11 April 2022

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman : “Aku tidaklah menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyaat [51]: 56)

Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul-(Nya), maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, (yaitu) para Nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shalih. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baik-nya.” [An-Nisaa’/4 : 69]

Dikutip dari halaman artikel muslim.or.id tentang pengertian tauhid, bahwasannya Makna tauhid secara bahasa arab merupakan bentuk masdar dari fi’il wahhada-yuwahhidu (dengan huruf ha di tasydid), yang artinya menjadikan sesuatu satu saja.

Tauhid Al Asma’ was Sifat adalah mentauhidkan Allah Ta’ala dalam penetapan nama dan sifat Allah, yaitu sesuai dengan yang Ia tetapkan bagi diri-Nya dalam Al Qur’an dan Hadits Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. Dalam daftar sifat-sifat dan nama Allah terdapat 2 sifat yang sering disebutkan dalam Al-quran yaitu yaitu Al Bashir yang berarti Maha Melihat dan As Sami yang berarti Maha Mendengar.

Tauhid dalam kehidupan seorang muslim seperti pondasi dalam bangunan. Apabila bangunan itu memiliki pondasi yang kuat, maka rumah yang dibangun diatas pondasi tersebut akan kuat, begitu juga tauhid. Tauhid adalah pondasi dalam agama Islam. Apabila tauhid seorang muslim kuat dan mengakar didalam dirinya, maka insyaa Allah nilai-nilai tauhid dan implementasinya akan terlihat dalam kehidupannya.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin berkata: “Sesungguhnya ilmu tauhid adalah ilmu yang paling mulia dan paling agung kedudukannya. Setiap muslim wajib mempelajari, mengetahui, dan memahami ilmu tersebut, karena merupakan ilmu tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala, tentang nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, dan hak-hak-Nya atas hamba-Nya” (Syarh Ushulil Iman, 4).

Seorang muslim yang bertauhid tentu akan mengimplementasikan nilai-nilai tauhid dalam setiap pekerjaan yang dilakukannya. Untuk mengukur Tauhid dalam diri seorang muslim, maka dapat dilihat dari aspek berikut :

1. Selalu merasa dalam pengawasan Allah Subhanahu Wata’ala

Menjadikan pengawasan Allah Subhanahu Wata’ala dalam setiap pergerakan, pekerjaan, perkataan dan perbuatan merupakan langkah yang tepat. Dalam pekerjaan sehari-hari terkadang seseorang bekerja tanpa pengawasan atasan langsung, ataupun terluput dari pengetahuan manusia tentang pekerjaannya.

Tidak semua orang mengetahui apa saja yang kita lakukan dalam bekerja, akan tetapi Allah Subhanahu Wata’ala Maha Melihat akan hal tersebut. Orang yang sudah tertanam didalam hatinya tentang pengawasan Allah, dia tidak akan keluar dari koridor syariat yang ada, sehingga keseharian pekerjaannya mencerminkan nilai-nilai tauhid dalam dirinya.

2. Menjadikan kejujuran sebagai tolak ukur integritas

Banyak hal yang bisa dilakukan didalam pekerjaan entah itu benar-benar terjadi, atau hanya sekedar rekayasa belaka. Contoh kasus : seorang pegawai diminta membuat laporan keuangan tahunan. Pegawai yang bertauhid akan memberikan laporan yang sesuai tanpa ada modifikasi didalamnya. Hal tersebut dilakukan karna memposisikan dirinya sebagai hamba yang selalu dalam pengawasan Allah Subhanahu Wata’ala dan rasa takut tersebut juga dibarengi dengan keimanan terhadap hari pembalasan. Dalam rukun iman pada poin kelima yang berbunyi beriman kepada hari akhir, yaitu meyakini dengan sepenuh hati bahwa setiap amal Pekerjaan dan perbuatan yang dilakukan selama hidup didunia akan dipertanggungjawabkan kelak di hari akhir.

3.Tidak mementingkan pandangan orang lain terhadap pekerjaannya

Sebagian orang menjadikan kinerja dan integritasnya dalam bekerja terpaku pada penilaian dan pengawasan orang lain. Biasanya pekerjaan yang dilakukan ingin dilihat dan diapresiasi oleh orang lain. Apabila tidak ada orang yang melihat, maka dia mengerjakan pekerjaan dengan malas-malasan, apabila ada atasan yang melihat baru tampak keseriusannya dalam bekerja. Menanamkan tauhid dalam diri adalah sebuah ketenangan yang haqiqi. Tak peduli orang mau berkata apa dan menilai apa, yang terpenting adalah bagaimana penilaian Allah terhadap pekerjaannya.

4. Mentaati aturan yang diberikan

Seorang pegawai sejatinya mesti menjadikan aturan yang dibuat oleh perusahaan/kantor tempat dia bekerja untuk ditaati. Bentuk keteladanan dan pemahaman tauhid yang ditanamkan didalam diri adalah dengan mentaati aturan yang telah dibuat oleh perusahaan. Sebagian kaum muslimin menjadikan jabatan dan kedudukan sebagai ajang untuk merencanakan program-program yang melanggar syariat islam : seperti membuat pengadaan-pengadaan yang sebenarnya tidak terlalu penting, namun diadakan dalam rangka ada kepentingan lain yang pastinya Allah maha mengetahui akan hal tersebut.

5. Bersemangat dan loyalitas dalam bekerja

Bekerja merupakan bagian dari ibadah dalam pandangan agama islam. Tentunya tempat bekerja, apa yang dikerjakan dan hasil yang dikerjakan mesti halal dan sesuai dengan kaidah-kaidah syariat islam. Allah subhanahu Wata’ala sangat mencintai orang yang pandai, loyalitas dan sungguh-sungguh dalam bekerja. Bekerja dengan tujuan untuk menafkahi diri sendiri ataupun keluarga dalam rangka menjauhkan diri dari minta-minta terhadap orang lain merupakan kewajiban bagi setiap muslim, dan mesti diniatkan karna Allah. Menampakkan loyalitas dan semangat adalah ciri-ciri pengamalan tauhid yang nyata. Meskipun terkadang lingkungan tidak mendukung, maka tetaplah bersemangat dan loyalitas dalam bekerja, karna semuanya jika diniatkan karna Allah, akan bernilai pahala yang besar dan menjadi kebahagiaan tersendiri bagi orang yang mengamalkannya.

Tulisan ini merupakan nasehat dan pengingat bagi penulis maupun saudara sesama muslim dimanapun berada. Terkadang sebagian orang dia mengaku islam namun tak tampak nilai-nilai keislaman tersebut dalam pekerjaan kesehariannya, bahkan tak jarang bila sebuah tipudaya, laporan palsu, ataupun pelanggaran syariat lainnya menjadi biasa dilingkungan pekerjaan kaum muslimin. Sekiranya tauhid tidak mengakar dalam diri seorang hamba, tentulah manusia akan berbuat sesukanya, tidak merasa diawasi dan hanya takut terhadap pengawasan dan penilaian manusia, sementara apa yang dilakukan oleh setiap hamba tidak pernah terlepas dalam pengawasan Allah Subhanahu Wata’ala dan akan dipertanggungjawabkan kelak di hari kiamat.

30 Maret 2022

Pada Tanggal 30 Maret 2022 telah berlangsung Rapat Evauasi Pekan Library 2022. Rapat berlangsung alot karena dalam pelaksanaan Pekan Library 2022 telah terjadi miskomunikasi, mispersepsi dan miskoordinasi. Ketua Panitia Pelaksana, Iswadi Syahrial Nupin, telah meminta maaf kepada seluruh panitia yang berkesempatan hadir pada rapat tersebut. Kritik dan saran dari peserta Rapar Evaluasi Pekan Library 2022 diterima dengan lapang dada. Ke depan, Iswadi Syahrial Nupin berharap agar kegiatan ini menjadi event tetap di UPT.Perpustakaan Unand. Disamping itu juga beliau berharap segala kelemahan yang ada menjadi pelajaran ke depan agar event yang diselenggarakan menjadi lebih baik di masa mendatang. Bapak Yasir, Kepala Perpustakaan Unand menyebutkan bahwa ada kelemahan didalam event ini namun secara keseluruhan kegiatan ini terlaksana dengan baik.

Setelah selesai pembahasan Rapat Evaluasi Pekan Library Unand 2022, kemudian dilanjutkan dengan membicarakan tentang acara buka puasa bersama. Ide ini berawal dari Bapak Andi Saputra, Sub Koordinator Perpustakaan. Ada yang mengusulkan acara berbuka puasa ini di hotel atau di rumah makan yang bonafide di Kota Padang. Oleh karena itu, Yudelna, Kabid Tata Usaha Perpustakaan diminta untuk melakukan survei lokasi. Acara ditutup dengan saling maaf memaafkan. Semoga Ramadhan 1443 H membawa berkah bagi seluruh staf UPT.Perpustakaan Unand.

05 April 2022

Pada tanggal 7 Februari 2022 Mahasiswa Prodi Ilmu Perpustakaan Islam UIN Imam Bondjol melaksanakan PKL di UPT.Perpustakaan Universitas Andalas (Unand). Mahasiswa yang melaksanakan PKL berjumlah dua orang. Kedua mahasiswa tersebut bernama Taufiq Qurrahman dan Zul Akmal. Untuk memperlancar kegiatan PKL maka ditunjuk seorang Pamong PKL. Pamong PKL tersebut bernama Iswadi Syahrial Nupin yang menjabat sebagai Kepala Bidang Automasi UPT.Perpustakaan Unand. Nilai PKL mendapatkan predikat sangat memuaskan. Mahasiswa tersebut aktif dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh UPT.Perpustakaan Unand termasuk sebagai Panitia Ad-hoc pada Pekan Library 2022.

Mahasiswa Prodi Ilmu Perpustakaan Islam UIN Imam Bondjol tersebut dijeput oleh Dosen Pembimbing PKL yang bernama Ibu Indah Fitri. Dalam kesempatan tersebut Bapak Yasir yang menjabat sebagai Kepala UPT.Perpustakaan Unand menjelaskan bahwa Mahasiswa PKL telah bekerja dengan baik pada unit-unit yang ada di Perpustakaan. Disela-sela perbincangan yang hangat juga disinggung tentang kejayaan Perpustakaan Islam di Era Bani Abbasiyyah yang bernama Baitul Hikmah (Rumah Kebajikan). Bapak Andi Saputra sebagai Sub Koordinator Perpustakaan berharap agar para Mahasiswa dapat melakukan penelitian di UPT.Perpustakaan Unand karena masih banyak hal yang perlu diteliti terutama tentang hibah buku yang dilaksanakan oleh UPT.Perpustakaan Unand dalam Pekan Library 2022.

23 Maret 2022

Pada Hari Rabu 23 Maret 2022 telah dilaksanakan Pembukaan Pekan Library 2022 . Acara dibuka oleh Bapak Prof.Dr.Mansyurdin, M.S, Wakil Rektor I Unand.  Kedatangan Bapak Wakil Rektor I Unand didampingi oleh Bapak Kepala Biro Akademik dan Kemahasiswaan, Drs. Imrizal, MM. Pembukaan Pekan Library 2022 melibatkan pihak Gramedia Pustaka Utama dan FPPTI (Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia). Dalam sambutannya Bapak Prof.Dr.Mansyurdin, M.S menjelaskan perlunya UPT.Perpustakaan Unand dalam berlangganan Jurnal Online seperti Science Direct. Penyediaan e-book di UPT.Perpustakaan Unand juga perlu dilakukan karena e-book sangat bermanfaat sebagai referensi bagi peneliti. Agenda acara Hari Rabu 23 Maret 2022 adalah Workshop Literasi Informasi, Sosialisasi Smart Library yang disampaikan oleh pihak Gramedia Pustaka Utama serta Intermezzo Digitalisasi Grey Collection.

Acara Workshop Literasi Informasi yang dihadiri oleh Pustakawan Sekolah, Perguruan Tinggi dan Pegiat Literasi se Sumatera Barat berlangsung sangat menarik. Narasumber Acara adalah Zulfitri Durin, S.Ag; M.Ag dan Andi Saputra, S.Kom., M.Kom. Acara diwarnai dengan diskusi dan tanya jawab antara peserta dengan nara sumber. Yang bertanya diberi hadiah sepantasnya oleh narasumber. Acara selanjutnya adalag Sosialisasi Smart Library yang tak kalah menariknya. Tim Gramedia Pustaka Utama juga memaparkan perlunya pengadaan Smart Library di Perpustakaan karena e-book lebih simple dan digemari oleh generasi milenial.

Acara terakhir adalah Intermezzo Digitalisasi Grey Collection. Gray Collection adalah koleksi abu-abu yang mencakup skripsi, tesis dan disertasi. Koleksi ini seyogianya didigitalisasi atau ditransmediakan agar mudah merawatnya. Beni Adri Yasin, S.Kom sebagai narasumber dan Meysi sebagai Penyaji. Narasumber menjelaskan secara detail proses digitalisasi yang berawal dari pemotongan punggung tesis