Iswadi Syahrial Nupin

Iswadi Syahrial Nupin

22 April 2022

Tak semua orang tahu kapan istilah phubbing mulai populer dalam kehidupan bermasyarakat. Istilah phubbing berawal dari kata phone, artinya telepon, dan snubbing, yang bermakna menghina. Terminologi ini pertama kali muncul pada medio Mei 2012 lalu di Australia. Kala itu, sebuah biro iklan Australia menggunakan istilah phubbing untuk menggambarkan fenomena yang berkembang di era digital ini. Banyak orang mengabaikan teman dan keluarga yang berada tepat di depannya karena malah lebih asyik dengan ponselnya.

Phubbing adalah kata yang menggambarkan perilaku seseorang yang asyik dengan gadget ketika berhadapan dengan orang lain atau sedang berada di dalam pertemuan. Dilansir dari Healthline, salah satu penelitian membuktikan lebih dari 17 persen orang melakukan phubbing kepada orang lain, setidaknya empat kali sehari. Sementara itu, hampir 32 persen menjadi korban phubbing hingga dua sampai tiga kali sehari.

Phubbing mengganggu kemampuan untuk merasa benar-benar hadir dan terlibat dengan orang-orang di sekitarnya. Seseorang mungkin hadir secara fisik di hadapan orang lain namun dengan perhatian yang sepenuhnya teralihkan. Peralihan perhatian ini dilakukan dengan sengaja ketika kita mulai menggunakan smartphone, diniatkan atau tidak sama sekali. Riset membuktikan, chatting selama percakapan tatap muka, yang termasuk phubbing, membuat interaksi yang terjadi kurang mengesankan, Hal ini berdampak pada semua orang yang terlibat interaksi tersebut, bahkan pelaku phubbing. Phubbing, yang “notabene” merupakan penggunaan smartphone berlebihan, berdampak pada hubungan pribadi. Terbukti, phubbing menurunkan kepuasaan pernikahan karena konflik atas penggunaan smartphone tersebut. Studi lain membuktikan, pasangan yang kerap melakukan phubbing, pada satu sama lainnya, berisiko lebih tinggi mengalami depresi. Saat ini, hampir semua orang di seluruh dunia memiliki smartphone sehingga diprediksi perilaku phubbing akan semakin parah dan makin meluas.

 Efek Phubbing pada Kesehatan Mental

            Phubbing dapat memberikan pengaruh buruk bagi kesehatan mental termasuk bagi kalangan digital native dan digital immigrant. Korban phubbing mungkin merasa ditolak, dikucilkan, dan tidak penting. Hal yang tentunya bisa berdampak signifikan pada kesehatan mental seseorang. Akibatnya, phubbing menjadi ancaman serius bagi empat kebutuhan dasar manusia secara sosial yakni rasa memiliki, harga diri, keberadaan yang berarti, dan kontrol.

            Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Applied Social Psychology menginformasikan, individu yang menjadi korban phubbing akhirnya terjerumus dalam pola perilaku serupa. Korban berusaha mengisi kekosongan interaksi yang terjadi dengan menggunakan smartphone-nya, yang akhirnya menjadi perilaku phubbing pula. Hal ini akhirnya menjadi lingkaran setan yang memperburuk kondisi hubungan sosial maupun mental semua pihak. Atas realitas tersebut dapat dikatakan phubbing juga memiliki kemampuan menular kepada korbannya.

Penting pula untuk memahami jika media sosial, yang cenderung dinikmati ketika phubbing, dapat memperburuk masalah mental. Media sosial mungkin memiliki dampak negatif pada kesehatan mental kita, menurut penelitian yang dipublikasikan di Computers and Human Behavior. Studi tersebut menemukan bahwa media sosial dapat memperburuk perasaan depresi, dan semakin sering kita menggunakannya maka semakin besar kemungkinan kita merasakan depresi atau kecemasan.

Tips mengatasi Perilaku Phubbing

            Menurut Wiguna (2022) dalam tulisannya yang berjudul Lakukan 3 Cara Ini untuk Mengurangi Kebiasaan Phubbing, dinyatakan bahwa  phubbing dapat diatasi dengan beberapa tips berikut ini :

Pertama, Tinggalkan ponsel. Penyebab utama seseorang melakukan phubbing adalah ponsel yang berada dalam jangkauan, seperti di dalam saku atau tas, ketika sedang berinteraksi dengan orang lain. Karena itu, salah satu solusi yang bisa dilakukan adalah meninggalkan ponsel untuk sejenak, seperti meninggalkan ponsel di rumah atau di dalam mobil. Hal ini akan mencegah seseorang untuk melakukan phubbing ketika berinteraksi dengan orang lain.

Kedua, Batasi Penggunaan Ponsel. Tidak bisa dinafikan bahwa ponsel memegang peranan penting pada era serba digital. Akan tetapi, hal tersebut bukan berarti bahwa ponsel tidak bisa dikurangi penggunaannya. Kebanyakan orang menggunakan ponsel untuk hal-hal yang tidak terlalu penting, seperti bermain media sosial atau game. Kebiasaan-kebiasaan tersebut dapat dikurangi untuk mengatasi kebiasaan phubbing.

Ketiga, Jangan memainkan ponsel ketika makan. Phubbing tidak hanya terjadi ketika seseorang tengah terlibat interaksi sosial. Ketika melakukan kegiatan lain, seperti makan, seseorang juga dapat melakukan phubbing. Beberapa orang bahkan tidak mampu menghabiskan makanannya tanpa memainkan ponsel. Karena itu, mencoba untuk menjauhkan ponsel ketika makan menjadi salah satu solusi untuk mengatasi kebiasaan phubbing.

            Sebagai perilaku anti sosial maka dalam organisasi Perpustakaan khususnya UPT.Perpustakaan Unand perlu dilaksanakan sikap anti Phubbing. Kebiasaan peserta rapat bidang terkadang masih saja memainkan handphone ketika pimpinan rapat sedang berbicara. Perilaku yang kurang baik ini sudah saatnya dirubah. Saatnya berpikir secara rasional dimana setiap apa yang kita kerjakan ada aturan dan tempatnya masing-masing. Bermain gadget tidak dilarang namun ada batasnya sehingga hubungan sosial tidak terganggu hanya karena teknologi. Kita seyogianya merenungkan kembali quote Alber Einstein pakar Fisika kondang. Technological progress is like an ax in the hands of a pathological criminal. Yang bermakna bahwa kemajuan teknologi seperti kapak di tangan seorang penjahat patologis.

22 April 2022

Pada Hari Sabtu, 9 April 2022 yang bertepatan dengan 7 Ramadhan 1443 Hijriyyah, telah diselenggarakan iftar atau buka puasa bersama di Rumah Makan Silungkang. Rumah makan ini terletak di Simpang Haru. Pemilihan rumah makan tersebut sebagai lokasi kegiatan iftar karena akses ke lokasi yang mudah karena letaknya di pusat kota. Disamping itu rumah makan ini dilengkapi dengan fasilitas mushala dan tempat parkir yang relatif luas.

Acara iftar bersama yang diselenggarakan UPT.Perpustakaan Unand dihadiri oleh Staf UPT.Perpustakaan Unand baik Tenaga Kependidikan PNS (Pegawai Negeri Sipil) maupun Tenaga Kependidikan Non PNS (Pegawai Negeri Sipil). Sebagian staf UPT.Perpustakaan Unand mengikutsertakan keluarganya. Iftar dalam Bahasa Arab merujuk pada sebuah perjamuan berbuka puasa selama Bulan Ramadhan. Iftar adalah salah satu ibadah di bulan Ramadhan dan sering dilakukan oleh sebuah komunitas dan orang-orang yang berkumpul untuk berbuka puasa bersama-sama (Wikipedia). Dalam kegiatan iftar ini disediakan menu ta’jil. Makna ta’jil dalam Bahasa Arab yakni menyegerakan yang diambil dari kata ‘ajjala-yu’ajjilu. Penjelasan makna ta’jil ini dapat dilihat secara lengkap pada Kitab Fathul Bari pada Bab Khusus yang berjudul Bab Ta’jil Al Fithr yang artinya Bab Menyegerakan Berbuka Puasa. Menu ta’jil yang umum dalam masyarakat Indonesia biasanya kolak, sop buah, es cincau dan es campur. Akan semakin nikmat bila dilengkapi dengan beberapa butir kurma jenis khalas, lulu’ dan dabas yang berasal dari Uni Emirat Arab dan Irak atau pun kurma Mesir dan Tunisia yang biasa banyak ditemui di pasar tradisional.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Online, soliditas mengandung makna keadaan solid (kukuh, berbobot dan sebagainya). Untuk menjaga soliditas organisasi tentu harus ada agenda dan momentum yang tepat untuk melakukan kegiatan secara bersama dengan melibatkan seluruh staf UPT.Perpustakaan Unand. Output yang diharapkan kedepan adalah timbulnya kekompakan , solidaritas yang tinggi dan mampu berkolaborasi dalam team work.

Kegiatan melaksanakan buka puasa bersama merupakan sesuatu yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah Shalallahu’alaihi Wa Sallam karena terdapat berkah pada makanan yang akan dimakan bersama-sama. Hal ini didukung oleh Hadits riwayat Abu Dawud, “Apa kalian makan sendiri-sendiri?”. Para sahabat pun menjawab “iya” Rasulullah lalu menyarankan para sahabat untuk makan bersama-sama. Beliau bersabda, “Makanlah kalian bersama-sama, bacalah bismillah, maka Allah akan memberikan berkah kepada kalian semua”.

Buka puasa bersama di Bulan Ramadhan memiliki dampak positif bagi Pustakawan di UPT.Perpustakaan Unand. Buka puasa bersama dapat membentuk rasa kebersamaan dan menjalin komunikasi dengan rekan sejawat termasuk juga dengan staf UPT.Perpustakan Unand lainnya.

Berikut ini adalah manfaat buka puasa bersama bagi Pustakawan UPT.Perpustakan Unand :

Pertama, Mempererat Silaturahmi. Buka puasa bersama sangat baik untuk mempererat tali silaturahmi. Kesempatan ini biasanyan digunakan untuk memperkuat persaudaraan dengan rekan sejawat. Hal ini berdasarkan dalil Al-Qur’an Surat An Nisa ayat 1 yang artinya, “Hai sekalian manusia bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu dan daripadanya Allah ciptakan isterinya dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah dengan (mempergunakan) namaNya kamu saling meminta satu sama lain dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.”

Kedua, Sarana interaksi positif. Dengan memanfatkan momentum buka puasa bersama rekan sejawat, diharapkan sesama rekan sejawat dapat saling berinteraksi secara positif. Paling tidak disetelah buka puasa sebelum pulang ke rumah masing-masing ada gagasan baru untuk organisasi yang perlu disampaikan kepada pimpian UPT.Perpustakaan Unand sehingga kedepan gagasan tersebut difollow up menjadi event paska Idul Fithri 1443 Hijriyyah.

Ketiga, Memperpanjang usia. Memperpanjang usia. Berbuka puasa bersama dapat memperpanjang usia karena aktivitas ini dapat dijadikan sebagai momen untuk saling mendoakan, berbagi perasaan, atau curhat dan meredakan stres, saling mendoakan, saling menghilangkan beban pikiran. Berkumpul dan bercanda bersama dapat meluapkan sebagian masalah hidup. Perasaan bahagia dapat menghindarkan individu daripada terserang penyakit ganas.

Keempat, Mencairkan Hubungan. Dengan berbuka puasa bersama hubungan yang tegang antara satu dengan yang lain karena perbedaan kepentingan bisa mencair dan membaik.

Kelima, Mengisi Waktu Luang. Mengisi waktu luang dengan rekan sejawat dapat membunuh kebosanan dan mungkin dari mengobrol tersebut didapatkan ide untuk saling bertukar pikiran dalam hal yang positif.

Keenam, Mengurangi Resiko Terkena Alzheimer Dementia. Manfaat buka puasa lainnya adalah dapat terhindar dari penyakit Alzheimer Dementia. Penyakit ini ditandai dengan menurunnya kemampuan untuk mengingat seseorang dan kemampuan untuk membuat keputusan.

InsyaAllah iftar bersama ini menjadi agenda tetap kegiatan penguatan soliditas organisasi UPT.Perpustakaan Unand selama bulan suci Ramadhan. Bila perlu acara ini diselenggarakan di UPT.Perpustakaan Unand dengan harapan seluruh staf UPT.Perpustakan Unand membawa keluarganya masing-masing sehingga terbina keakraban antara sesama keluarga besar staf UPT.Perpustakaan Unand. Lebih afdhal lagi apabila sebelum buka puasa bersama dilakukan kuliah lima belas menit (Kulibas) yang bertujuan untuk meningkatkan wawasan keislaman yang berkaitan dengan ibadah shaum Ramadhan.

Fasting is not about a diet of burning calories. It’s about burning ego, pride, and sins, ibadah puasa bukanlah sekedar diet untuk membakar kalori. Tapi lebih kepada membakar ego, kesombongan dan dosa. Semoga kita semua mendapatkan rahmat, pengampunan dan itqun minan nar (pembebasan dari api neraka) dari Allah Subhanahu wata’ala. 

18 April 2022

Didalam mukaddimah Undang-undang Dasar 1945 pada alenia ke 4 dinyatakan, “......melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa,.....”. Pada alenia tersebut tertulis kata mencerdaskan kehidupan bangsa. Mencerdaskan kehidupan bangsa merupakan salah satu amanah para pendiri bangsa (founding fathers) setelah kemerdekaan Republik Indonesia. Prof. Sri Edi Swasono (2005) menjelaskan bahwa maksud “Mencerdaskan kehidupan bangsa” adalah kehidupannya yang dicerdaskan, bukan sekedar kemampuan otaknya. Mencerdaskan kehidupan bangsa lebih merupakan konsepsi budaya daripada konsepsi biologis-genetika. Para founding father menolak sikap dan perilaku ke-inlander-an, yaitu sikap hidup sebagai inlander, sebagai yang terjajah, terbenam harga dirinya, penuh unfreedom atau keterbelengguan diri. Kehidupan yang cerdas menuntut kesadaran harga diri, harkat, dan martabat, kemandirian memiliki innerlijke beschaving, tahan uji, pintar dan jujur.

Cerdas literasi sosial merupakan tuntutan di Era Revolusi Industri 4.0. Literasi sosial didefinisikan kemampuan anak usia dini untuk berinteraksi, memelihara, dan membangun hubungan dengan orang lain. Kegiatan literasi sosial tidak hanya melibatkan guru PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) akan tetapi juga aktivis literasi dan pustakawan. Literasi sosial melibatkan kemampuan mengetahui dan mengekspresikan emosi sendiri dengan sukses. Literasi sosial juga disebut kecerdasan sosial atau literasi emosional (Hamilton, 2006). Realitas ini sesuai dengan pernyataan Hurlock (1978),  bahwa kecerdasan sosial dalam hal ini literasi sosial merupakan perolehan kemampuan berperilaku yang sesuai dengan tuntutan sosial. Literasi sosial difokuskan untuk meningkatkan keterampilan sosial anak. Karena pentingnya keterampilan sosial anak, maka anak perlu belajar dan praktek keterampilan sosial. Dalam riset yang dilakukan oleh Alexander dan Entwisle, ditemukan hasil bahwa anak yang mampu dalam keterampilan sosial mempengaruhi akademik mereka sebaik perilaku sosialnya (dalam Kostelnik, 1999).

Berikut ini dijelaskan tentang tahapan literasi sosial bagi anak khususnya usia dini :

Pertama, Literasi sosial dimulai dengan penyajian materi pola asuh anak usia dini, dengan mengundang orangtua untuk menjelaskan tentang pola pengasuhan anak usia dini kaitannya dengan peningkatan kemampuan literasi sosial anak. Kegiatan ini dilanjutkan dengan tanya jawab, brainstorming, diskusi kelompok, dan umpan balik hasil diskusi.

Kedua, Penguatan literasi sosial anak usia dini melalui cerita tentang kehidupan hewan untuk membangkitkan kemampuan literasi sosial yang sekaligus imajinasi anak tentang dunia sekelilingnya dengan menirukan suara binatang sekaligus memberi penguatan nilai-nilai kerjasama. Kegiatan tahap kedua ini didukung dengan gambar hewan secara seri/berurutan.

Ketiga, Penguatan literasi sosial anak usia dini melalui kegiatan bermain. Penguatan literasi sosial anak usia dini ini dengan metode bermain seperti menjala ikan atau menyusun kayu-kayu kecil yang kemudian menjadi bangunan. Permainan ini mendidik anak untuk berkolaborasi dengan baik, dan mau bermain dengan siapa saja tanpa pandang bulu. Dengan demikian literasi sosial anak diharapkan semakin kuat dan berkembang baik.

Agar kegiatan literasi sosial yang dilaksanakan di TBM berjalan dengan baik maka perlu adanya wadah atau forum masyarakat pegiat literasi. Hal ini sesuai dengan Rancangan Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Barat Nomor 1 Tahun 2022 tentang Perpustakaan BAB X Peran serta Masyarakat Pasal 78 ayat 2 yang berbunyi, Dalam rangka mendorong peran serta masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Pemerintah Daerah melalui Perangkat Daerah dapat memfasilitasi terbentuknya wadah atau forum masyarakat penggiat literasi atau masyarakat gemar membaca. Yang menjadi pertanyaan dalam pasal ini tentang adanya redaksi memfasilitasi, apakah forum masyarakat pegiat literasi ini hanya mendapatkan fasilitas berupa legalitas organisasi secara hukum an sich, atau mendapat bantuan dana operasional dari Pemerintah Provinsi Sumatera Barat?. Semoga isu ini dapat dituntaskan dengan segera. Kegiatan Literasi sosial ini seyogianya juga diperluas dengan pemahaman aktivitas literasi informasi kepada khalayak. Oleh karena itu perlu kolaborasi yang baik antara pustakawan dengan aktivis literasi.

            Poin kerjasama yang perlu dibangun antara Pustakawan dengan Aktivis Literasi adalah sebagai berikut :

Pertama, membentuk forum masyarakat pegiat literasi yang pengurusnya adalah pustakawan dan aktivis literasi. Tujuanya agar transformasi ilmu pengetahuan dan sharing knowledge antara Pustakawan dan Aktivis Literasi berlangsung dengan baik.

Kedua, mengadakan pelatihan yang diinisiasi oleh organisasi Pustakawan terkait dengan tata kelola koleksi. Pustakawan dapat membagikan ilmunya kepada pengelola Taman Bacaan Masyarakat yang pengelolanya adalah aktivis literasi. Pustakawan yang menjadi narasumber otomatis memperoleh angka kredit yang dapat digunakan untuk kenaikan pangkat / jabatan. Pengenalan SLIMs (Senayan Library Management Systems) sangat penting bagi aktivis literasi dan perlu diterapkan pada Taman Bacaan Masyarakat.

Ketiga, bekerjasama dengan pemangku kebijakan di daerah dalam membentuk Taman Bacaan Masyarakat atau Perpustakaan Nagari apabila diwilayah tersebut tidak terdapat Taman Bacaan Masyarakat dan juga Perpustakaan Nagari. Untuk itu diperlukan pendekatan yang baik dengan pemangku kebijakan di daerah sehingga Perpustakaan Nagari atau Taman Bacaan Masyarakat dapat dibina oleh forum masyarakat pegiat literasi.

Apabila ketiga kerjasama diatas berjalan dengan baik maka bukan tidak mungkin di Sumatera Barat terbentuk Masyarakat Sadar Literasi Informasi. Penguatan budaya literasi adalah kunci memajukan Indonesia. Demikian kata Lenang Menggala inisiator Gerakan Menulis Buku Indonesia..

18 April 2022

Setiap orang yang bekerja di kantor pasti akan mengalami stress kerja. Tak terkecuali Pustakawan. Perubahan software penginputan data koleksi lama digantikan yang terbaru membuat pustakawan harus kembali mempelajari aturan input data baru agar dapat bekerja dengan baik. Bagi digital immigrant yang kurang ahli atau tidak memiliki interes untuk belajar penginputan data, otomatis membuat yang bersangkutan mengalami stres kerja. Stres kerja juga terjadi akibat beban kerja yang meningkat karena tanggung jawab yang besar atau memaksakan diri untuk mencapai target tertentu untuk mencapai tujuan organisasi.

Yoder dan Staudohar (1982) mendefinisikan job stress refers to a physical or psychological deviation from the normal human state that is caused by stimuli in the work environment. Kurang lebih memiliki arti yakni suatu tekanan akibat bekerja juga akan mempengaruhi emosi, proses berpikir dan kondisi fisik seseorang, di mana tekanan itu berasal dari lingkungan pekerjaan tempat individu tersebut berada. Emosi ini terbentuk kemungkinan berasal dari job burn out. Job burn out adalah perasaan lelah saat harus bekerja atau melakukan hal-hal yang berhubungan dengan pekerjaan. Rasa lelah bekerja ini bisa jadi berbentuk fisik maupun emosional yang melibatkan berkurangnya perasaan bangga dan puas atas capaian yang dihasilkan dalam pekerjaan. Proses berfikir yang terlalu rumit dan njelimet membuat kondisi otak menjadi lelah. Disamping itu juga lantaran yang bersangkutan memiliki penyakit bawaan ditambah lagi beban kerja yang meningkat membuat yang bersangkutan stress.

Dilansir dari Accurate Online, manajemen stress adalah suatu cara atau metode penanganan gangguan psikologis yang ditujukan untuk mengendalikan tingkat stress individu, khususnya stres kronis. Beberapa ahli ada yang menjelaskan bahwa manajemen stress adalah suatu kemampuan dalam menggunakan sumber daya manusia secara efektif untuk bisa mengelola dan juga mengatasi gangguan serta kekacauan mental serta emosional yang terjadi karena adanya respon atau tanggapan.

Menyigi manajemen stres bertujuan untuk memperbaiki kualitas hidup yang lebih baik. Secara umum, stress mampu mempengaruhi cara pikir dan emosi setiap orang. Bila tekanan yang dialami oleh seseorang ternyata sangat besar, hal tersebut akan mengancam kemampuan setiap orang dalam menghadapi kondisi dan situasi dari lingkungannya.

Faktor penyebab stres kerja dapat dibagi menjadi dua yaitu penyebab stres dari internal maupun eksternal. Berikut ini dijelaskan penyebab stres internal (dalam diri) :

Pertama, Workaholic (Gila Kerja). Workholic adalah orang yang melakukan pekerjaan secara kompulsif dan sangat kerap mengorbankan waktu tidur serta keluarganya sehingga mengakibatkan tekanan dalam jiwanya.

Kedua, Fixed Mindset, yakni mereka yang memiliki pikiran sempit dan kaku. Umumnya mereka memiliki banyak pikiran dan kaku atau tidak berpikir sama sekali secara normal.

Ketiga, Pikiran Negatif, hal tersebut ditandai dengan adanya cara pikir yang pesimistis, berlebihan mengkritik diri sendiri dan menganalisis sesuatu secara berlebihan.

Keempat, Gaya hidup dan juga kebiasaan buruk, seperti begadang, minum alkohol, kafein, perokok, dan sebagainya.

Adapun faktor penyebab stres eksternal (luar diri) yaitu :

Pertama, Peristiwa penting yang terjadi dalam hidup seseorang, seperti meninggalnya orang yang dikasihi, kehilangan pekerjaan, perceraian, putus cinta, dan sebagainya.

Kedua, Adanya interaksi sosial, seperti perlakukan kasar dari orang lain, sikap agresif dari orang lain, intimidasi dari pihak yang lebih berkuasa, dan sebagainya

Ketiga, Di dalam perusahaan, seperti deadline pekerjaan yang ketat, intimidasi dari pihak atasan atau rekan kerja, peraturan yang terlalu kaku, dan sebagainya.

Keempat, Kecerobohan sendiri, seperti lupa menyimpan kunci, lupa mematikan listrik, rusaknya peralatan, dan sebagainya.

Agar stres kerja dapat di manage dengan baik oleh pustakawan ada beberapa langkah yang harus dilakukan :

Pertama, Melakukan Pendekatan Individual. Pendekatan individual sangat diperlukan untuk menentukan keberhasilan manajemen stress di dalam suatu Perpustakaan. Ada baiknya dilakukan penerapan manajemen waktu secara baik dan tepat, meningkatkan waktu olahraga, melatih diri agar lebih rileks, memperluas sosialisasi.

Kedua, Melakukan Pendekatan Organisasional. Pendekatan organisasional dilakukan untuk mengelola stress di Perpustakaan. Umumnya dilakukan dengan cara :

a)      Membuat iklim Perpustakaan yang lebih mendukung

b)      Meminimalisir konflik antara sesama staf Perpustakaan.

c)      Menetapkan tujuan organisasi secara lebih realistis

d)      Mengatur job description para Pustakawan

e)      Melakukan perbaikan komunikasi dari dalam Perpustakaan

Ada beberapa langkah yang dilakukan untuk menerapkan manajemen stres di Perpustakaan :

Pertama, Identifikasi Perilaku dan Kebiasaan yang Bisa Menyebabkan Stress. Stress yang terjadi di lingkungan kerja tidak hanya terjadi karena adanya pekerjaan yang menumpuk dan tidak bisa terselesaikan saja. Tapi, stress juga bisa disebabkan karena permasalahan yang ada di rumah, seperti adanya konflik dengan teman, anggota keluarga, hutang yang besar, atau masalah lainnya. Berbagai teori psikologi mengatakan stress dapat diatasi dengan menulis atau bercerita pada pimpinan. Pimpinan Sumber Daya Manusia (SDM) mungkin tidak bisa ikut campur dalam kehidupan pribadi Pustakawan, tapi setidaknya dengan bertukar pikiran dapat diketahui solusi dari masalah yang terjadi.

Kedua, Menyediakan Fasiltas Olahraga di Perpustakaan. Ada beberapa Perpustakaan yang menyediakan meja pimpong yang dapat digunakan Pustakawan untuk berolahraga dikala senggang. Cara ini dapat dijadikan saran untuk Kepala Perpustakaan dalam menyediakan fasilitas yang tujuannya mengurangi stres Pustakawan. Dengan adanya fasilitas olahraga, maka Pustakawan akan mampu mengurangi kebiasaan mengatasi stress dengan cara yang tidak sehat seperti minum minuman beralkohol. Olahraga juga diklaim mampu mengatasi fokus dan meningkatkan konsentrasi Pustakawan.

Ketiga, Menyediakan Agenda untuk Outbond. Outbond atau Mancakrida adalah bentuk pembelajaran perilaku kepemimpinan dan manajemen di alam terbuka dengan pendekatan yang unik dan sederhana tetapi efektif karena pelatihan ini tidak sarat dengan teori-teori melainkan langsung diterapkan pada elemen-elemen yang mendasar yang bersifat sehari-hari, seperti saling percaya, saling memperhatikan serta sikap proaktif dan komunikatif.

Pustakawan dituntut mampu memanage stress sehingga sukses dalam menggapai puncak kariernya. Stres tidak diciptakan oleh peristiwa-peristiwa dalam hidupmu tetapi oleh reaksimu terhadapnya. Demikian  quote James Pierce, aktor kondang Amerika Serikat.