Menciptakan Makerspace (Ruang Buatan) di UPT.Perpustakaan Universitas Andalas

15 Desember 2021

Perpustakaan merupakan growing organism sesuai dengan perkembangan teknologi informasi. Di masa lalu Perpustakaan hanya gudang yang penuh dengan tumpukan buku. Penjaga gudang buku itu adalah pustakawan yang berada dibelakang tumpukan buku. Perpustakaan dianggap sebagai tempat ekslusif yang pemakainya khusus kalangan ilmuan. Perpustakaan bukanlah public sphere yang dapat digunakan untuk kepentingan kreativitas publik dan berkumpulnya masyarakat (community center).

            Makerspace telah menjadi trend perpustakaan di zaman now. Perpustakaan tidak hanya menyediakan kebutuhan pemustaka akan informasi akan tetapi juga menyediakan kebutuhan pemustaka yang berkaitan dengan jasa lainnya. Menurut Wikipedia dalam https://en.wikipedia.org/wiki/Library_makerspace, Makerspace Perpustakaan didefinisikan sebagai A library makerspace is an area and/or service that offers library patrons an opportunity to create intellectual and physical materials using resources such as computers, 3-D printers, audio and video capture and editing tools, and traditional arts and crafts supplies. In the field of library science, makerspaces are classified as a type of library service offered by librarians to patrons. Berdasarkan pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa Makerspace Perpustakaan merupakan layanan yang menawarkan kesempatan bagi para pemustaka untuk membuat materi intelektual dan fisik dengan menggunakan sumber daya seperti komputer, printer 3-D, alat perekam dan video audio dan video, dan perlengkapan seni dan kerajinan tradisional. Di bidang ilmu perpustakaan, makerspace diklasifikasikan sebagai jenis layanan perpustakaan yang ditawarkan oleh pustakawan kepada pelanggan. Eksistensi makerspace di Perpustakaan sangat bermanfaat untuk meningkatkan jumlah pemustaka dan juga menawarkan library entrepreneurship yaitu kewirausahaan dibidang perpustakaan. Pustakawan dapat berperan sebagai manager atau pemilik modal pada makerspace yang disediakan oleh Perpustakaan. Menurut Kyungwon Koh & June Abbas dalam Competencies for Information Professionals in Learning Labs and Makerspaces yang diterbitkan oleh Journal of Education for Library and Information Science, Vol. 56, No. 2 April 2015,  agar makerspace di Perpustakaan berjalan dengan baik dibutuhkan Pustakawan yang memiliki keterampilan sebagai berikut :

Pertama, kemampuan untuk belajar (to learn). Seorang pustakawan harus mempunyai kemampuan untuk belajar dan mempunyai sikap positif dalam mempelajari sesuatu yang baru. Dalam hal ini, seorang pustakawan harus berpikir terbuku (open mind). Dalam konteks makerspace, keberadaan teknologi dan peralatan yang digunakan dalam makerspace juga terus berkembang. Untuk itu, pustakawan harus terus belajar dan meng-upgrade pengetahuannya tentang hal-hal baru yang bisa diterapkan pada makerspace.

Kedua, kemampuan untuk berdaptasi pada perubahan situasi (to adapt to changing situations). Di dunia ini, segala sesuatu bisa berubah kapan saja, mulai dari tugas, tanggung jawab pekerjaan, situasi alam, perkembangan teknologi, dan sebagainya. Untuk itu, seorang pustakawan profesional harus mempunyai kemampuan untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan. Makerspace akan terus berkembang mengikuti perkembangan zaman. Untuk itu, profesionalisme harus didukung dengan adanya kemampuan untuk menyesuaikan diri kebutuhan zaman.

Ketiga, kemampuan untuk berkolaborasi (to collaborate), Untuk menciptakan sesuatu yang luar biasa, seseorang membutuhkan sebuah kolaborasi. Tidak semua hal bisa dikerjakan sendiri. Hal ini sesuai dengan kodrat manusia bahwa ia adalah makhluk sosial di mana keberadaannya selalu membutuhkan manusia yang lain. Demikian halnya untuk membangun sebuah makerspace. Seorang pustakawan harus berkolaborasi dengan pihak lain untuk memberikan warna baru di perpustakaan dengan adanya makerspace. Bagaimanapun, makerspace adalah tempat berkumpulnya para makers untuk menghasilkan sebuah produk baru sehingga dibutuhkan adanya sharing ide dari berbagai pihak dengan disiplin pengetahuan yang berbeda. Seorang pustakawan dapat berkolaborasi dengan para makers untuk mengembangkan sebuah ide dan mengerjakan sebuah proyek baru. Di sinilah pentingnya kemampuan berkolaborasi.

Keempat, kemampuan untuk mengadvokasi pembelajaran (to advocate for the learning). kemampuan untuk mengadvokasi (mendampingi) proses pembelajaran pada makerspace. Seorang pustakawan dalam hal ini harus bisa memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa keberadaan perpustakaan bisa menjadi tempat belajar yang tepat untuk meningkatkan kemampuan seseorang dalam bidang tertentu melalui makerspace.

Kelima, kemampuan untuk melayani beragam orang. Dalam hal ini, seorang pustakawan mengetahui keberagaman karakter masyarakat, mulai dari latar belakang budaya, kemampuan, usia, gender, dan lainnya. Hal ini agar proses pembelajaran yang ada di makerspace dapat berjaan dengan baik. Setiap orang dengan karakter yang berbeda akan berbeda pula cara mereka dalam belajar dan juga berpikir. Setiap orang yang ada di makerspace harus merasa nyaman untuk belajar dengan individu yang berbeda. Untuk itu  seorang pustakawan harus mampu melayani semua kalangan masyarakat.

            Di UPT.Perpustakaan Universitas Andalas belum tersedia layanan yang sesuai dengan definisi makerspace. Walaupun pernah terdapat warung mini yang menjual makanan ringan dan sarapan pagi di lantai satu gedung UPT.Perpustakaan Universitas Andalas. UPT.Perpustakaan Universitas Andalas belum pernah menawarkan kepada pemustaka untuk memanfaatkan ruang-ruang kosong yang berada di lantai satu sampai lantai empat. Seyogianya beberapa ruang kosong itu dapat didesain ulang agar dapat ditawarkan kepada pemustaka. Ada beberapa makerspace yang dapat dilaksanakan di UPT.Perpustakaan Universitas Andalas :

Pertama, Biro Jasa. UPT.Perpustakaan Universitas Andalas dapat menawarkan ruang kepada pemustaka untuk dimanfaatkan membuat Biro Jasa. Biro Jasa yang ditawarkan adalah Jasa Pembayaran Air dan Listrik, Penyediaan Token Listrik, Pembayaran Langganan TV Kabel, Pemesanan Tiket Pesawat, Penyediaan Pulsa dan Kartu Handphone dan sebagainya. Pemustaka sebagai pemilik modal menyewa makerspace tersebut dan juga membayar uang kebersihan. Pustakawan dapat pula dengan modal bersama berinvestasi dalam penyelenggaraan biro jasa ini. Keberadaan Biro Jasa ini di UPT.Perpustakaan Universitas Andalas sangat memudahkan pemustaka melakukan pembayaran air dan listrik tanpa harus meninggalkan UPT.Perpustakaan Universitas Andalas.

Kedua, Counter Jasa Service Laptop, Komputer dan Handphone. UPT.Perpustakaan dapat pula menawarkan kepada pemustaka yang berminat mengembangkan kewirausahaannya dengan membuka jasa service laptop, komputer dan handphone. Dengan adanya makerspace ini di UPT.Perpustakaan Universitas, pemustaka yang mengalami kerusakan Laptop, Komputer dan Handphone dapat mereparasinya di UPT.Perpustakaan Universitas Andalas.

Ketiga, Cafe. Keberadaan Cafe sangat dibutuhkan di UPT.Perpustakaan Universitas Andalas. Pemustaka yang terkuras energinya dalam berfikir dapat menikmati minuman dan makanan yang sesuai dengan standar harga mahasiswa di Cafe UPT.Perpustakaan Universitas Andalas. Panitia Pelaksana Kegiatan Seminar atau Talkshow dapat mengorder makanan dan minuman di UPT.Perpustakaan Universitas Andalas. Pengelolaan Cafe ini juga dapat dilakukan dengan cara bagi hasil antara pengelola dengan investornya.

Keempat, Studio Foto. Universitas Andalas mengadakan wisuda setahun empat kali. Pemustaka yang telah menyelesaikan pendidikannya dapat mengabadikan momen wisudanya baik bersama keluarga maupun pasangannya. Pemustaka tidak perlu lagi keluar dari lingkungan Universitas Andalas hanya sekedar mencari studio foto. Disamping itu, studio foto juga melayani foto pasangan Pre Wedding di UPT.Perpustakaan Universitas Andalas.

Kelima, Distro. UPT.Perpustakaan Universitas Andalas dapat menawarkan kepada pemustaka yang ingin membuka distro T-Shirt atau pun baju-baju olahraga. Bila perlu distro ini menyediakan printer cetak gambar baju yang dapat dipesan sesuai dengan keinginan pemustaka. Keberadaan distro ini akan menambah tingkat kunjungan pemustaka di UPT.Perpustakaan Universitas Andalas. Distro ini juga dapat menyediakan produk tambahan seperti gelas yang didesain dengan logo Universitas Andalas dan handycraft lainnya.

Keenam, Bursa Buku. UPT.Perpustakaan Universitas Andalas dapat juga menawarkan makerspace untuk dikelola pemustaka menjadi bursa buku. Bursa buku ini menjual buku-buku ajar dan teks bagi mahasiswa berbagai bidang studi dengan harga standar. Bursa buku ini dapat juga menyediakan diskon bagi buku-buku terbitan tiga tahun yang lalu untuk para pembeli.

            UPT.Perpustakaan Universitas Andalas dapat mengembangkan enam unit makerspace diatas sesuai dengan kebutuhan pemustaka. Pustakawan UPT.Perpustakaan Universitas Andalas diharapkan open mind dan mampu berkolaborasi dengan pemustaka agar aktivitas di makerspace berjalan dengan baik. Keberadaan makerspace membuktikan bahwa telah terjadi perubahan orientasi di Perpustakaan yang semula dianggap non profit menjadi profit oriented. Apabila UPT.Perpustakaan Universitas Andalas menyediakan makerspace maka UPT.Perpustakaan Universitas Andalas telah menjadi public sphere bagi pemustaka dan komunitas lainnya. Keberadaan makerspace dapat menstimulus pemustaka untuk pergi ke UPT.Perpustakaan Universitas Andalas. Walaupun bukan untuk melakukan transaksi pembayaran listrik atau air setidaknya pemustaka mengetahui manfaat makerspace yang disediakan oleh UPT.Perpustakaan Universitas Andalas.

            Labor omnia vincit, kerja mengatasi segalanya. Semoga decision maker dapat mewujudkan makerspace sehingga tingkat kunjungan ke UPT.Perpustakaan lebih meningkat lagi di masa mendatang.

Iswadi Syahrial Nupin, S.Sos.,MM

Read 976 times