Iswadi Syahrial Nupin

Iswadi Syahrial Nupin

28 Februari 2022

Tahun 2020 adalah salah satu tahun yang memiliki peristiwa luar biasa dibanding tahun sebelumnya. Peristiwa luar biasa yang dimaksud yakni munculnya coronavirus disease yang dikenal dengan Covid 19. Virus Covid 19 telah menjangkiti banyak orang sejak kemunculannya di Wuhan, Republik Rakyat Cina. Keberadaan virus Covid 19 telah mengubah tatanan kehidupan yang ada. Kegiatan yang seyogianya dilaksanakan seperti studi banding ke Perpustakaan Perguruan Tinggi terpaksa mengalami penundaan sampai batas waktu yang tak dapat ditentukan. Selama pandemi berlangsung telah terjadi kejenuhan dalam bekerja yang dialami oleh Pustakawan. Apalagi ketika adanya penerapan kebijakan WFH (Work From Home). Pustakawan yang biasanya rajin berinteraksi melayani mahasiswa menjadi “kesepian” karena Sivitas Akademika enggan mengunjungi Perpustakaan karena khawatir tertular virus Covid 19. WFH  sebenarnya pengejawantahan penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). PSBB diatur berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) No. 21 Tahun 2020 tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar Dalam Rangka Percepatan Penanganan Corona Virus Disease 2019.

PP tersebut menyebutkan bahwa pembatasan sosial tersebut paling sedikit meliputi peliburan sekolah dan tempat kerja, pembatasan kegiatan keagamaan, dan/atau pembatasan kegiatan di tempat atau fasilitas umum. PP ini dikuatkan oleh Keputusan Presiden (Kepres) No.11 Tahun 2020 yang menyatakan bahwa pandemi coronavirus sebagai bencana nasional. Fenomena yang sama sekali baru ini membuat semua aktivitas belajar mengajar dilaksanakan secara daring (dalam jaringan) melalui platfrom Google meet atau Zoom. Perpustakaan Perguruan Tinggi juga terpaksa melakukan Sosialisasi Perpustakaan secara daring.  Sosialisasi Perpustakaan secara daring keuntungannya adalah audien dapat berkomunikasi langsung dengan narasumber tanpa bersua langsung sedangkan kelemahannya yaitu dibutuhkan koneksi internet yang stabil untuk mengikuti kegiatan sosialisasi tersebut.

Kondisi Perpustakaan Perguruan Tinggi selama pandemi Covid 19 mengalami penyusutan jumlah pengunjung perpustakaan dibandingkan kondisi pra pandemi. Rendahnya tingkat kunjungan yang menurut drastis pada medio Maret 2020 disebabkan adanya perintah lockdown oleh decision maker Perguruan Tinggi untuk memutus mata rantai penularan virus di kampus. Selama masa lockdown kampus ditutup dan hanya beberapa staf kampus yang diperkenankan hadir serta proses belajar mengajar pun secara total dilaksanakan secara daring. Pengembalian koleksi Perpustakaan dilaksanakan melalui bantuan Satpam (Satuan Pengamanan) yang menerima koleksi buku yang dikembalikan untuk segera dilaporkan kepada petugas Perpustakaan. Pengunjung biasanya dihitung berdasarkan kunjungan secara fisik. Pengunjung perpustakaan didefinisikan siapa pun dengan latar belakang apa pun yang terdaftar ketika berkunjung ke Perpustakaan. Pengunjung Perpustakaan belum tentu pemustaka dan setiap pemustaka pasti pengunjung perpustakaan. Kunjungan secara fisik ke Perpustakaan wajib mematuhi standar protokol 3 M yaitu Mencuci Tangan, Memakai Masker dan Menjaga Jarak. Untuk mencegah berkembangbiaknya virus Covid 19, Perpustakaan Perguruan Tinggi juga melakukan penyemprotan desifektan yang dilaksanakan setiap minggu.

Di Perpustakaan Perguruan Tinggi telah disediakan westafel dan juga hand sanitizer bagi pengunjung Perpustakaan. Ketika sebuah Perpustakaan Perguruan Tinggi memiliki web (baca: Perpustakaan Digital) yang diakses oleh orang lain maka secara langsung orang yang mengakses informasi yang disediakan adalah pengunjung Perpustakaan Digital. Perpustakaan Perguruan Tinggi seyogianya memasang piranti lunak yang dapat mengetahui siapa saja yang mengunjungi Perpustakaan Digitalnya. Piranti lunak yang dapat digunakan untuk mengetahui jumlah pengunjung Perpustakaan Digital adalah SimilarWeb, Alexa, Website Worth Calculator dan sebagainya.

Menu virtual library tour (Tur Virtual Perpustakaan) merupakan alternatif mengunjungi Perpustakaan Perguruan Tinggi di era pandemi Covid 19 secara virtual. Jumlah pengunjungnya dapat dihitung secara statistik. Pelaksanaannya bisa juga dipandu oleh pustakawan dan juga dapat diakses sendiri. Beberapa Perpustakaan Perguruan Tinggi dan Perpustakaan Kementerian / Lembaga telah memiliki menu virtual library tour antara lain Perpustakaan Institut Teknologi Nasional (Itenas) dan Perpustakaan Universitas Telekom serta Perpustakaan Riset Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia.

Disamping sebagai wahana mengunjungi Perpustakaan Perguruan Tinggi secara virtual, virtual library tour juga dapat digunakan sebagai wahana wisata. Keberadaan menu virtual library tour pada web Perpustakaan Perguruan Tinggi (baca : Perpustakaan Digital) sangat urgent di era kekinian. Tampilan menu virtual library tour biasanya memuat bagian depan yaitu pintu masuk, lobby dan ruangan yang disediakan oleh Perpustakaan.  Keuntungan virtual library tour bagi pengunjung Perpustakaan Digital yaitu :

1. Hemat Biaya

Pengunjung Perpustakaan Digital tidak perlu mengeluarkan biaya transportasi, biaya makan dan biaya lainnya. Hanya dengan dengan menggunakan laptop dan koneksi internet yang stabil, pengunjung dapat melihat seperti apa ruang di dalam Perpustakaan yang dituju.

2. Hemat Tenaga

    Pengunjung Perpustakaan Digital tidak perlu mengeluarkan banyak tenaga untuk pergi ke Perpustakaan yang dituju secara fisik apa lagi Perpustakaan tersebut jauh diluar kota karena hal itu dapat menguras tenaga. Pengunjung Perpustakaan Digital cukup mengklik menu virtual library tour langsung dapat melihat bagian dalam Perpustakaan dengan segala kelengkapannya.

    Namun demikian, ada pula sisi lemah dari virtual library tour ini yaitu :

    1. Jaringan Internet

    Jaringan internet yang tidak stabil menyulitkan pengunjung untuk mengakses menu virtual library tour ketika akan pindah dari satu ruang ke ruang maya lainnya. Kondisi jaringan internet yang lelet itu biasanya dialami masyarakat yang tinggal di pedesaan dan ini sangat menyulitkan mereka mengakses menu virtual library tour.

    2. Tidak Puas

    Pengunjung Perpustakaan hanya dapat mengeksplorasi apa yang telah disajikan pada menu virtual library tour. Mereka hanya bisa melihat foto panorama yang dapat dilihat dari berbagai sudut yaitu 360 derajat. Pengunjung tidak dapat bebas pergi ke sudut lain yang dia inginkan. Ini yang membedakan dengan kunjungan secara fisik.

    3. Menyebabkan sakit mata

    Mengakses menu virtual library tour melalui smartphone itu berarti bahwa pengunjung Perpustakaan Digital harus memandang smartphone agak lama sampai dengan kegiatan tour selesai. Akibat yang ditimbulkan memandang smartphone agak lama bisa menyebabkan mata lelah dan berair sehingga menyebabkan mata menjadi pedih. Mata juga dapat pedih karena radiasi yang ditimbulkan oleh smartphone.

    Perpustakaan Perguruan Tinggi dapat mengembangkan virtual library tour melalui piranti lunak yang informasinya tersedia di internet. Penyajian virtual library tour dapat dilakukan dengan cara memanfaatkan gambar atau pun video, selain itu dapat menggunakan gambar 3D (3 Dimensi). Kedepan, Perpustakaan UPT.Perpustakaan Universitas Andalas (Unand) perlu memiliki menu virtual library tour pada Perpustakaan Digitalnya. Dengan adanya menu tersebut diharapkan pengunjung UPT.Perpustakaan Unand dapat diketahui secara virtual berdasarkan latar belakang pendidikan dan kebangsaannya. Keberadaan menu virtual library tour adalah trend era new normal sehingga mengharuskan Perpustakaan mengimplementasikannya demi meningkatkan jumlah pengunjungnya. Aplikasi yang direkomendasikan untuk rancang bangun virtual library tour adalah Multimedia Development Life Cycle (MDLC) yang dibangun dengan software Adobe Audition, Blender 3 D, Unity 2018 1.6fl, dan notepad ++ serta aplikasi berbasis Android. Semoga Revolusi Industri 4.0 dapat diwujudkan di UPT.Perpustakaan Unand sesuai ekspektasi Pustakawan. Vita in motu, hidup terus berjalan, pekerjaan belum selesai !.

    28 Februari 2022

    Judul esai diatas sebenarnya bukan untuk menakut-nakuti para mahasiswa yang mengenyam Pendidikan Diploma Tiga (D3) dan Strata Satu (S1) Ilmu Perpustakaan. Terlalu spekulatif sebenarnya apabila dikatakan bahwa era disrupsi, profesi pustakawan akan hilang dalam tamadun manusia. Penulis meyakini bahwa profesi Pustakawan akan senantiasa eksis hanya saja perannya menjadi konsultan informasi dan manajer informasi dalam suatu institusi. Peran tersebut menuntut Pustakawan agar belajar beradaptasi dengan perkembangan teknologi informasi yang pesat. Pustakawan harus memiliki semangat sebagai pembelajar mandiri.

    Pada pertengahan Desember 2021, penulis kedatangan mahasiswa Diploma Tiga (D3) Prodi Ilmu Perpustakaan dan Informasi Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol (IB). Kedatangan mahasiswa tersebut untuk melaksanakan observasi ke Bidang Pelayanan Referensi dan Koleksi Berkala di UPT.Perpustakaan Universitas Andalas (Unand). Observasi yang mereka lakukan bertujuan untuk meyelesaikan tugas mata kuliah Layanan Perpustakaan. Untuk menyelesaikan tugas mata kuliah dibutuhkan bukti fisik yakni daftar kehadiran mahasiswa, data pendukung dan hasil wawancara yang direkam melalui gadged serta foto bersama pustakawan yang bertidak sebagai nara sumber.

    Dalam kesempatan tersebut penulis menjelaskan hal-hal yang terjadi di era disrupsi kepada mahasiswa. Yang terjadi sebenarnya adalah penggunaan dan implementasi Artificial inteligence (AI) berbasis teknologi robotik, Big Data dan Augmented Reality (AR ) di Perpustakaan Perguruan Tinggi secara masif. Secara definisi sebagaimana yang dilansir di Britannica.com, artificial intelligence (AI), the ability of a digital computer or computer-controlled robot to perform tasks commonly associated with intelligent beings. Artificial inteligence dapat dikatakan kecerdasan buatan yang menggunakan robot dan komputer digital dalam melakukan pekerjaan sebagai prototip makhluk yang cerdas. Terminolgi ini sering digunakan untuk menjelaskan pengembangan sistem yang berbasis pada karakteristik proses intelektual manusia untuk menalar, menemukan makna, menggeneralisasi atau belajar dari pengalaman masa lalu. Penerapan kecerdasan buatan dapat dilakukan dengan cara mengoperasikan teknologi robotik untuk melakukan shelving (penataan koleksi buku), weeding (mengeluarkan koleksi buku yang rusak) dan stock opname (sensus koleksi buku). Robot dapat pula berperan sebagai pustakawan referensi dengan menerapkan kecerdasan buatan berbasis sistim pakar. Robot dapat melakukan tanya jawab dan merekomendasikan koleksi apa yang harus dijadikan referensi bagi pemustaka sebagai rujukan bagi penelitiannya.

    Big data adalah data yang tersedia dalam database dengan jumlah besar yang terdiri atas beragam subyek ilmu pengetahuan. Dilansir pada gartner.com, Big data didefinisikan sebagai high-volume, high-velocity and/or high-variety information assets that demand cost-effective, innovative forms of information processing that enable enhanced insight, decision making, and process automation. Ini bermakna bahwa big data merupakan aset informasi yang memiliki volume yang tinggi, beragam, berisi informasi inovatif, hemat biaya, meningkatkan wawasan bagi pengambil keputusan sebagai proses automatisasi. Pemanfaatan Big data dapat dikatakan ekses dari Internet of Thing (IoT) di Perpustakaan Perguruan Tinggi. Pustakawan harus mampu mengetahui e-resources yang di Internet yang disimpan di cloud computing (computasi awan).

    Dikutip dari Unair News online, peran pustakawan dalam implementasi big data di perpustakaan dinilai cukup penting, bekerjasama dengan para data analyst, data architect, IT specialist, untuk membangun database perpustakaan. Tugas dari pustakawan yang paling urgen adalah menentukan metadata, membuat thesaurus untuk membantu temu balik kembali, dan membuat parameter penelusuran. Implementasi big data di perpustakaan juga diikuti dengan pengembangan database teknologi, peningkatan skill pustakawan, mempromosikan interlibrary loan, dan layanan informasi personalisasi.

    Augmented Reality adalah teknologi yang diperoleh dengan menggabungkan secara real time konten digital yang dibuat oleh komputer dengan dunia nyata. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari Merriam-Webster.com, bahwa augmented reality didefinisikan sebagai an enhanced version of reality created by the use of technology to overlay digital information on an image of something being viewed through a device (such as a smartphone camera). Dengan kata lain augmented reality merupakan pengejawantahan versi nyata yang dibuat dan disempurnakan dengan teknologi digital menggunakan perangkat kamera seperti smartphone. Pemanfaatan konsep augmented reality dapat memudahkan hubungan dunia maya dengan dunia nyata hanya dengan memanfaatkan gadged yang ada ditangan. Perpustakaan Perguruan Tinggi dapat menerapkannya dengan melengkapi menu virtual tour pada Perpustakaan Digitalnya (baca : website). Kemudahan memanfaatkan menu virtual tour dapat dimanfaatkan pemustaka untuk mengunjungi Perpustakaan Perguruan Tinggi tanpa biaya. Hanya dengan duduk santai di rumah, pemustaka dapat melihat kondisi Perpustakaan Perguruan Tinggi yang dikunjunginya.

    28 Februari 2022

    Pada 21 Januari 2019, Jepang meresmikan Society 5.0 sebagai konsep menggunakan ilmu pengetahuan berbasis artificial intelligence, robotic dan Internet of Things (IoT). Dilansir dari website pemerintah Jepang, yaitu Cao.go.jp, disebutkan bahwa Society 5.0 diusulkan dalam Rencana Dasar Sains dan Teknologi ke-5 menjadi blue print bangsa Jepang untuk mencapai cita-citanya di masa depan. Inovasi Society 5.0 diharapkan dapat mencapai masyarakat yang berwawasan, memecah rasa stagnasi dan hidup dalam suasana nyaman.

    Ada perbedaan yang signifikan antara Revolusi Industri 4.0 dengan Society 5.0. Revolusi Industri 4.0 menggunakan artificial intelligence, dan kecerdasan buatan sebagai komponen utamanya sedangkan Society 5.0 menggunakan teknologi modern dan mengandalkan manusia sebagai komponen utama. Dengan kata lain, manusia memainkan peranan penting dalam penggunaan teknologi. Manusia adalah penentu berbahaya atau tidaknya teknologi itu digunakan bagi kemanusiaan.

    Ditinjau dari kajian historis, konsep Society 5.0 merupakan penyempurnaan dari konsep yang pernah ada sebelumnya. Sebagaimana yang diketahui, Society 1.0 adalah era berburu dan mengenal tulisan. Dilanjutkan dengan Society 2.0 yang biasa disebut sebagai era pertanian dan peternakan. Manusia sudah mengenal bercocok tanam dan menjinakkan hewan liar dan mengembangbiakkannya dengan cara beternak. Ketika era Society 3.0, kehidupan manusia sudah memasuki era industri. Pekerjaan manusia mulai menggunakan mesin untuk membantu pekerjaan dan aktivitas sehari-hari. Seiring perkembangan sains dan teknologi dalam peradaban manusia, di era Society 4.0, manusia telah mengenal komputer hingga internet. Era Society 5.0 merupakan era semua teknologi adalah bagian dari manusia itu sendiri, internet bukan hanya digunakan untuk sekedar berbagi informasi melainkan untuk menjalani kehidupan.

    Konsep Society 5.0 sangat tepat diterapkan di Perpustakaan Perguruan Tinggi termasuk UPT.Perpustakaan Universitas Andalas (Unand). Pustakawan dan Sivitas Akademika Unand sebagai pemustaka dituntut mampu bekerjasama dengan baik khususnya dalam penerapan teknologi informasi yang berkembang pesat. Agar di UPT.Perpustakaan Unand dapat diterapkan Society 5.0 maka Pustakawan harus mampu menerapkan 4 C yaitu :

    1. Creativity

    Di lansir dari Glosarium Online, creativity adalah kemampuan untuk memikirkan sesuatu dengan cara baru atau tidak lazim, dan menghasilkan jalan keluar atau cara pemecahan yang unik untuk memecahkan masalah. Pustakawan Unand dituntut mampu mencarikan jalan keluar dengan mengaplikasikan teknologi informasi untuk mengatasi masalah di UPT.Perpustakaan Unand. Misalnya, penerapan peminjaman buku dan bebas pustaka secara mandiri berbasis internet online adalah solusi untuk menyederhanakan aktivitas pemustaka. Pemustaka yang biasanya meminjam buku dengan cara mengantri di konter dan dilayani dalam menginput proses peminjaman oleh pustakawan kini tidak ada lagi. Mahasiswa yang bebas pustaka dapat mendaftar dari rumah tanpa perlu ke UPT.Perpustakaan Unand. Aplikasi bebas pustaka UPT.Perpustakaan Unand terhubung dengan Bidang Akademi Rektorat Unand. Pihak akademik Rektorat Unand akan melakukan verifikasi. Apabila pemustaka masih mempunyai tunggakan peminjaman buku maka yang bersangkutan tidak dapat melaksanakan wisuda sampai permasalahannya diselesaikan dengan UPT.Perpustakaan Unand.

    2. Critical Thinking

    Dilansir dari Binus University Online, critical thinking merupakan keterampilan yang memungkinkan seseorang membuat keputusan yang logis, berdasarkan informasi yang didapat dan diolah sesuai kemampuan. Pustakawan yang critical thinking adalah pustakawan yang memiliki rasa ingin tahu, kreativitas, tekun dan obyktif. Pustakawan yang apatis dan tidak adaptif dipastikan tidak akan mampu membuat keputusan logis yang didasarkan atas informasi yang dianalisisnya. Misalnya, UPT.Perpustakaan Unand memiliki tingkat kunjungan yang tinggi pada websitenya namun jumlah pengunjung tidak dapat dideteksi karena ketiadaan tools yang memudahkan memantau trafik website. Oleh karena itu pustakawan perlu mengusulkan pembelian software SEMrush untuk memantau kunjungan pemustaka yang mengakses website kepada decision maker.

    3. Communication

    Mulyana (2007) mendefinisikan bahwa komunikasi adalah proses menyarankan suatu pikiran, suatu makna, atau suatu pesan yang dianut secara sama. Era Society 5.0 menuntut Pustakawan Unand memahami komunikasi antarpribadi (interpersonal communication), komunikasi kelompok (group communication), komunikasi organisasi (organization communication) dan komunikasi massa (mass communication). Efendy (1993) Komunikasi intrapribadi mencakup komunikasi antara dua orang dimana kontak langsung terjadi dalam bentuk percakapan, bisa langsung berhadapan muka (face to face) atau bisa melalui media seperti telepon. Pustakawan seyogianya mampu berkomunikasi dengan baik kepada atasan, rekan kerja dan bawahan serta pemustaka. Adanya kemampuan komunikasi yang baik maka akan dicapai pula kerjasama yang baik dengan semua pihak yang bersangkutan. Pustakawan perlu pula membina komunikasi kelompok. Dilansir via Wikipedia Online, komunikasi kelompok adalah komunikasi yang dilakukan oleh beberapa orang dengan jumlah minimal 3 orang atau lebih. Dalam komunikasi kelompok, tiap peserta akan berinteraksi satu sama lain untuk mencapai tujuan bersama, mengenal satu sama lain, dan memandang sebagai bagian dari kelompok. Di UPT.Perpustakaan Unand ada beberapa Bidang Kerja seperti Automasi, Sirkulasi, Tata Usaha, dan Pengolahan Koleksi. Antara Bidang Kerja yang berbeda itu diharapkan satu sama lain bersinergi demi menyukseskan visi dan misi UPT.Perpustakaan Unand. Komunikasi yang baik antara pustakawan di bidang kerja yang satu dengan yang lain membuat produktivitas kerja menjadi semakin baik. Misalnya, masalah digitalitasi grey literature. Koleksi skripsi, tesis dan disertasi yang akan didigitalisasi diturunkan dari rak Local Content dan selanjutnya dibawa ke Bidang Kerja Automasi. Di Automasi karena jumlah staf yang sedikit didiskusikan secara bersama sehingga pekerjaan digitalisasi masuk dalam kegiatan lembur UPT.Perpustakaan Unand. Kegiatan ini dikerjakan setiap hari Sabtu dengan rekan-rekan di Bagian Pengolahan Koleksi. Ini akan terjadi kalau komunikasi kelompok itu terwujud dengan baik yang didasari atas espirit de corps yang tinggi sesama Pustakawan. Komunikasi Organsasi perlu pula ditingkatkan di UPT.Perpustakaan Unand. Goldhaber (1989) menyatakan bahwa komunikasi organisasi adalah proses menciptakan dan pertukaran pesan dalam sebuah jaringan hubungan yang saling tergantung satu dengan yang lain untuk mengatasi lingkungan yang tidak pasti atau yang selalu berubah-ubah. Misalnya, informasi kenaikan jabatan pustakawan. Pustakawan Unand seyogianya dapat berkomunikasi dengan baik kepada pihak Bagian Kepegawaian Hukum dan Tata Laksana sehingga tidak ada lagi permasalahan tentang kenaikan pangkat Pustakawan. Penguasaan ilmu komunikasi massa perlu pula dipahami oleh Pustakawan Unand. Dilansir dari Wikipedia, komunikasi massa adalah proses di mana organisasi media membuat dan menyebarkan pesan kepada khalayak banyak. Aktivitas Pustakawan Unand telah merambah dunia media sosial (medsos). UPT.Perpustakaan Unand memiliki Facebook dan Instagram yang digunakan untuk menyampaikan informasi kepada Pemustaka. Pemustaka dapat mengetahui kegiatan apa yang akan, sedang dan telah berlangsung tanpa harus datang ke Perpustakaan. Hanya dengan Like dan Follow Facebook dan Instagram UPT.Perpustakaan Unand via gadged. Website Perpustakaan dapat juga dikatakan media komunikasi antara Pustakawan dengan Pemustaka. Pemustaka dapat menyampaikan koleksi yang perlu diadakan dan masukan lain melalui surat elektronik untuk kemajuan Perpustakaan. Website UPT.Perpustakaan Unand juga berisi informasi tentang berita dan esai kepustakawaan. Oleh karena itu pustakawan perlu senantiasa belajar kaidah penulisan berita dalam kajian jurnalistik dan juga penulisan esai yang baik dan mudah dipahami oleh pemustaka.

    4. Collaboration

    Dilansir dari Badan Litbang Diklat Hukum dan Peradilan Mahkamah Agung Republik Indonesia, Collaboration atau kolaborasi adalah bentuk kerjasama, interaksi, kompromi beberapa elemen yang terkait baik individu, lembaga dan atau pihak-pihak yang terlibat secara langsung dan tidak langsung yang menerima akibat dan manfaat. Pustakawan dituntut mampu berkolaborasi dengan unit kerja di lembaga yang menaunginya. Pustakawan Unand harus mampu berkolaborasi secara internal dengan pihak fakultas, lembaga dan unit kerja dilingkungan Unand. Pustakawan juga harus mampu bekerja sama dengan pihak Perpustakaan kampus yang berada di luar Unand baik Perpustakaan Perguruan Tinggi Negeri maupun Perpustakaan Perguruan Tinggi Swasta. Misalnya kerjasama dalam membentuk Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia (FPPTI). Pustakawan baik Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta bekerja sama mewujudkan keberadaan FPPTI dan melaksanakan kegiatan yang diagendakan. Dapat pula dirancang proses peminjaman koleksi bersama. Dengan kata lain, koleksi UPT.Perpustakaan Unand dapat dipinjam oleh pemustaka Perpustakaan Perguruan Tinggi Swasta yang Perpustakaannya terdaftar menjadi Anggota FPPTI. Data peminjaman pemustaka Perpustakaan Perguruan Tinggi Swasta dapat diketahui bersama secara online. Selama pemustaka tersebut memiliki tunggakan peminjaman buku maka yang bersangkutan tidak dapat melaksanakan wisuda. Untuk mewujudkan hal tersebut dapat dirancang database Perpustakaan bersama antar anggota FPPTI.

                Omnia mutantur nos et mutamur in illis, kita semua harus berubah dan berubah didalamnya. Era Society 5.0 telah mendisrupsi semua pekerjaan yang telah baku sebelumnya. Pustakawan wajib melakukan transformasi pengetahuan dan adaptif dengan perubahan yang dapat terjadi sewaktu-waktu. Sikap sebagai pembelajar mandiri menjadi keniscayaan bagi pustakawan untuk tetap eksis dalam dunia kepustakawanan.

    28 Februari 2022

    Sebagaimana yang diketahui bersama bahwa Perpustakaan Perguruan Tinggi memiliki peran sebagai media penyebaran informasi yang dibutuhkan oleh pemustaka. Informasi yang dimiliki Perpustakaan Perguruan Tinggi dalam bentuk koleksi tercetak dan terdigitasi merupakan aset yang memiliki nilai jual yang sangat tinggi. Koleksi manuskrip kuno dan langka yang biasa menjadi rebutan kolektor barang antik akan lebih bernilai komersial yang tinggi apabila isi manuskrip tersebut diketahui makna dan narasinya. Wendy Diamond dan Michael Oppenheim (2004) mengatakan bahwa informasi menjadi kunci sukses suatu bisnis, dan para manajer mau membayar ketika membutuhkannya. Dengam kondisi ini semua  dikomersialisasikan, mulai barang, jasa hingga informasi. Pergeseran paradigma ini merupakan efek dari globalisasi politik ekonomi dunia.

    Sejarah marketing informasi di Perpustakaan Perguruan Tinggi memiliki sejarah yang sangat panjang. Bermula sejak ditemukannya mesin cetak oleh Johannes Gutenberg lahir antara tahun 1394-1404 di Kota Mainz, Jerman. Namun, pada 1890 Kota Mainz menyatakan bahwa tanggal lahir simbolisnya adalah 24 Juni 1400. Lahir dengan nama lengkap Johannes Gensfleisch zur Laden zum Gutenberg, ia adalah putra dari seorang pedagang yang dulunya pernah menjadi bangsawan Jerman.

    Universitas Mainz yang juga dikenal dengan nama Johannes Gutenberg University Mainz yang dibangun tahun 1477 dapat dikatakan Universitas pertama yang menggunakan mesin cetak yang dibuat Johannes Gutenberg. Selanjutnya mesin cetak ini menyebar penggunaannya ke seluruh Universitas yang berada Benua Eropa. Johannes Guttenberg tetap dikenal dunia sebagai father of printing revolution. Bisa dikatakan kalau mesin cetak buatan Guttenberg jadi cikal bakal kemunculan mesin-mesin cetak lain yang saat ini digunakan oleh orang-orang dunia.

    Berdasarkan pengalaman penulis melakukan PKL (Praktek Kerja Lapangan) di Perpustakaan Universitas Sumatera Utara (USU) pada tahun 1997, praktek marketing informasi telah dilaksanakan oleh Perpustakaan. Mahasiswa Fakultas Kedokteran USU yang mengambil Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) dan para dosen Fakultas Kedokteran USU sering berlalu lalang dibagian Layanan Informasi. Mereka sebelumnya memesan informasi terseleksi tersebut dari ruang kerjanya. Informasi yang dipesan biasanya adalah jurnal elektronik tentang kedokteran yang masa itu sangat susah diperoleh kecuali melalui akses internet yang masih relatif mahal. Sebelum memesan jurnal elektronik, para dokter terlebih dahulu melihat Index Medicus. Index Medicus adalah suatu alat penelusuran yang berbentuk buku indeks makalah yang diterbitkan oleh Perpustakaan Nasional Kedoktaran (National Library of Medicine-NLM). Melakukan penelusuran dengan menggunakan Index Medicus bagian indeks penulisannya tidaklah terlalu sukar. Para dokter yang telah mendapat informasi yang dipesan berupa jurnal elektronik yang telah di print out  membayar biaya jasa informasi sebesar Rp.10.000,- tergantung jumlah judul atau subyek yang dipesan.

    Berdasarkan garis waktu, orientasi marketing informasi selalu berubah dari masa ke masa. Salah satunya adalah segmentasi pasar yang makin bervariasi seiring dengan penggunaan teknologi informasi yang makin berkembang pesat. Berikut ini adalah timeline marketing informasi :

    Pertama, Marketing informasi 1.0. Marketing informasi 1.0 lebih menekankan pada product- driven. Secara leksikal product-driven bermakna berorientasi produk. Perpustakaan dekade 1900 sebelum terjadinya malaise atau kelesuan ekonomi di Amerika Serikat yang terjadi pada 1929 sampai dengan 1939. Perpustakaan cenderung menekankan pengadaan koleksi tercetak sebanyak-banyaknya. Ini juga mengakibatnya tingginya pemesanan meubelair seperti rak, meja dan kursi. Kajian tentang siapa pengguna informasi dan informasi apa yang layak bagi pengguna belum menjadi isu yang menarik dalam ranah kajian ilmu perpustakaan secara umum. Pengguna dibiarkan memilih informasi tanpa adanya arahan. Kegiatan bedah buku untuk mempromosikan informasi yang terdapat dalam buku best seller masih belum banyak dilakukan oleh Pustakawan. 

    Kedua, Marketing informasi 2.0. Marketing informasi 2.0 berorientasi pada kebutuhan pengguna (costumer-oriented). Lanskap dunia yang berubah karena Depresi Besar atau kelesuan ekonomi dunia yang terjadi awal tahun 1930 an memunculkan segmentasi di era marketing informasi 2.0. Segmentasi pasar mulai bervariatif dengan ragam kebutuhan individu masa itu. Garis watu untuk mengilustrasikan era ini adalah tahun 1929 sampai 1950an. Penggunaan microfische atau mikrofilm sebagai sarana penyimpanan informasi mulai berkembang dan hanya orang-orang tertentu yang dapat mengakses informasinya dengan izin Pustakawan. Koleksi buku tercetak masih sangat mendominasi.  Masa itu Perpustakaan lebih fokus kepada kebutuhan informasi pengguna. Penyebaran informasi yang tersedia di Perpustakaan mulai menggunakan media massa. Perpustakaan mulai melakukan kajian informasi tentang segmentasi pasarnya dan informasi apa yang dibutuhkan oleh pengguna perpustakaan.

    Ketiga, Marketing informasi 3.0. Marketing informasi 3.0 menekankan pada hidden needs dari costumer dan berbasis human centric. Contoh yang tepat untu melukiskan era ini adalah Perpustakaan dekade 50an sampai tahun 2008. Perpustakaan dituntut melakukan kajian yang lebih mendalam tentang apa kebutuhan pengguna yang tersembunyi. Promosi Perpustakaan mulai gencar memasuki media pandang dengar. TV 5 yaitu Televisi Prancis setiap jam 21.30 WIB atau jam 15.30 Waktu Prancis disiarkan acara Bouillon de Culture atau ramuan kaldu budaya dalam terjemahan leksikal merupakan acara talkshow mingguan yang bertemakan budaya dan sastra yang dipandu Bernard Pivot. Yang menarik dari acara ini adalah sang pemandu acara memegang buku yang dibahas dengan mengundang satu atau tiga orang pakar yang membincangkan topik yang diangkat dalam buku dan pentingnya buku tersebut dibaca oleh akademisi dan budayawan Prancis. Di TV France 3, juga diselenggarakan acara Un Livre Du Jour (Buku Hari ini). Acara ini dipandu oleh Oliver Barrot yang berprofesi sebagai penulis dan produser terkenal di Prancis. Acara ini juga membahas tentang buku-buku yang menarik untuk dibaca pemirsa. Di era ini pula, Perpustakaan mulai memperhatikan pengguna untuk menemukan informasi dengan mudah. Pendidikan Pengguna Perpustakaan menjadi hal penting dan wajib dikuasai oleh pengguna Perpustakaan. Katalog berbasis kertas telah ditinggalkan dan perlahan digantikan oleh katalog offline yang bebasis Local Area Network. Disamping itu Perpustakaan juga telah melengkapi kebutuhan fisiologis pengguna dengan menyediakan akses kantin dan cafe yang dekat dengan Perpustakaan sebagai tempat makan siang. Ini membuktikan bahwa Perpustakaan telah berbasis human centric. Di era Marketing 3.0, Perpustakaan harus memperhatikan dampak jasa informasi yang diberikan terhadap proses belajar mengajardi dunia akademik. Biaya jasa informasi yang relatif mahal adakalanya membuat komplain pengguna perpustakaan. Secara garis besar, marketing informasi 1.0, 2.0 dan 3.0 dapat dikatakan marketing informasi yang masih era bagi pemasaran jasa Perpustakaan yang sifatnya masih tradisional. 

    Keempat, Marketing informasi 4.0. Marketing informasi 4.0 lebih menitikberatkan pada  pemasaran dalam konteks dunia digital (online dan offline). Pada era ini dikenal pula New Users Experience (UX) yang terjadi pada setiap tahapan users journey. Era ini perpustakaan khususnya perguruan tinggi telah memiliki repository dan pangkalan data untuk menyimpan informasi koleksi perpustakaan dan jurnal elektronik baik yang diperoleh secara gratis maupun berbayar. Semuanya dapat diakses oleh pengguna Perpustakaan. Menurut Iwan (2020) dilansir via marketeres.com, customer journey terdiri dari lima tahapan yang disebut dengan 5A (Aware, Appeal, Ask, Act, dan Advocate). Di Perpustakaan Perguruan Tinggi, 5A tersebut dialami pula oleh pengguna perpustakaan. Tahap Aware berbicara mengenai bagaimana pengguna mengenal suatu informasi atau terbitan mana informasi tersebut terutama dari aspek penerbitnya, diikuti dengan tahap Appeal ketika pengguna mulai tertarik dengan informasi jurnal yang ditawarkan karena pengarang dan penerbitnya sangat terkenal dalam dunia akademik. Di tahap selanjutnya yaitu Ask, dimana pengguna akan berusaha untuk mencari tahu lebih dalam mengenai informasi jurnal atau penerbitannya. Tahapan selanjutnya adalah Act yaitu keputusan pengguna untuk membeli informasi tersebut dengan membayar biaya cetak. Ini terjadi apabila informasi tentang otoritas kepengarangan dan penerbitan, berhasil meyakinkan pengguna melalui penjelasan detail Pustakawan maka ada kemungkinan pengguna melakukan pembelian. Tahap terakhir dinamakan advocate. Jika pengguna merasa puas terhadap informasi yang disajikan pustakawan atau jasa yang dibeli sangat memuaskan, maka ia akan merekomendasikan hal tersebut kepada orang lain dari mulut ke mulut. Pada era Marketing 4.0, jejak pengguna berpindah-pindah dari online ke offline atau sebaliknya. Ini berarti adakalanya pengguna Perpustakaan Perguruan Tinggi lebih suka memanfaatkan fasilitas Perpustakaan secara online untuk mengakses jurnal elektronik gratis yang telah dibeli oleh decision maker secara tender. Disamping itu pengguna mendownload jurnal elektronik tersebut untuk diprint out melalui printernya sendiri. Perpustakaan Perguruan Tinggi ada pula yang menyediakan printer yang dapat dipakai pengguna dan cukup membayar biaya cetak saja bila dibutuhkan. Penguna juga bisa mendownload dan mendengar musik secara percuma  di Perpustakaan. Marketspace menjadi trend Perpustakaan di era Marketing Informasi 4.0. Marketspace atau ruang buatan adalah ruang kosong atau tak terpakai di Perpustakaan yang dapat digunakan untuk melakukan bisnis diluar kegiatan kepustakawanan dengan kerjasama pihak lain. Misalnya, di Perpustakaan Perguruan Tinggi dapat dibuat tempat untuk reparasi handphone atau laptop yang dapat dimanfaatkan mahasiswa untuk memperbaiki handphone dan laptopnya yang rusak. Di era ini pengguna perpustakaan memiliki pengalamannya yang unik yaitu omni experience. Omni experience adalah pengalaman pengguna perpustakaan yang mendapatkan informasi yang dibutuhkannya dengan melalui luar jaringan (luring) dan atau dalam jaringan (daring). Era ini belum berbicara mengenai Artificial Intelligence (AI), Teknologi Robotik, dan Augmented Reality (AR). Era Marketing 4.0 sebatas berbicara mengenai basic dunia digital, berbeda dengan Marketing 5.0 yang berbicara mengenai teknologi yang jauh lebih advance. Era ini berlangsung dari tahun 2008 sampai 2018.

    Kelima, Marketing Informasi 5.0. Marketing informasi 5.0 fokus pada Marketing in Digital World New Users eXperience (UX) dan New Tech. Era ini berlangsung dari tahun 2019 dan masih on going. Era ini ditandai dengan maraknya penggunaan uang virtual. Pemesanan barang-barang dilakukan dengan transaksi online melalui Gopay, Dana, dan sebagainya. Intensitas transaksi dengan uang virtual lebih marak daripada tahun sebelumnya. Dilansir dari Marketeers.com, pergerakan ke arah Marketing informasi 5.0 didorong oleh jumlah generasi digital-savvy yang begitu besar, adopsi phygital lifestyle, dilema digitalisasi (dampak positif dan negatif), perkembangan teknologi yang kian matang, hingga simbiosis antara manusia dengan teknologi yang tidak bisa lagi terpisahkan. Di dunia Perpustakaan Perguruan Tinggi, Marketing informasi 5.0 menitikberatkan mengenai Next Tech dan New Users eXperience (UX). Menurut Iwan (2020), optimalisasi bisnis dapat tercapai jika perusahaan mampu memanfaatkan teknologi untuk kepentingan kemanusiaan (humanity). Kombinasi antara kekuatan teknologi dan manusia harus ditopang bersama. Hal ini disebut dengan istilah Next Tech atau bionics. Di Perpustakaan Perguruan Tinggi, kegiatan stock opname (sensus koleksi Perpustakaan), weeding (mengeluarkan koleksi tak layak pakai dari rak) dan juga shelving (penataan koleksi ke rak) dapat menggunakan robot humanoid. Penggunaan RFID (Radio Frequency Identification) dan Dropbox lebih diintensifkan oleh Perpustakaan Perguruan Tinggi. RFID adalah sistem identifikasi tanpa kabel yang memungkinkan pengambilan data tanpa harus bersentuhan seperti barcode dan magnetic card seperti ATM sedangkan Dropbox adalah tempat pengembalian koleksi Perpustakaan yang telah dipinjam oleh pengguna. Perpustakaan Perguruan Tinggi wajib “memaksakan” penggunaan teknologi baru di Perpustakaan agar pekerjaan Pustakawan menjadi efektif dan efisien. Termasuk pembayaran denda koleksi buku Perpustakaan harus memakai uang virtual. Sumbangan koleksi buku mahasiswa seyogianya cukup dengan memesan e-book yang diarahkan proses pembeliannya oleh Perpustakaan. Di Era Marketing Informasi 5.0, Perpustakaan Perguruan Tinggi wajib “memaksakan” penggunaan teknologi baru di Perpustakaan. Selain untuk meminimalisir penularan virus Covid 19, juga dapat meringankan pekerjaan Pustakawan. Pustakawan menjadi lebih fokus meneliti permasalahan yang berkembang melalui riset yang dituliskan melalui jurnal dan surat kabar.

    Memang ada sisi lemah dari penggunaan teknologi. Dengan kata lain, teknologi yang maju selalu mencoba meniru manusia karena manusia adalah makhluk yang paling misterius. Manusia memiliki pemikiran, kreativitas dan leadership, dan lain-lain yang tidak mudah untuk direplikasi dan dibuatkan prototype-nya ke dalam bentuk teknologi robotik. Iwan (2020) menjelaskan bahwa AI misalnya, mencoba meniru bagaimana otak manusia bekerja. Kemampuan manusia dalam berkomunikasi yang tak jarang kerap tidak terstruktur juga telah dicoba untuk direplikasi dengan teknologi Natural Language Processing (NLP). Tidak berhenti sampai di situ, kemampuan sensing manusia telah mendorong kehadiran sensor tech, kemampuan moving melahirkan robotik, kemampuan berimajinasi menghasilkan mixed reality, hingga cara manusia dalam berkoneksi direplikasi ke dalam bentuk Internet of Things (IoT) dan Blockchain. Dengan demikian penggunaan teknologi terbaru tetap diterapkan walaupun tidak sempurna sebagaimana yang diharapkan, akan tetapi melalui uji coba terus menerus mulai dari tahap alfa dan selanjutnya, diharapkan teknologi yang kurang sempurna pada era sebelumnya menjadi lebih disempurnakan lagi penggunaannya. Dengan menggabungkan Next Tech dan New Users eXperience (UX), maka Users eXperience (UX) akan semakin efisien, meaningful, dan jasa yang ditawarkan Perpustakaan melalui marketing informasi 5.0 yang berbasis teknologi terbaru dapat meningkatkan value lebih bagi para pengguna perpustakaan.

    Adaequatio intellectus nostri cum re, mencocokkan pemahaman kita dengan kenyataan sudah selayaknya dimulai di era marketing informasi 5.0. Semoga dunia kepustakawanan menjadi lebih baik di masa mendatang.