Iswadi Syahrial Nupin

Iswadi Syahrial Nupin

28 September 2022

Pagi yang cerah, angin sepoi basah meningkahi rimbunnya pepohonan. Beberapa pemotor melaju kencang di jalanan menuju Kampus Unand. Seakan tak ingin terlambat mengikuti perkuliahan yang dimulai pukul delapan. Tepat disisi kiri gerbang kampus terlihat baliho besar dengan ucapan selamat datang yang ditujukan kepada Prof.Katherine Holt dan Prof.Zanariah Abdullah yang bertugas sebagai assesor The Royal Society Chemistry (RSC).

Katherine B. Holt adalah seorang ahli kimia Inggris dan profesor di University College London. Beliau menjabat sebagai Wakil Dekan Pendidikan di Departemen Matematika dan Ilmu Fisika. Penelitiannya menyelidiki pengembangan elektroda berbasis karbon dan elektrokatalisis. Zanariah Abdullah adalah Profesor dari Universiti Malaya (UM). Beliau memiliki kepakaran dalam sintesis kimia organik. Disamping itu, beliau pernah menjabat sebagai ketua Jurusan Ilmu Kimia di UM (2020-2022).

The Royal Society Chemistry adalah Organisasi Internasional dari Inggris yang mengakreditasi program studi sarjana dan magister bidang kimia, baik di Inggris dan juga Internasional. Akreditasi Internasional RSC berlaku selama lima tahun. Yang akan diakreditasi adalah Prodi S1 (Strata Satu) Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pasti Alam (FMIPA) Unand. Keuntungan akreditasi RSC bagi Prodi S1 (Strata Satu) Kimia FMIPA Unand adalah meningkatnya reputasi program Studi S1 (Strata Satu) Kimia FMIPA Unand sebagai penyelenggara pendidikan ilmu kimia yang diakui internasional kualitasnya; meningkatkan prospek Prodi S1 (Strata Satu)  Kimia FMIPA Unand untuk mendapatkan pendanaan pemerintah dan perusahaan ; Prodi S1 (Strata Satu) Kimia FMIPA Unand memiliki akses jaringan internasional sebagai konsultan kimia RSC membantu pengembangan kurikulum yang berkaitan dengan ilmu Kimia dan akreditasi RSC dinilai oleh industri sebagai cara untuk mengidentifikasi lulusan yang memenuhi syarat yang sesuai sehingga meningkatkan akses alumni mendapatkan peluang kerja (rsc.org, 27 September 2022).

Sebagai pihak yang diasesi, Prodi S1 (Strata Satu) Kimia FMIPA Unand seyogianya bersiap-siap menghadapi pertanyaan-pertanyaan dari assesor yang berkenaan dengan proses belajar mengajar. Dalam borang akreditasi RSC, Perpustakaan sebagai unsur penunjang akademik dipertanyakan perannya oleh asessor. Sosialisasi akreditasi RSC yang dilaksanakan oleh pimpinan Prodi S1 (Strata Satu) Kimia FMIPA Unand kepada Leni Marsih sebagai tim ad hoc perwakilan UPT.Perpustakaan Unand pada akreditasi RSC pada hari Jumat 23 September 2022 dapat dikatakan langkah yang tepat. Adanya koordinasi ini sangat memudahkan Prodi S1 (Strata Satu) Kimia FMIPA Unand untuk mencapai nilai akreditasi yang maksimal.

Kesiapan akreditasi RSC tersebut juga dibahas melalui Rapat Koordinasi Terbatas yang berlangsung tanggal 28 September 2022. Dalam rapat ini diputuskan bahwa staf UPT.Perpustakaan Unand stand by di ruang layanan masing-masing. Hal ini untuk mengantisipasi “sidak” assesor ke ruang layanan UPT.Perpustakaan Unand. Disamping itu staf UPT.Perpustakaan Unand diharapkan dapat berkoordinasi dengan Mahasiswa S1 (Strata Satu) Kimia FMIPA Unand yang ditunjuk oleh pimpinan Prodi Strata Satu (S1) Kimia FMIPA Unand yang akan melayani pertanyaan dari assesor seputar dinamika belajar mengajar.

Namun demikian, apabila akreditasi Prodi Strata Satu (S1) Kimia FMIPA Unand berlangsung sukses seyogianya UPT.Perpustakaan Unand diberikan plakat atau piagam tertulis yang berisi ucapan terima kasih dari Prodi Strata Satu (S1) Kimia FMIPA Unand sebagai tanda partisipasi UPT.Perpustakaan Unand dalam pelaksanaan akreditasi. Piagam penghargaan ini bertujuan untuk meningkatkan citra atau nilai akreditasi UPT.Perpustakaan Unand yang akan berlangsung tahun depan. Walaupun piagam penghargaan yang diperoleh UPT.Perpustakaan Unand tidak terdapat itemnya dalam akreditasi, akan tetapi melalui piagam ini assesor memahami bahwa UPT.Perpustakaan Unand berperan vital menyukseskan akreditasi Prodi di Universitas Andalas baik nasional mau pun internasional. Selayaknya perlu direnungkan quote Mahatma Gandhi, aktivis politik non kekerasan asal India. Relationships are based on four principles: respect, understanding, acceptance and appreciation. Hubungan itu didasarkan pada empat prinsip: rasa hormat, pengertian, penerimaan, dan penghargaan.

                                                                  Iswadi Syahrial Nupin

                                 Penulis Naskah Terbaik Inkubator Literasi Pustaka Nasional 2022

26 September 2022

Sebagaimana yang telah diketahui bahwa status Unand telah menjadi Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTNBH) paska ditetapkan melalui Peraturan Pemerintah (PP) 95 Tahun 2021 tentang PTNBH Unand.  Didalam PP tersebut dijelaskan secara gamblang tentang Pegawai Non PNS yang bekerja di Unand. Menurut Pasal 64 Paragraf 5 Ketenagaan disebutkan bahwa (1) Pegawai Unand terdiri atas Dosen dan Tenaga Kependidikan. (2) Pegawai yang dimaksud pada ayat (1) terdiri atas : a. Pegawai negeri sipil b.non pegawai negeri sipil (3) Hak dan kewajiban pegawai Unand non pegawai negeri sipil disetarakan dengan hak dan kewajiban pegawai Unand pegawai negeri sipil ..... dan seterusnya. Dari pernyataan tersebut jelas bahwa Pegawai Non PNS Unand memiliki hak disamping gaji yakni remunerasi dan tunjangan lain sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Unand. Pegawai Non PNS juga memiliki kewajiban yang sama dengan PNS di lingkungan Unand khususnya dalam melaksanakan tugas pokok organisasi (tupoksi) sesuai dengan pelayanan prima.

Pegawai Non PNS memiliki peran dan konstrubusi penting dalam meyukseskan kegiatan yang dilaksanakan oleh institusi yang menaunginya. Peran yang mereka lakukan adalah melaksanakan kegiatan yang telah ditentukan pada unit kerja sesuai tugas pokok organisasi. Konstribusinya dapat dilihat dari ide, gagasan dan pemikiran yang mereka sumbangkan pada organisasi baik lisan maupun tulisan.

Sebagai informasi, pegawai Unand yang bekerja di UPT.Perpustakaan Unand baik yang berstatus pustakawan dan non pustakawan sejak 2015 sampai 2022 telah berkurang sebanyak 20 orang. Apabila dilakukan analisis berdasarkan realita diatas dapat dijelaskan bahwa hampir sebanyak total staf UPT.Perpustakaan Unand yang ada saat ini telah resign , artinya jika dihitung dari bobot kerja yang dilakukan maka, setiap 1 orang mengerjakan pekerjaan 2 orang, bahkan ada yang mengerjakan pekerjaan 3 atau 4 orang.

Kondisi realita saat ini mengharuskan Staf UPT.Perpustakaan Unand baik PNS dan Pegawai Non PNS Unand menghandle pekerjaan staf yang resign. Ini merupakan beban yang sangat berat mengingat ada tuntutan yang sangat urgent agar UPT.Perpustakaan Unand mampu mempertahankan nilai A dalam akreditasi yang dilakukan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI) dan meningkatkan status sebagai Kontributor terbaik 4 menjadi kontributor terbaik 1 dalam Indonesian One Search. Kurangnya jumlah staf UPT.Perpustakaan Unand berdampak pada tidak fokusnya staf terhadap pekerjaan yang ditugaskan karena menghandle pekerjaan yang seyogianya dilakukan oleh 3 atau 4 orang.

Kondisi UPT.Perpustakaan Unand yang kekurangan staf membuat Pegawai Non PNS mesti mengerjakan pekerjaan yang ditinggalkan oleh Eks. Tendik Perpustakaan, khususnya dibidang Layanan Automasi. Pekerjaan bidang automasi yang dihandle mencakup pekerjaan multimedia, pengolahan data, digitalisasi, koleksi perpustakaan digital, pengelolaan website dan pengembangan bidang layanan.

Berkaitan capaian kinerja Pegawai Non PNS UPT.Perpustakaan Unand secara umum dapat dikatakan  baik. Ini dibuktikan dengan dicapainya akreditasi A ditahun 2015, dan mempertahankan nilai A pada re-akreditasi UPT.Perpustakaan Unand yang diselenggarakan tahun 2018, dimana Pegawai Non PNS dilibatkan dalam tim akreditasi Perpustakaan. Disamping itu juga ikut menaikan pemeringkatan UPT.Perpustakaan Unand sebagai kontributor repository terbaik 4 dalam Anugerah Indonesia One Search 2021 dengan nama Nugra Jasadharma Pustakaloka.

Berdasarkan pengamatan dan penelitian penulis, Sebagai Contoh : salah satu Tendik NON PNS Berprestasi yang dimiliki Perpustakaan Universitas Andalas adalah dari Bagian Layanan Automasi yaitu saudara Beni Adri Yassin, S.Kom. Beliau adalah seorang sarjana Komputer yang memiliki peran dan kontribusi yang sangat besar bagi perpustakaan Universitas Andalas. Beliau bergabung dengan pustaka unand pada maret 2015 hingga sekarang. Beliau mengambil jurusan D3 Teknik Komputer di Politeknik Negeri Padang pada tahun 2011 hingga 2014, dan melanjutkan studi Strata 1 di STMIK Indonesia pada tahun 2016 hingga 2018.

Diantara Prestasi Saudara Beni Adri Yassin, S.Kom selama berkiprah di UPT Perpustakaan Universitas Andalas adalah :

  1. TIM Penyusunan Borang Akreditasi yang Membawa UPT Perpustakaan Meraih Akreditasi A Pada Desember 2015
  2. Peserta Terbaik 1, Lomba Mengasah Tingkat Kefokusan dan Lomba Kekompakan TIM dalam Kegiatan Outbound Perpustakaan Tahun 2016
  3. TIM Penyusun Borang Re-Akreditasi dan Membawa UPT Perpustakaan Mempertahankan Akreditasi A, pada November 2018.
  4. Pustakawan Terbaik 1 Tahun 2019 dalam acara Dies Natalis Universitas Andalas.
  5. Menerbitkan sebuah buku yang berjudul Antologi Kepustakawanan Era Disrupsi, dll.

Jika dilakukan penelitian dengan cermat, kinerja dan prestasi tenaga Non PNS secara keseluruhan dilingkungan UPT Perpustakaan Unand sangat besar terhadap kesuksesan dan perkembangan perpustakaan, bahkan jika dilakukan perbandingan dari sisi kemampuan bekerja dan potensi keahlian, pegawai Non PNS sangatlah potensial. Tidak tertutup kemungkinan juga jika diamati pada bidang dan unit lain dilingkungan Unand, bahwasannya kinerja yang diberikan oleh tenaga Non PNS sangatlah besar. Perlu adanya peningkatan Salary yang layak, Reward, tunjangan kinerja serta Beasiswa kejenjang pendidikan yang lebih tinggi, atas kontribusi yang diberikan.

Decision maker seyogianya mengapresiasi andil yang dilakukan oleh Tendik Non PNS di Perpustakaan Unand maupun dilingkungan fakultas Universitas Andalas.. Non est ad astra mollis e terris via, tidak ada jalan yang mudah dari bumi menuju bintang (Seneca, Filsuf Yunani Kuno).

08 September 2022

            Setiap tahun para pegiat literasi dan pustakawan selalu memperingati Hari Literasi Internasional. Hari Literasi Internasional (International Literacy Day) atau Hari Aksara Internasional diperingati pada 8 September setiap tahun. UNESCO (United Nations Educational Scientific and Cultural Organization) telah memperingati Hari Literasi sejak 1967.

Tema peringatan hari literasi internasional kali ini adalah Transforming Literacy Learning Spaces. Peringatan ini akan menjadi kesempatan untuk memikirkan kembali pentingnya ruang belajar literasi untuk membangun ketahanan dan memastikan pendidikan yang berkualitas, adil, dan inklusif untuk semua. Kegiatan Hari Literasi Internasional ke 55  dipusatkan di Yaumosukro, Pantai Gading yang diselenggarakan pada 8 s.d 9 September 2022. Kegiatan ini dilaksanakan secara online dan offline. Perayaan Hari Literasi Internasional 2022 memberikan penghargaan Hadiah Literasi Internasional UNESCO kepada pegiat literasi di seluruh dunia.

Bicara literasi tentu membahas tentang kemampuan individu dalam memahami informasi saat melakukan proses membaca dan menulis. Dalam perkembangannya, definisi literasi selalu berevolusi sesuai dengan tantangan zaman. Jika dulu definisi literasi adalah kemampuan membaca dan menulis. Saat ini, istilah Literasi sudah mulai digunakan dalam arti yang lebih luas. Dan sudah merambah pada praktik kultural yang berkaitan dengan persoalan sosial dan politik serta kebudayaan yang bermuara pada local wisdom. UNESCO mendefinisikan literasi sebagai seperangkat keterampilan nyata, terutama keterampilan dalam membaca dan menulis yang terlepas dari konteks yang mana keterampilan itu diperoleh serta siapa yang memperolehnya.

            Kegiatan peningkatan kemampuan literasi masyarakat telah dilaksanakan oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI) dan juga perpustakaan lain di seluruh Kabupaten / Kota di Indonesia. Kegiatan memberikan pelatihan dan pengetahuan tentang literasi digelar terus menerus sejak pandemi Covid 19. Dengan mengangkat jargon transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial, PNRI dan Perpustakaan Provinsi serta Kabupaten/Kota berkomitmen dan serius peningkatan kapasitas dan kualitas SDM Perpustakaan dan masyarakat daerah terpencil dan tertinggal. Dalam kegiatan kongres International Federation of Library Associations and Institutions (IFLA) yang jamak disebut World Library and Information Congress (WLIC) ke-87 pada 26-29 Juli 2022 di Dublin, Irlandia dengan mengusung tema dengan tema Inspire, Engage, Enable, Connect (Perpusnas.go.id, 27 Juli 2022).

Di sela-sela WLIC 2022 diadakan pula pertemuan antara Kepala Perpustakaan se dunia dalam Conference of Director of National Libraries (CDNL). Pertemuan tersebut bertujuan untuk saling mengenalkan para pimpinan perpustakaan dan membahas isu-isu menarik bidang perpustakaan, kepustakawanan, sosial, dan budaya. Sesi ini dibagi dalam beberapa grup, dan para Kepala Perpustakaan saling bertukar cerita mengenai perpustakaan di negara masing-masing.

Kepala PNRI berkisah tentang keberhasilan program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial yang merupakan upaya penguatan literasi melalui pemberdayaan masyarakat untuk peningkatan kesejahteraan. “Kepala Perpustakaan Nasional Prancis, Polandia, dan Bosnia Herzegovina. memberikan apresiasi yang luar biasa dan atas program-program yang telah dilakukan dan dicapai oleh PNRI,” urainya.

Dilansir dari situs Katadata Online, Katadata Insight Center (KIC) dan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) melakukan survei tentang literasi digital Indonesia pada 2021. Hasilnya, indeks literasi digital Indonesia berada di level 3,49 pada 2021. Angka tersebut menempatkan indeks literasi digital Indonesia masih berada dalam kategori sedang dengan skala skor indeks 0-5. Terdapat empat pilar yang menjadi komponen dalam penghitungan indeks literasi digital tersebut. Digital Culture memperoleh skor tertinggi, yakni sebesar 3,9. Diikuti Digital Ethics dengan skor 3,55, kemudian Digital Skills dengan skor 3,44, dan terendah, Digital Safety dengan skor 3,1.

Literasi Indonesia yang berstatus kategori sedang tersebut dapat ditingkatkan menjadi lebih baik lagi. Salah satu cara yakni memberdayakan Pustakawan Perguruan Tinggi agar turun ke bawah melakukan pengabdian kepada masyarakat. Pustakawan Perguruan Tinggi seperti Pustakawan Universitas Andalas (Unand) seyogianya diberikan ruang untuk berkiprah melakukan transfer pengetahuan kepada masyarakat nagari. Bukan zamannya lagi Pustakawan Unand berada dibelakang tumpukan buku seperti dekade 70an. Zaman telah berubah Pustakawan Unand harus menjadi agen perubahan dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat nagari dengan program Librarian Goes To Nagari.

Tentunya kegiatan Librarian Goes To Nagari ini akan dapat diejawantahkan apabila Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat (LPM) Unand melakukan kerjasama dengan UPT.Perpustakaan Unand yang didasari akan kesadaran bahwa peningkatan indeks literasi nasional adalah tanggung jawab bersama sebagai anak bangsa. Kebijakan pengabdian kepada masyarakat tentunya berpulang kepada pemangku kepentingan. Unand sebagai Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTNBH) memiliki otoritas penuh untuk memberdayakan Pustakawan dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Selayaknya kita renungkan kembali pesan Koffi Anan, Mantan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (1997-2006). Literacy is a bridge from misery to hope. Literasi adalah jembatan dari kesengsaraan menuju harapan.

 

                                                            Iswadi Syahrial Nupin, S.Sos; M.M

                                        Ketua Kelompok Pustakawan Universitas Andalas 2022-2025

24 Jun 2022

Era kekinian menuntut seseorang untuk bekerja lebih giat dalam memenuhi kebutuhan fisiologis. Beban dan tanggung jawab kerja mengharuskan seseorang agar senantiasa meningkatkan kinerja semakin meningkat dan serius menyukseskan visi dan misi organisasi. Pustakawan Perguruan Tinggi memiliki peranan penting dalam menyukseskan visi dan misi organisasi yang menaunginya. Pustakawan Universitas Andalas (Unand) misalnya seyogianya berusaha untuk menyukseskan visi dan misi Unand yaitu Menjadi Universitas Terkemuka dan Bermartabat pada Tahun 2028. Misi Unand yakni :

  1. Menyelenggarakan pendidikan akademik dan profesi yang berkualitas, berkarakter serta berkesinambungan;
  2. Menyelenggarakan penelitian dasar dan terapan yang inovatif untuk menunjang pembangunan dan pengembangan IPTEK serta meningkatkan publikasi ilmiah dan HAKI;
  3. Mendharmabaktikan IPTEK yang dikuasai kepada masyarakat;
  4. Menjalin jaringan kerjasama yang produktif dan berkelanjutan dengan kelembagaan pendidikan, pemerintahan dan dunia usaha di tingkat daerah, nasional dan internasional;
  5. Mengembangkan organisasi dalam meningkatkan kualitas tata kelola yang baik (good university governance) sehingga mampu beradaptasi dengan perubahan lingkungan strategis;
  6. Mengembangkan usaha-usaha, baik dalam bidang pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat serta usaha lainnya yang berkaitan dengan core bisnis Unand yang dapat meningkatkan revenue.

Visi dan Misi Unand merupakan tanggung jawab seluruh sivitas akademika termasuk pustakawan yang juga tenaga kependidikan di Unand. UPT. Perpustakaan Unand sebagai unsur penunjang atau sumber belajar tetap memiliki tanggung jawab untuk menyukseskan proses belajar mengajar sehingga tercipta insan akademiki (baca:sarjana, magister dan doktor) yang mumpuni dalam bidangnya.

Beban dan tanggung jawab kerja yang berat tersebut terkadang “menjebak” Pustakawan sehingga merasa “paling” bertanggung jawab agar Unand sukses dan rankingnya dalam Webometrics. Beban kerja Pustakawan Unand yang meningkat ditunjukkan oleh job description yang rangkap mereka kerjakan. Hal ini dikarenakan Pustakawan Senior telah banyak yang pensiun (retirement) dan tidak adanya rekruitmen pustakawan untuk “menghandle” pekerjaan yang mereka tinggalkan. Apabila pustakawan tidak memiliki manajemen waktu kelamaan dapat pula pustakawan tersebut menjadi workaholic.

Dilansir dari wikipedia.com, adalah suatu kondisi dari seseorang yang mementingkan pekerjaan secara berlebihan dan melalaikan aspek kehidupan yang lain. Workaholic mempunyai kecanduan yang tidak sehat, dalam hal ini adalah kecanduan kerja, mengejar karier dan menganggap mereka adalah satu-satunya yang bisa mengerjakan pekerjaan dengan benar. Workaholic biasa disematkan kepada mereka yang menggilai sebuah pekerjaan. Setiap wilayah ataupun negara sudah pasti memiliki angkatan karyawan yang gila bekerja.

Berdasarkan data statistik yang mereka dapatkan dari Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan, penduduk Jepang, Kanada dan Meksiko disebut sebagai negara yang memiliki jam kerja minimal setengah jam lebih lama dari jam kerja standar yang dikeluarkan Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan setiap harinya, yakni 8,1 jam. Meksiko menduduki peringkat paling teratas dimana penduduknya rata-rata memiliki total jam kerja hampir 10 jam per hari. Meski begitu, negara ini juga memiliki rata-rata tingkat pekerjaan yang tidak dibayar, yakni sekitar 4,2 jam. Sementara itu, penduduk di negara Eropa disebut menjadi yang sebaliknya. Mereka memiliki jam kerja yang paling sedikit dibandingkan negara lainnya, khususnya penduduk Belgia yang rata-rata hanya bekerja maksimal 7,1 jam setiap hari.

Banyak orang kurang sepakat akan definisi workaholic atau gila kerja. Ada yang menyebutkan, workaholic itu muncul dikarenakan orang tersebut mencintai pekerjaannya, sehingga bersedia mengorbankan seluruh waktunya untuk pekerjaan itu. Tetapi, menurut Dr Randall S. Hansen, edukator dan penulis buku seputar motivasi, di masa sekarang workaholic bukan hanya sebatas rasa cinta terhadap pekerjaan. "Ini juga berkaitan dengan tuntutan finansial, sosial, dan juga teknologi. Tuntutan finansial membuat harus menghasilkan banyak uang untuk kebutuhan hidup, sehingga bisa jadi akan melakukan segala jenis pekerjaan dan mengorbankan waktu istirahat. Sementara tuntutan sosial lebih berkaitan pada budaya kerja masyarakat atau negara tertentu. Sedangkan tuntutan teknologi sedikit-banyak dipengaruhi oleh adanya e-mail, blackberry, hingga fasilitas lainnya. Otomatis, Anda tidak bisa beristirahat meskipun sudah di rumah," jelas Hansen.

Apabila seorang Pustakawan menjadi workaholic, akibatnya bisa berdampak buruk terhadap hidupnya. Misalnya saja, mudah stres dan frekuensi pertemuan dengan keluarga juga jadi berkurang. Survei yang dilakukan di Amerika Serikat memperlihatkan, 40 persen pekerja malah tidak ingin mengambil kesempatan untuk berlibur, karena takut ketinggalan pekerjaan saat kembali bekerja lagi. Padahal, liburan juga penting untuk menyeimbangkan kondisi pikiran dan jiwa seseorang. Ciri-ciri seseorang pengidap workaholic yaitu memiliki prinsip pekerjaan adalah prioritas utama, stres jika tidak bisa bekerja, mudah sakit, menjadikan kerja sebagai pelarian, tidak punya waktu untuk kehidupan pribadi (work-life balance), dan tak menyadari bahwa yang bersangkutan mengidap workaholic.

Workaholic berbeda dengan pekerja keras (hardworker). Hardworker memiliki motivasi ingin berkontribusi secara maksimal dalam pekerjaannya, namun tetap menyisihkan waktu untuk kehidupan sosial. Misalnya, pekerja keras masih mau diajak main futsal atau bersepeda santai setelah jam kerja bersama rekan-rekan pada hari tertentu. Kadang kala masih menyisihkan waktu hari Minggu untuk bersantai bersama keluarga ke pantai atau ke pegunungan.

Orang yang bekerja keras memang asyik dengan pekerjaannya, namun keasyikannya itu sangat alasan yakni untuk merealisasikan target-target yang dinamis. Siapapun yang membaca riwayat hidup Thomas Alva Edison, sang penemu listrik, akan menyimpulkan beliau sebagai pekerja keras. Kegiatan rutin beliau adalah membaca, bereksperimentasi, bertemu dengan orang lain, dan lain-lain. Nasihat Thomas Alva Edison yang sangat tepat di sini adalah: "Jangan hanya menenggelamkan diri pada kesibukan tetapi lupa menanyakan tujuan dari kesibukan itu." Pekerja keras akan menetapkan batas pada pekerjaan sehingga masih memiliki relasi dengan keluarga dan teman, serta melakukan aktivitas rekreasi. Disamping itu, pekerja keras dapat mengendalikan dirinya untuk tetap tenang dan mampu mengalihkan pikirannya pada hal-hal yang menyenangkan selain pekerjaannya.

Bila dilihat dari narasi diatas dimanakah posisi Pustakawan Unand?  Pustakawan Unand dapat diposisikan sebagai pekerja keras. Realitanya, Pustakawan Unand umumnya mengambil cuti tahunan setiap tahun. Meskipun Pustakawan Unand memiliki jiwa altruisme dalam melayani pemustaka namun Pustakawan Unand bukanlah workaholic. Perilaku workaholic biasanya diidap oleh buruh pabrik karena bos perusahaan menekankan target produksi tertentu sehingga apabila target perusahaan tidak terpenuhi maka yang bersangkutan akan terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Demikian pula halnya dengan pemilik toko grosir yang memiliki pelanggan yang banyak. Adakalanya pemilik toko tersebut enggan menutup tokonya untuk sekedar berlibur akhir tahun menuju destinasi wisata yang viral di media sosial. Padahal tempat wisata yang dituju tidak begitu jauh dan tak sampai menguras isi dompetnya. The world is a book, and those who do not travel read only one page. Dunia adalah sebuah buku dan mereka tidak bepergian hanya karena membaca satu halaman. Demikian quote Saint Augustine, sang filosof Romawi Barat Abad ke 3 Masehi.