Workaholic vs Hardworker, dimanakah posisi Pustakawan ?

24 Jun 2022

Era kekinian menuntut seseorang untuk bekerja lebih giat dalam memenuhi kebutuhan fisiologis. Beban dan tanggung jawab kerja mengharuskan seseorang agar senantiasa meningkatkan kinerja semakin meningkat dan serius menyukseskan visi dan misi organisasi. Pustakawan Perguruan Tinggi memiliki peranan penting dalam menyukseskan visi dan misi organisasi yang menaunginya. Pustakawan Universitas Andalas (Unand) misalnya seyogianya berusaha untuk menyukseskan visi dan misi Unand yaitu Menjadi Universitas Terkemuka dan Bermartabat pada Tahun 2028. Misi Unand yakni :

  1. Menyelenggarakan pendidikan akademik dan profesi yang berkualitas, berkarakter serta berkesinambungan;
  2. Menyelenggarakan penelitian dasar dan terapan yang inovatif untuk menunjang pembangunan dan pengembangan IPTEK serta meningkatkan publikasi ilmiah dan HAKI;
  3. Mendharmabaktikan IPTEK yang dikuasai kepada masyarakat;
  4. Menjalin jaringan kerjasama yang produktif dan berkelanjutan dengan kelembagaan pendidikan, pemerintahan dan dunia usaha di tingkat daerah, nasional dan internasional;
  5. Mengembangkan organisasi dalam meningkatkan kualitas tata kelola yang baik (good university governance) sehingga mampu beradaptasi dengan perubahan lingkungan strategis;
  6. Mengembangkan usaha-usaha, baik dalam bidang pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat serta usaha lainnya yang berkaitan dengan core bisnis Unand yang dapat meningkatkan revenue.

Visi dan Misi Unand merupakan tanggung jawab seluruh sivitas akademika termasuk pustakawan yang juga tenaga kependidikan di Unand. UPT. Perpustakaan Unand sebagai unsur penunjang atau sumber belajar tetap memiliki tanggung jawab untuk menyukseskan proses belajar mengajar sehingga tercipta insan akademiki (baca:sarjana, magister dan doktor) yang mumpuni dalam bidangnya.

Beban dan tanggung jawab kerja yang berat tersebut terkadang “menjebak” Pustakawan sehingga merasa “paling” bertanggung jawab agar Unand sukses dan rankingnya dalam Webometrics. Beban kerja Pustakawan Unand yang meningkat ditunjukkan oleh job description yang rangkap mereka kerjakan. Hal ini dikarenakan Pustakawan Senior telah banyak yang pensiun (retirement) dan tidak adanya rekruitmen pustakawan untuk “menghandle” pekerjaan yang mereka tinggalkan. Apabila pustakawan tidak memiliki manajemen waktu kelamaan dapat pula pustakawan tersebut menjadi workaholic.

Dilansir dari wikipedia.com, adalah suatu kondisi dari seseorang yang mementingkan pekerjaan secara berlebihan dan melalaikan aspek kehidupan yang lain. Workaholic mempunyai kecanduan yang tidak sehat, dalam hal ini adalah kecanduan kerja, mengejar karier dan menganggap mereka adalah satu-satunya yang bisa mengerjakan pekerjaan dengan benar. Workaholic biasa disematkan kepada mereka yang menggilai sebuah pekerjaan. Setiap wilayah ataupun negara sudah pasti memiliki angkatan karyawan yang gila bekerja.

Berdasarkan data statistik yang mereka dapatkan dari Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan, penduduk Jepang, Kanada dan Meksiko disebut sebagai negara yang memiliki jam kerja minimal setengah jam lebih lama dari jam kerja standar yang dikeluarkan Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan setiap harinya, yakni 8,1 jam. Meksiko menduduki peringkat paling teratas dimana penduduknya rata-rata memiliki total jam kerja hampir 10 jam per hari. Meski begitu, negara ini juga memiliki rata-rata tingkat pekerjaan yang tidak dibayar, yakni sekitar 4,2 jam. Sementara itu, penduduk di negara Eropa disebut menjadi yang sebaliknya. Mereka memiliki jam kerja yang paling sedikit dibandingkan negara lainnya, khususnya penduduk Belgia yang rata-rata hanya bekerja maksimal 7,1 jam setiap hari.

Banyak orang kurang sepakat akan definisi workaholic atau gila kerja. Ada yang menyebutkan, workaholic itu muncul dikarenakan orang tersebut mencintai pekerjaannya, sehingga bersedia mengorbankan seluruh waktunya untuk pekerjaan itu. Tetapi, menurut Dr Randall S. Hansen, edukator dan penulis buku seputar motivasi, di masa sekarang workaholic bukan hanya sebatas rasa cinta terhadap pekerjaan. "Ini juga berkaitan dengan tuntutan finansial, sosial, dan juga teknologi. Tuntutan finansial membuat harus menghasilkan banyak uang untuk kebutuhan hidup, sehingga bisa jadi akan melakukan segala jenis pekerjaan dan mengorbankan waktu istirahat. Sementara tuntutan sosial lebih berkaitan pada budaya kerja masyarakat atau negara tertentu. Sedangkan tuntutan teknologi sedikit-banyak dipengaruhi oleh adanya e-mail, blackberry, hingga fasilitas lainnya. Otomatis, Anda tidak bisa beristirahat meskipun sudah di rumah," jelas Hansen.

Apabila seorang Pustakawan menjadi workaholic, akibatnya bisa berdampak buruk terhadap hidupnya. Misalnya saja, mudah stres dan frekuensi pertemuan dengan keluarga juga jadi berkurang. Survei yang dilakukan di Amerika Serikat memperlihatkan, 40 persen pekerja malah tidak ingin mengambil kesempatan untuk berlibur, karena takut ketinggalan pekerjaan saat kembali bekerja lagi. Padahal, liburan juga penting untuk menyeimbangkan kondisi pikiran dan jiwa seseorang. Ciri-ciri seseorang pengidap workaholic yaitu memiliki prinsip pekerjaan adalah prioritas utama, stres jika tidak bisa bekerja, mudah sakit, menjadikan kerja sebagai pelarian, tidak punya waktu untuk kehidupan pribadi (work-life balance), dan tak menyadari bahwa yang bersangkutan mengidap workaholic.

Workaholic berbeda dengan pekerja keras (hardworker). Hardworker memiliki motivasi ingin berkontribusi secara maksimal dalam pekerjaannya, namun tetap menyisihkan waktu untuk kehidupan sosial. Misalnya, pekerja keras masih mau diajak main futsal atau bersepeda santai setelah jam kerja bersama rekan-rekan pada hari tertentu. Kadang kala masih menyisihkan waktu hari Minggu untuk bersantai bersama keluarga ke pantai atau ke pegunungan.

Orang yang bekerja keras memang asyik dengan pekerjaannya, namun keasyikannya itu sangat alasan yakni untuk merealisasikan target-target yang dinamis. Siapapun yang membaca riwayat hidup Thomas Alva Edison, sang penemu listrik, akan menyimpulkan beliau sebagai pekerja keras. Kegiatan rutin beliau adalah membaca, bereksperimentasi, bertemu dengan orang lain, dan lain-lain. Nasihat Thomas Alva Edison yang sangat tepat di sini adalah: "Jangan hanya menenggelamkan diri pada kesibukan tetapi lupa menanyakan tujuan dari kesibukan itu." Pekerja keras akan menetapkan batas pada pekerjaan sehingga masih memiliki relasi dengan keluarga dan teman, serta melakukan aktivitas rekreasi. Disamping itu, pekerja keras dapat mengendalikan dirinya untuk tetap tenang dan mampu mengalihkan pikirannya pada hal-hal yang menyenangkan selain pekerjaannya.

Bila dilihat dari narasi diatas dimanakah posisi Pustakawan Unand?  Pustakawan Unand dapat diposisikan sebagai pekerja keras. Realitanya, Pustakawan Unand umumnya mengambil cuti tahunan setiap tahun. Meskipun Pustakawan Unand memiliki jiwa altruisme dalam melayani pemustaka namun Pustakawan Unand bukanlah workaholic. Perilaku workaholic biasanya diidap oleh buruh pabrik karena bos perusahaan menekankan target produksi tertentu sehingga apabila target perusahaan tidak terpenuhi maka yang bersangkutan akan terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Demikian pula halnya dengan pemilik toko grosir yang memiliki pelanggan yang banyak. Adakalanya pemilik toko tersebut enggan menutup tokonya untuk sekedar berlibur akhir tahun menuju destinasi wisata yang viral di media sosial. Padahal tempat wisata yang dituju tidak begitu jauh dan tak sampai menguras isi dompetnya. The world is a book, and those who do not travel read only one page. Dunia adalah sebuah buku dan mereka tidak bepergian hanya karena membaca satu halaman. Demikian quote Saint Augustine, sang filosof Romawi Barat Abad ke 3 Masehi.

Read 351 times Last modified on Jumat, 24 Jun 2022 11:11