokasi yang mudah karena letaknya di pusat kota. Disamping itu rumah makan ini dilengkapi dengan fasilitas mushala dan tempat parkir yang relatif luas.

Acara iftar bersama yang diselenggarakan UPT.Perpustakaan Unand dihadiri oleh Staf UPT.Perpustakaan Unand baik Tenaga Kependidikan PNS (Pegawai Negeri Sipil) maupun Tenaga Kependidikan Non PNS (Pegawai Negeri Sipil). Sebagian staf UPT.Perpustakaan Unand mengikutsertakan keluarganya. Iftar dalam Bahasa Arab merujuk pada sebuah perjamuan berbuka puasa selama Bulan Ramadhan. Iftar adalah salah satu ibadah di bulan Ramadhan dan sering dilakukan oleh sebuah komunitas dan orang-orang yang berkumpul untuk berbuka puasa bersama-sama (Wikipedia). Dalam kegiatan iftar ini disediakan menu ta’jil. Makna ta’jil dalam Bahasa Arab yakni menyegerakan yang diambil dari kata ‘ajjala-yu’ajjilu. Penjelasan makna ta’jil ini dapat dilihat secara lengkap pada Kitab Fathul Bari pada Bab Khusus yang berjudul Bab Ta’jil Al Fithr yang artinya Bab Menyegerakan Berbuka Puasa. Menu ta’jil yang umum dalam masyarakat Indonesia biasanya kolak, sop buah, es cincau dan es campur. Akan semakin nikmat bila dilengkapi dengan beberapa butir kurma jenis khalas, lulu’ dan dabas yang berasal dari Uni Emirat Arab dan Irak atau pun kurma Mesir dan Tunisia yang biasa banyak ditemui di pasar tradisional.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Online, soliditas mengandung makna keadaan solid (kukuh, berbobot dan sebagainya). Untuk menjaga soliditas organisasi tentu harus ada agenda dan momentum yang tepat untuk melakukan kegiatan secara bersama dengan melibatkan seluruh staf UPT.Perpustakaan Unand. Output yang diharapkan kedepan adalah timbulnya kekompakan , solidaritas yang tinggi dan mampu berkolaborasi dalam team work.

Kegiatan melaksanakan buka puasa bersama merupakan sesuatu yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah Shalallahu’alaihi Wa Sallam karena terdapat berkah pada makanan yang akan dimakan bersama-sama. Hal ini didukung oleh Hadits riwayat Abu Dawud, “Apa kalian makan sendiri-sendiri?”. Para sahabat pun menjawab “iya” Rasulullah lalu menyarankan para sahabat untuk makan bersama-sama. Beliau bersabda, “Makanlah kalian bersama-sama, bacalah bismillah, maka Allah akan memberikan berkah kepada kalian semua”.

Buka puasa bersama di Bulan Ramadhan memiliki dampak positif bagi Pustakawan di UPT.Perpustakaan Unand. Buka puasa bersama dapat membentuk rasa kebersamaan dan menjalin komunikasi dengan rekan sejawat termasuk juga dengan staf UPT.Perpustakan Unand lainnya.

Berikut ini adalah manfaat buka puasa bersama bagi Pustakawan UPT.Perpustakan Unand :

Pertama, Mempererat Silaturahmi. Buka puasa bersama sangat baik untuk mempererat tali silaturahmi. Kesempatan ini biasanyan digunakan untuk memperkuat persaudaraan dengan rekan sejawat. Hal ini berdasarkan dalil Al-Qur’an Surat An Nisa ayat 1 yang artinya, “Hai sekalian manusia bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu dan daripadanya Allah ciptakan isterinya dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah dengan (mempergunakan) namaNya kamu saling meminta satu sama lain dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.”

Kedua, Sarana interaksi positif. Dengan memanfatkan momentum buka puasa bersama rekan sejawat, diharapkan sesama rekan sejawat dapat saling berinteraksi secara positif. Paling tidak disetelah buka puasa sebelum pulang ke rumah masing-masing ada gagasan baru untuk organisasi yang perlu disampaikan kepada pimpian UPT.Perpustakaan Unand sehingga kedepan gagasan tersebut difollow up menjadi event paska Idul Fithri 1443 Hijriyyah.

Ketiga, Memperpanjang usia. Memperpanjang usia. Berbuka puasa bersama dapat memperpanjang usia karena aktivitas ini dapat dijadikan sebagai momen untuk saling mendoakan, berbagi perasaan, atau curhat dan meredakan stres, saling mendoakan, saling menghilangkan beban pikiran. Berkumpul dan bercanda bersama dapat meluapkan sebagian masalah hidup. Perasaan bahagia dapat menghindarkan individu daripada terserang penyakit ganas.

Keempat, Mencairkan Hubungan. Dengan berbuka puasa bersama hubungan yang tegang antara satu dengan yang lain karena perbedaan kepentingan bisa mencair dan membaik.

Kelima, Mengisi Waktu Luang. Mengisi waktu luang dengan rekan sejawat dapat membunuh kebosanan dan mungkin dari mengobrol tersebut didapatkan ide untuk saling bertukar pikiran dalam hal yang positif.

Keenam, Mengurangi Resiko Terkena Alzheimer Dementia. Manfaat buka puasa lainnya adalah dapat terhindar dari penyakit Alzheimer Dementia. Penyakit ini ditandai dengan menurunnya kemampuan untuk mengingat seseorang dan kemampuan untuk membuat keputusan.

InsyaAllah iftar bersama ini menjadi agenda tetap kegiatan penguatan soliditas organisasi UPT.Perpustakaan Unand selama bulan suci Ramadhan. Bila perlu acara ini diselenggarakan di UPT.Perpustakaan Unand dengan harapan seluruh staf UPT.Perpustakan Unand membawa keluarganya masing-masing sehingga terbina keakraban antara sesama keluarga besar staf UPT.Perpustakaan Unand. Lebih afdhal lagi apabila sebelum buka puasa bersama dilakukan kuliah lima belas menit (Kulibas) yang bertujuan untuk meningkatkan wawasan keislaman yang berkaitan dengan ibadah shaum Ramadhan.

Fasting is not about a diet of burning calories. It’s about burning ego, pride, and sins, ibadah puasa bukanlah sekedar diet untuk membakar kalori. Tapi lebih kepada membakar ego, kesombongan dan dosa. Semoga kita semua mendapatkan rahmat, pengampunan dan itqun minan nar (pembebasan dari api neraka) dari Allah Subhanahu wata’ala. 

Didalam mukaddimah Undang-undang Dasar 1945 pada alenia ke 4 dinyatakan, “......melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa,.....”. Pada alenia tersebut tertulis kata mencerdaskan kehidupan bangsa. Mencerdaskan kehidupan bangsa merupakan salah satu amanah para pendiri bangsa (founding fathers) setelah kemerdekaan Republik Indonesia. Prof. Sri Edi Swasono (2005) menjelaskan bahwa maksud “Mencerdaskan kehidupan bangsa” adalah kehidupannya yang dicerdaskan, bukan sekedar kemampuan otaknya. Mencerdaskan kehidupan bangsa lebih merupakan konsepsi budaya daripada konsepsi biologis-genetika. Para founding father menolak sikap dan perilaku ke-inlander-an, yaitu sikap hidup sebagai inlander, sebagai yang terjajah, terbenam harga dirinya, penuh unfreedom atau keterbelengguan diri. Kehidupan yang cerdas menuntut kesadaran harga diri, harkat, dan martabat, kemandirian memiliki innerlijke beschaving, tahan uji, pintar dan jujur.

Cerdas literasi sosial merupakan tuntutan di Era Revolusi Industri 4.0. Literasi sosial didefinisikan kemampuan anak usia dini untuk berinteraksi, memelihara, dan membangun hubungan dengan orang lain. Kegiatan literasi sosial tidak hanya melibatkan guru PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) akan tetapi juga aktivis literasi dan pustakawan. Literasi sosial melibatkan kemampuan mengetahui dan mengekspresikan emosi sendiri dengan sukses. Literasi sosial juga disebut kecerdasan sosial atau literasi emosional (Hamilton, 2006). Realitas ini sesuai dengan pernyataan Hurlock (1978),  bahwa kecerdasan sosial dalam hal ini literasi sosial merupakan perolehan kemampuan berperilaku yang sesuai dengan tuntutan sosial. Literasi sosial difokuskan untuk meningkatkan keterampilan sosial anak. Karena pentingnya keterampilan sosial anak, maka anak perlu belajar dan praktek keterampilan sosial. Dalam riset yang dilakukan oleh Alexander dan Entwisle, ditemukan hasil bahwa anak yang mampu dalam keterampilan sosial mempengaruhi akademik mereka sebaik perilaku sosialnya (dalam Kostelnik, 1999).

Berikut ini dijelaskan tentang tahapan literasi sosial bagi anak khususnya usia dini :

Pertama, Literasi sosial dimulai dengan penyajian materi pola asuh anak usia dini, dengan mengundang orangtua untuk menjelaskan tentang pola pengasuhan anak usia dini kaitannya dengan peningkatan kemampuan literasi sosial anak. Kegiatan ini dilanjutkan dengan tanya jawab, brainstorming, diskusi kelompok, dan umpan balik hasil diskusi.

Kedua, Penguatan literasi sosial anak usia dini melalui cerita tentang kehidupan hewan untuk membangkitkan kemampuan literasi sosial yang sekaligus imajinasi anak tentang dunia sekelilingnya dengan menirukan suara binatang sekaligus memberi penguatan nilai-nilai kerjasama. Kegiatan tahap kedua ini didukung dengan gambar hewan secara seri/berurutan.

Ketiga, Penguatan literasi sosial anak usia dini melalui kegiatan bermain. Penguatan literasi sosial anak usia dini ini dengan metode bermain seperti menjala ikan atau menyusun kayu-kayu kecil yang kemudian menjadi bangunan. Permainan ini mendidik anak untuk berkolaborasi dengan baik, dan mau bermain dengan siapa saja tanpa pandang bulu. Dengan demikian literasi sosial anak diharapkan semakin kuat dan berkembang baik.

Agar kegiatan literasi sosial yang dilaksanakan di TBM berjalan dengan baik maka perlu adanya wadah atau forum masyarakat pegiat literasi. Hal ini sesuai dengan Rancangan Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Barat Nomor 1 Tahun 2022 tentang Perpustakaan BAB X Peran serta Masyarakat Pasal 78 ayat 2 yang berbunyi, Dalam rangka mendorong peran serta masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Pemerintah Daerah melalui Perangkat Daerah dapat memfasilitasi terbentuknya wadah atau forum masyarakat penggiat literasi atau masyarakat gemar membaca. Yang menjadi pertanyaan dalam pasal ini tentang adanya redaksi memfasilitasi, apakah forum masyarakat pegiat literasi ini hanya mendapatkan fasilitas berupa legalitas organisasi secara hukum an sich, atau mendapat bantuan dana operasional dari Pemerintah Provinsi Sumatera Barat?. Semoga isu ini dapat dituntaskan dengan segera. Kegiatan Literasi sosial ini seyogianya juga diperluas dengan pemahaman aktivitas literasi informasi kepada khalayak. Oleh karena itu perlu kolaborasi yang baik antara pustakawan dengan aktivis literasi.

            Poin kerjasama yang perlu dibangun antara Pustakawan dengan Aktivis Literasi adalah sebagai berikut :

Pertama, membentuk forum masyarakat pegiat literasi yang pengurusnya adalah pustakawan dan aktivis literasi. Tujuanya agar transformasi ilmu pengetahuan dan sharing knowledge antara Pustakawan dan Aktivis Literasi berlangsung dengan baik.

Kedua, mengadakan pelatihan yang diinisiasi oleh organisasi Pustakawan terkait dengan tata kelola koleksi. Pustakawan dapat membagikan ilmunya kepada pengelola Taman Bacaan Masyarakat yang pengelolanya adalah aktivis literasi. Pustakawan yang menjadi narasumber otomatis memperoleh angka kredit yang dapat digunakan untuk kenaikan pangkat / jabatan. Pengenalan SLIMs (Senayan Library Management Systems) sangat penting bagi aktivis literasi dan perlu diterapkan pada Taman Bacaan Masyarakat.

Ketiga, bekerjasama dengan pemangku kebijakan di daerah dalam membentuk Taman Bacaan Masyarakat atau Perpustakaan Nagari apabila diwilayah tersebut tidak terdapat Taman Bacaan Masyarakat dan juga Perpustakaan Nagari. Untuk itu diperlukan pendekatan yang baik dengan pemangku kebijakan di daerah sehingga Perpustakaan Nagari atau Taman Bacaan Masyarakat dapat dibina oleh forum masyarakat pegiat literasi.

Apabila ketiga kerjasama diatas berjalan dengan baik maka bukan tidak mungkin di Sumatera Barat terbentuk Masyarakat Sadar Literasi Informasi. Penguatan budaya literasi adalah kunci memajukan Indonesia. Demikian kata Lenang Menggala inisiator Gerakan Menulis Buku Indonesia..

Setiap orang yang bekerja di kantor pasti akan mengalami stress kerja. Tak terkecuali Pustakawan. Perubahan software penginputan data koleksi lama digantikan yang terbaru membuat pustakawan harus kembali mempelajari aturan input data baru agar dapat bekerja dengan baik. Bagi digital immigrant yang kurang ahli atau tidak memiliki interes untuk belajar penginputan data, otomatis membuat yang bersangkutan mengalami stres kerja. Stres kerja juga terjadi akibat beban kerja yang meningkat karena tanggung jawab yang besar atau memaksakan diri untuk mencapai target tertentu untuk mencapai tujuan organisasi.

Yoder dan Staudohar (1982) mendefinisikan job stress refers to a physical or psychological deviation from the normal human state that is caused by stimuli in the work environment. Kurang lebih memiliki arti yakni suatu tekanan akibat bekerja juga akan mempengaruhi emosi, proses berpikir dan kondisi fisik seseorang, di mana tekanan itu berasal dari lingkungan pekerjaan tempat individu tersebut berada. Emosi ini terbentuk kemungkinan berasal dari job burn out. Job burn out adalah perasaan lelah saat harus bekerja atau melakukan hal-hal yang berhubungan dengan pekerjaan. Rasa lelah bekerja ini bisa jadi berbentuk fisik maupun emosional yang melibatkan berkurangnya perasaan bangga dan puas atas capaian yang dihasilkan dalam pekerjaan. Proses berfikir yang terlalu rumit dan njelimet membuat kondisi otak menjadi lelah. Disamping itu juga lantaran yang bersangkutan memiliki penyakit bawaan ditambah lagi beban kerja yang meningkat membuat yang bersangkutan stress.

Dilansir dari Accurate Online, manajemen stress adalah suatu cara atau metode penanganan gangguan psikologis yang ditujukan untuk mengendalikan tingkat stress individu, khususnya stres kronis. Beberapa ahli ada yang menjelaskan bahwa manajemen stress adalah suatu kemampuan dalam menggunakan sumber daya manusia secara efektif untuk bisa mengelola dan juga mengatasi gangguan serta kekacauan mental serta emosional yang terjadi karena adanya respon atau tanggapan.

Menyigi manajemen stres bertujuan untuk memperbaiki kualitas hidup yang lebih baik. Secara umum, stress mampu mempengaruhi cara pikir dan emosi setiap orang. Bila tekanan yang dialami oleh seseorang ternyata sangat besar, hal tersebut akan mengancam kemampuan setiap orang dalam menghadapi kondisi dan situasi dari lingkungannya.

Faktor penyebab stres kerja dapat dibagi menjadi dua yaitu penyebab stres dari internal maupun eksternal. Berikut ini dijelaskan penyebab stres internal (dalam diri) :

Pertama, Workaholic (Gila Kerja). Workholic adalah orang yang melakukan pekerjaan secara kompulsif dan sangat kerap mengorbankan waktu tidur serta keluarganya sehingga mengakibatkan tekanan dalam jiwanya.

Kedua, Fixed Mindset, yakni mereka yang memiliki pikiran sempit dan kaku. Umumnya mereka memiliki banyak pikiran dan kaku atau tidak berpikir sama sekali secara normal.

Ketiga, Pikiran Negatif, hal tersebut ditandai dengan adanya cara pikir yang pesimistis, berlebihan mengkritik diri sendiri dan menganalisis sesuatu secara berlebihan.

Keempat, Gaya hidup dan juga kebiasaan buruk, seperti begadang, minum alkohol, kafein, perokok, dan sebagainya.

Adapun faktor penyebab stres eksternal (luar diri) yaitu :

Pertama, Peristiwa penting yang terjadi dalam hidup seseorang, seperti meninggalnya orang yang dikasihi, kehilangan pekerjaan, perceraian, putus cinta, dan sebagainya.

Kedua, Adanya interaksi sosial, seperti perlakukan kasar dari orang lain, sikap agresif dari orang lain, intimidasi dari pihak yang lebih berkuasa, dan sebagainya

Ketiga, Di dalam perusahaan, seperti deadline pekerjaan yang ketat, intimidasi dari pihak atasan atau rekan kerja, peraturan yang terlalu kaku, dan sebagainya.

Keempat, Kecerobohan sendiri, seperti lupa menyimpan kunci, lupa mematikan listrik, rusaknya peralatan, dan sebagainya.

Agar stres kerja dapat di manage dengan baik oleh pustakawan ada beberapa langkah yang harus dilakukan :

Pertama, Melakukan Pendekatan Individual. Pendekatan individual sangat diperlukan untuk menentukan keberhasilan manajemen stress di dalam suatu Perpustakaan. Ada baiknya dilakukan penerapan manajemen waktu secara baik dan tepat, meningkatkan waktu olahraga, melatih diri agar lebih rileks, memperluas sosialisasi.

Kedua, Melakukan Pendekatan Organisasional. Pendekatan organisasional dilakukan untuk mengelola stress di Perpustakaan. Umumnya dilakukan dengan cara :

a)      Membuat iklim Perpustakaan yang lebih mendukung

b)      Meminimalisir konflik antara sesama staf Perpustakaan.

c)      Menetapkan tujuan organisasi secara lebih realistis

d)      Mengatur job description para Pustakawan

e)      Melakukan perbaikan komunikasi dari dalam Perpustakaan

Ada beberapa langkah yang dilakukan untuk menerapkan manajemen stres di Perpustakaan :

Pertama, Identifikasi Perilaku dan Kebiasaan yang Bisa Menyebabkan Stress. Stress yang terjadi di lingkungan kerja tidak hanya terjadi karena adanya pekerjaan yang menumpuk dan tidak bisa terselesaikan saja. Tapi, stress juga bisa disebabkan karena permasalahan yang ada di rumah, seperti adanya konflik dengan teman, anggota keluarga, hutang yang besar, atau masalah lainnya. Berbagai teori psikologi mengatakan stress dapat diatasi dengan menulis atau bercerita pada pimpinan. Pimpinan Sumber Daya Manusia (SDM) mungkin tidak bisa ikut campur dalam kehidupan pribadi Pustakawan, tapi setidaknya dengan bertukar pikiran dapat diketahui solusi dari masalah yang terjadi.

Kedua, Menyediakan Fasiltas Olahraga di Perpustakaan. Ada beberapa Perpustakaan yang menyediakan meja pimpong yang dapat digunakan Pustakawan untuk berolahraga dikala senggang. Cara ini dapat dijadikan saran untuk Kepala Perpustakaan dalam menyediakan fasilitas yang tujuannya mengurangi stres Pustakawan. Dengan adanya fasilitas olahraga, maka Pustakawan akan mampu mengurangi kebiasaan mengatasi stress dengan cara yang tidak sehat seperti minum minuman beralkohol. Olahraga juga diklaim mampu mengatasi fokus dan meningkatkan konsentrasi Pustakawan.

Ketiga, Menyediakan Agenda untuk Outbond. Outbond atau Mancakrida adalah bentuk pembelajaran perilaku kepemimpinan dan manajemen di alam terbuka dengan pendekatan yang unik dan sederhana tetapi efektif karena pelatihan ini tidak sarat dengan teori-teori melainkan langsung diterapkan pada elemen-elemen yang mendasar yang bersifat sehari-hari, seperti saling percaya, saling memperhatikan serta sikap proaktif dan komunikatif.

Pustakawan dituntut mampu memanage stress sehingga sukses dalam menggapai puncak kariernya. Stres tidak diciptakan oleh peristiwa-peristiwa dalam hidupmu tetapi oleh reaksimu terhadapnya. Demikian  quote James Pierce, aktor kondang Amerika Serikat.

Perguruan Tinggi merupakan wadah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Pemimpin masa depan suatu bangsa dibentuk melalui perguruan tinggi. Perguruan Tinggi tidak hanya sekedar mengajarkan ilmu eksak dan non eksakta kepada anak bangsa akan tetapi juga turut serta dalam membentuk karakter. Pembinaan karakter yang dilaksanakan di Perguruan Tinggi harus sesuai dengan ideologi berbangsa dan bernegara. Anak bangsa perlu ditanamkan semangat patriotik dan memahami Pancasila serta Undang-Undang Dasar 1945 sebagai pandangan hidup Bangsa Indonesia.

Berdirinya Perpustakaan Perguruan Tinggi seiring dengan berdirinya lembaga induk yang menaunginya. Perpustakaan Perguruan Tinggi yang tertua dalam peradaban Islam adalah Perpustakaan Universitas Qarawiyyin, Perpustakaan Universitas Sankore dan Perpustakaan Universitas Al-Azhar. Berikut ini dijelaskan tentang eksistensi Perpustakaan tersebut dalam Peradaban Islam :

Pertama, Perpustakaan Universitas Qarawiyyin. Dilansir dari Wikipedia Online, Al-Qarawiyyin adalah bagian dari masjid, didirikan pada tahun 859 oleh Fatima al-Fihria, putri seorang pedagang kaya bernama Muhammad Al-Fihri. Keluarga Al-Fihri telah bermigrasi dari Kairouan, Tunisia ke Fez, Maroko pada awal abad ke-9, bergabung dengan komunitas pendatang lainnya dari Kairouan yang telah menetap di sebuah distrik barat kota. Fatima dan kakaknya Mariam, baik dari mereka berpendidikan, mewarisi sejumlah besar uang dari ayah mereka. Fatima berjanji untuk menghabiskan seluruh warisannya pada pembangunan masjid yang cocok untuk komunitasnya. Selain tempat untuk ibadah, masjid segera berkembang menjadi tempat untuk pelajaran agama dan diskusi politik, secara bertahap memperluas pendidikan untuk berbagai mata pelajaran, khususnya ilmu alam. Al-Qarawiyyin memperoleh perlindungan politik kuat dari Sultan. Banyak manuskrip yang disimpan di perpustakaan yang didirikan oleh Sultan Abu Inan Faris dari Dinasti Marinid pada tahun 1349. Di antara naskah yang paling berharga saat ini disimpan di perpustakaan adalah jilid dari yang terkenal Al-Muwatta dari Malik yang ditulis pada perkamen kijang, Sirat Ibn Ishaq, salinan Al Qur'an yang diberikan oleh Sultan Ahmad al-Mansur pada tahun 1602, dan salinan asli dari buku Ibnu Khaldun Al-'Ibar. Di antara mata pelajaran yang diajarkan, di samping Al Qur'an dan Fiqih (hukum Islam), adalah tata bahasa, retorika, logika, kedokteran, matematika, astronomi, kimia, sejarah, geografi dan musik. Al-Qarawiyyin dimainkan, pada abad pertengahan, peran utama dalam pertukaran budaya dan transfer pengetahuan antara Muslim dan Eropa. Pelopor akademisi seperti Ibnu Maimun (Maimonides), Al-Idrissi, Ibnu al-Arabi, Ibnu Khaldun, Ibnu al-Khatib, Al-Bitruji (Alpetragius), Ibnu Hirzihim, dan Al-Wazzan semua terhubung dengan Universitas baik sebagai mahasiswa atau dosen. Di antara cendekiawan Kristen mengunjungi Al-Qarawiyyin adalah tokoh Belgia Nicolas Cleynaerts dan tokoh Belanda Golius. Al-Qarawiyyin masih berfungsi sebagai masjid, perpustakaan, dan universitas, tetapi pelestarian Madinah oleh UNESCO bertujuan untuk mencegah perluasan fisik pada situs aslinya.

Kedua, Perpustakaan Universitas Sankore. Universitas Sankore didirikan pada 989 Masehi. Universitas ini  menyedot perhatian kalangan muda dari berbagai penjuru dunia untuk menimba ilmu di dalamnya. Pada abad ke-12, jumlah mahasiswanya mencapai 25 ribu orang. Padahal, jumlah penduduk Kota Timbuktu di masa itu hanya berjumlah 100 ribu jiwa. Universitas ini diakui  kualitasnya karena lulusannya mampu menghasilkan publikasi berupa buku dan kitab yang berkualitas. Buktinya, baru-baru ini di Timbuktu, Mali, ditemukan lebih dari satu juta risalah. Selain itu, di kawasan Afrika Barat juga ditemukan tak kurang dari 20 juta manuskrip. Informasi dari Understanding Slavery Initiative Online menjelaskan bahwa Masjid Universitas Sankoré dibangun sekitar tahun 1300 M dengan dana dari seorang wanita dari Aghlal, kelompok etnis Tuareg yang religius. Sankoré Quarter yang letaknya di timur laut Timbuktu menjadi tempat tinggal para ulama dan guru. Ditempat itu pula perpustakaan pertama dibangun. Cendekiawan dan raja memperoleh buku selama perjalanan mereka. Mereka juga dibeli buku dari pedagang yang datang dari utara. Sultan Mansa Musa sering kali membeli karya-karya hukum dalam Mazhab Maliki. Dia juga memerintahkan pembangunan Masjid Agung Timbuktu pada tahun 1326. Dilansir pada Regularizacao Fundiara Urbana Online, abad ke-14 hingga abad ke-16, Sankoré adalah pusat beasiswa Islam dalam matematika, sains dan filsafat, dan memiliki salah satu perpustakaan terbesar di dunia (dengan hingga 700.000 manuskrip). Universitas Sankoré mampu menampung 25.000 mahasiswa dan memiliki salah satu perpustakaan terbesar di dunia dengan sekitar 1.000.000 manuskrip.

Ketiga, Perpustakaan Universitas Al Azhar. Dilansir pada Republika Online, nama Perpustakaan Universitas Al Azhar adalah Dar al-‘Ilm (Negeri Berilmu). Penyelenggaraan Dar al-‘Ilm sesungguhnya telah berlangsung sejak era Khalifah al-Hakim dari Dinasti Fatimiyyah. Dia pula yang merintis kegiatan donasi, yang berupa ribuan buku dari rumah pribadinya untuk Dar al-‘Ilm. Perpustakaan tersebut dibuka untuk umum. Katalog bertahun 435 hijriah (1045 M) menunjukkan,  Dar al-’Ilm mengoleksi sebanyak 6.500 buku bertema astronomi, arsitektur, dan filsafat. Pada zaman pemerintahan Al-Muntasir (1036–1094), perkembangannya mulai begitu pesat. Ketika Dinasti Fatimiyyah runtuh, penggantinya hendak menjual semua warisan penguasa terdahulu itu, termasuk buku-buku di Dar al-‘Ilm. Al-Fadhil al-Basyani berhasil menyelamatkan banyak koleksi dari perpustakaan tersebut. Kadi Dinasti Ayyubiyah itu harus membeli kembali buku yang sempat terjual di pasaran. Semua upaya itu dilakukannya lantaran rasa cinta terhadap dunia literasi. Selain itu, al-Basyani juga berjasa menyumbang sekitar 100 ribu buku ke pelbagai madrasah Al-Fadhiliyah yang didirikannya. Pencinta buku lainnya di Kairo adalah Abdus Salam al-Qazwni. Koleksi pribadinya mencapai 40 ribu buku, yang di antaranya merupakan hasil pembeliannya dari istana Dinasti Fatimiyyah. Bahkan, sumber Abu Shama menyebut jumlah koleksinya mencapai dua juta buku.

Eksistensi Perpustakaan Perguruan Tinggi memainkan peran penting dalam peradaban Islam khususnya dalam pembentukan intelektual muslim. Jika dikilas balik kebelakang, inspirasi terbentuknya Perpustakaan Perguruan Tinggi sejatinya berasal dari Bayt El Hikmah yang dikenal dengan nama Rumah Kebajikan. Bayt El Hikmah mulanya adalah Perpustakaan Pribadi milik Khalifah Harun Ar Rasyid (766-809. Dimasa pemerintahan Al Ma’mun (813-833), koleksi Perpustakaan ini dilayankan kepada khalayak khususnya para ilmuan dari berbagai disiplin ilmu, etnik dan agama yang berdomisili di Baghdad yang kala itu sebagai “episentrum” ilmu dan pengetahuan. Bayt Al Hikmah lebih tepat dikatakan sebagai Perpustakaan Perguruan Tinggi terbesar yang menaungi para akademisi dari berbagai Universitas yang berada dalam wilayah kekuasaan Bani Abbasiyyah. Kekuasan Bani Abbasiyyah terbentang dari Afrika Utara sampai Punjab di Tanah Hindustan. Perpustakaan adalah ruang melahirkan ide-ide, tempat di mana sejarah menjadi hidup. Demikian kata Norman Cousin, wartawan kondang Amerika Serikat.

Sejak ultimatum invasi Rusia yang dimulai pada tanggal 24 Februari 2022 ke Ukraina, telah banyak menewaskan warga sipil dan tentara kedua belah pihak. Fasiltas umum dan bangunan milik warga Ukraina hancur akibat ekses serangan rudal tentara Rusia. Perpustakaan Nasional Ukraina juga menjadi target rudal yang nyasar. Tidak jelas kapan perang akan berakhir. Perundingan antara Rusia dan Ukraina masih berlangsung dan belum menemukan kata sepakat untuk menghentikan perang.

Terlepas dari fenomena yang ada perang hakikatnya menyisakan kegetiran dalam peradaban manusia. Perang selalu berepetisi dari zaman ke zaman dengan lakon yang berbeda. Serangan Mongol ke Baghdad pada 1258 oleh Hulagu Khan, menghancurkan Bayt Al Hikmah sebagai Pusat Peradaban Islam Era Bani Abbasiyyah. Semua koleksi Perpustakaan Bayt Al Hikmah di buang ke Sungai Eufrat. Sungai itu memerah karena tinta pada buku-buku tersebut larut di air. Demikian juga era reconquista yakni penaklukan kembali wilayah Andalusia oleh Kaum Kristen. Invasi Kerajaan Castile ke Cordoba pada 1236 ke Emirat Kordoba turut menghancurkan koleksi Perpustakaan Kordoba. Koleksi Perpustakaan tersebut dibakar untuk menghapuskan warisan budaya Bangsa Arab Muslim yang telah berkuasa sejak Abad ke 7 Masehi di Wilayah Andalusia. Pierre Currie, pemenang Nobel Fisika tahun 1903 memberikan apresiasi atas penemuan kaum muslim Andalusia dengan mengatakan, kami memiliki 30 buku peninggalan muslim Andalusia, sehingga kami bisa membelah atom. Jika setengah dari satu juta buku yang terbakar bisa bertahan, kita sudah melakukan perjalanan antar galaksi di luar angkasa.

Berdasarkan pernyataan tersebut dapat dikatakan bahwa informasi yang terdapat pada koleksi Perpustakaan Kordoba sangat berkualitas dan termasuk canggih dalam zamannya. Informasi dalam koleksi itu masih up to date dalam kajian atom. Ada bebarapa misteri atom yang belum terpecahkan ilmuan saat ini. Citra yang terlihat adalah tingginya peradaban Andalusia di masa lampau. Andalusia turut melahirkan ilmuan muslim seperti Ibnu Rusyd (Filsafat), Al Zahrawi (Kedokteran), Ibnu Arabi (Tasawuf), dan Al Zarqali (Astronomi).

Dibelahan bumi Barat dan Timur saat ini diliputi pro dan kontra antara memihak Rusia atau Ukraina. Aktivis perdamaian mancanegara masih tetap melancarkan protes atas invasi Rusia. Aksi damai dan rasa simpati serta solidaritas  bagi Pustakawan dan Masyarakat Ukraina juga disampaikan oleh Pustakawan di negara Nordik atau yang lebih dikenal dengan nama Skandinavia. Negara Skandinavia terdiri dari Finlandia, Swedia, Denmark, Norwegia dan Islandia.

Pustakawan Skandinavia memberikan pengumuman bersama terkait invasi Rusia ke Ukraina. Komunike yang dikeluarkan adalah sebagai berikut :

Pertama, Perpustakaan Nasional Nordik (Skandinavia) ingin mengungkapkan solidaritas kami dengan teman dan kolega kami di Ukraina yang terkepung. Hati dan pikiran kami bersama Anda dan rakyat Ukraina. Pentingnya akses warga negara terhadap informasi yang bebas dan tidak terdistorsi, terutama di masa perang dan krisis, tidak dilebih-lebihkan dalam hal pemberitaan. Perpustakaan memberikan dasar bagi akses publik ke pengetahuan dan memainkan peran penting dalam memerangi disinformasi. Oleh karena itu, mereka adalah bagian fundamental dan tak terpisahkan dari infrastruktur demokrasi masyarakat, yang sekarang sedang diserang di Ukraina. Perpustakaan juga merupakan penjaga  penting warisan budaya bangsa. Pentingnya sejarah secara khusus disorot di masa-masa sulit dan ini berbahaya ketika materi sumber fisik dan digital berisiko dihancurkan.

Kedua, Perpustakaan Nasional Nordik sangat khawatir dan mendukung Perpustakaan Nasional Ukraina dan rekan Ukraina kami dalam perjuangan mereka untuk melestarikan koleksi, untuk melanjutkan operasi mereka dan menentang agresi Rusia. Rusia telah meratifikasi UNESCO: 1954 Convention for the Protection of Cultural Property in the Event of Armed Conflict, Konvensi Den Haag 1954. Dengan demikian Rusia telah berkomitmen untuk melindungi Warisan Budaya.

Berdasarkan statemen yang ditandatangani oleh Cecilia af Forselles (Pustakawan Findlandia); Karin Grönvall (Pustakawan Swedia); Svend Larsen (Pustakawan Denmark); Aslak Sira Myhre (Pustakawan Norwegia) dan Ingibjörg Steinunn Sverrisdóttir (Pustakawan Islandia), dapat diketahui bahwa para pustakawan Skandinavia berharap agar selama invasi berlangsung, pustakawan Ukraina dapat memberikan informasi yang benar pada masyarakat Ukraina dan memerangi berita hoax yang meresahkan publik. Disamping itu juga pustakawan Skandinavia berharap kepada tentera Rusia agar berkomitmen mematuhi konvensi Denhaag yang melindungi warisan budaya. Dengan kata lain tentara Rusia diharapkan tidak menjadikan Perpustakaan Nasional Ukraina yang berada di jantung Kota Kiev sebagai target serangan dalam invasinya.

Dilansir dari situs Wikipedia Online, Perpustakaan Nasional Ukraina yang populer dengan nama The Vernadsky National Library of Ukraine. Perpustakaan Nasional Vernadsky Ukraina adalah perpustakaan terbesar dan didirikan pada tahun 1918 sebagai pusat informasi, penelitian, budaya dan penerbitan. Koleksinya berisi lebih dari 15 juta item. Koleksi unik ini meliputi buku, majalah, serial, peta, lembaran musik, bahan seni rupa, manuskrip, buku cetak langka dan incunabula, surat kabar, dan dokumen bahan non tradisional. Manuskrip tua dan langka yang termasuk "daftar buku Asyur-Babilonia" dari abad ke-3 SM juga tersedia di Perpustakaan Nasional Vernadsky Ukraina. Perpustakaan juga memiliki salah satu dari dua salinan yang ada yaitu buku "Sejarah Hewan" karya Aristoteles yang diterbitkan di Venesia pada tahun 1476. Perpustakaan ini memiliki koleksi tulisan Slavia terlengkap, arsip ilmuwan dan budayawan dunia dan Ukraina yang luar biasa. Koleksi milik Presiden Ukraina, salinan arsip dokumen cetak Ukraina dari tahun 1917, dan arsip Akademi Ilmu Pengetahuan Nasional Ukraina juga tersedia di Perpustakaan.

Masyarakat internasional berharap agar perang Rusia – Ukraina dapat segera berakhir. Semakin lama perang berkecamuk semakin besar potensi lenyapnya warisan budaya suatu bangsa termasuk warisan Bangsa Ukraina itu sendiri. Pat ujeun nyang hana pirang, pat prang nyang hana reda. Tiada hujan yang tak berhenti, tiada perang yang tak berakhir. Demikian yang disebutkan dalam Pepatah Aceh di masa lampau.

Halaman 1 dari 5