Items filtered by date: Desember 2021
20 Desember 2021 In Iswadi Syahrial Nupin

Pada tanggal 31 Agustus 2021, Unand resmi menyandang status sebagai Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTNBH) yang ke 13. Unand resmi menjadi PTNBH setelah ditetapkan Presiden RI Joko Widodo melalui Peraturan Pemerintah Nomor 95 Tahun 2021 tentang PTNBH Unand. PTNBH Unand memiliki kewenangan atau otonomi yang lebih luas daripada PTNNH Badan Layanan Umum (BLU). Berdasarkan Pasal 65 ayat (3) Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, yang mana dalam hal ini yang dimaksud adalah PTNBH :

  1. kekayaan awal berupa kekayaan negara yang dipisahkan kecuali tanah;
  2. tata kelola dan pengambilan keputusan secara mandiri;
  3. unit yang melaksanakan fungsi akuntabilitas dan transparansi;
  4. hak mengelola dana secara mandiri, transparan, dan akuntabel;
  5. wewenang mengangkat dan memberhentikan sendiri dosen dan tenaga kependidikan;
  6. wewenang mendirikan badan usaha dan mengembangkan dana abadi; dan
  7. wewenang untuk membuka, menyelenggarakan, dan menutup program studi.

Dalam poin diatas disebutkan bahwa d.hak mengelola dana secara mandiri, transparan dan akuntabel. Ini bermakna bahwa pengambil kebijakan (decision maker) dapat mendayagunakan dana PTNBH Unand untuk meningkatkan kompetensi Pustakawan. Kompetensi pustakawan dapat dibangun dengan pelatihan, baik On The Job Training (Pelatihan di Tempat Kerja) maupun Off The Job Training (Pelatihan di Luar Tempat Kerja). Pelatihan yang dirancang seyogianya dilaksanakan dengan berkelanjutan karena teknologi informasi senantiasa berkembang di era Revolusi 4.0.

Saleh (2021) menyatakan bahwa untuk siap menghadapi revolusi industri 4.0 dan tantangannya maka pustakawan harus siap menjadi pelayan ilmu pengetahuan, pustakawan harus mau belajar hal baru yang berkaitan dengan teknologi informasi dan mampu beradaptasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebagai pelayan ilmu pengetahuan, pustakawan harus mampu membantu peneliti dalam menemukan sumber informasi yang dibutuhkannya dan mengarahkan pemustaka bagaimana temu balik informasi yang efektif dan efisien. Belajar hal yang baru bermakna bahwa pustakawan harus mampu menguasai hal-hal diluar bidangnya secara garis besar sehingga pustakawan tidak gamang melayani pemustaka yang bertanya atau membutuhkan informasi.

Perpustakaan Unand merupakan unsur penunjang akademik yang berbentuk Unit Pelaksana Teknis (PP No.95 Tahun 2021 Pasal 50 Ayat 2 tentang PTNBH Unand). Sebagai Unit Pelaksana Teknis Perpustakaan Unand memiliki peran yang vital yaitu menyukseskan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang dilaksanakan oleh Universitas Andalas terutama yang berkaitan dengan pendidikan dan pengajaran serta pengabdian masyarakat. Kesiapan Pustakawan yang diperlukan adalah sebagai berikut :

Pertama, Kemampuan berkomunikasi interpersonal baik kepada atasan, bawahan, rekan kerja, senior dan pemustaka. Johnson (2002) mendefinisikan bahwa kemampuan komunikasi interpersonal sebagai suatu kemampuan individu untuk menilai, mengembangkan dan memelihara komunikasi yang akrab, hangat, dan produktif dengan orang lain. Komunikasi kepada atasan dapat dilakukan dengan menjelaskan kondisi yang dihadapi oleh Perpustakaan Unand bagaimana Kekuatan, Kelemahan, Peluang dan Ancaman dengan data. Hal ini dapat diutarakan melalui Rapat Koordinasi Antar Pimpinan Unand. Komunikasi dengan bawahan dilakukan dengan rasa kekeluargaan. Pengetahuan psikologi perpustakaan menjadi sesuatu yang penting untuk dipahami oleh pustakawan selaku pemimpin organisasi perpustakaan. Bawahan yang tidak bekerja dengan maksimal harus dicarikan solusi agar permasalahan itu dapat dieleminasi sehingga tidak menganggu staf lain. Komunikasi dengan rekan kerja yang lininya komandonya berbeda juga harus dibangun dengan baik sehingga organisasi pun dapat berjalan dengan baik. Komunikasi dengan senior perlu dibangun untuk mengatasi masalah yang terdapat di perpustakaan. Senior adalah tempat untuk mendapat pengakuan dan legitimasi dalam hal kepemimpinan. Mereka tidak dapat diabaikan dalam pengambilan keputusan. Komunikasi interpersonal dengan pemustaka harus diperhatikan dengan baik. Pemustaka sangat mengharapkan Pustakawan yang ramah dan bersahabat. Gunakan bahasa Indonesia yang mudah dipahami oleh pemustaka. Ketika pemustaka masuk ke Perpustakaan Unand hendaknya pustakawan melakukan 3 S (Sapa, Senyum dan Simpati). Dengan menyapa pemustaka maka yang muncul dalam imaji pemustaka adalah persahabatan. Senyuman di tafsirkan sebagai sikap ramah dan berlapang hati. Simpati bermaksud bahwa pustakawan akan membantu pemustaka yang kesulitan menemu kembali informasi yang tersedia di Perpustakaan Unand dan internet.

Kedua, Kemampuan Meneliti dan Menulis Karya Tulis. Pustakawan dituntut mampu meneliti persoalan yang berkaitan dengan perpustakaaan dan kepustakawanan. Disamping melaksanakan pelayanan pada pemustaka meneliti merupakan langkah mencari solusi atas kendala yang dihadapi oleh organisasi perpustakaan. Paling tidak Pustakawan harus dapat menulis makalah yang tidak dipublikasikan sesuai dengan sistematika penulisan ilmiah. Menulis karya tulis ilmiah seperti jurnal memiliki kredit poin yang besar yaitu 6 SAK (Satuan Angka Kredit). Intinya pustakawan harus memiliki kemauan untuk sukses dengan menulis. Apalagi kalau gagasan yang ditulis itu dibuatkan dalam bentuk buku tercetak yang diedarkan secara nasional tentu angka kredit yang dicapai itu bernilai 8 SAK.

Ketiga, Kemampuan menguasai kompetensi literasi informasi. Pustakawan harus mampu menguasai cara penelusuran dan pencarian informasi dengan aplikasi Mandeley, Zotero dan Turnitin yang kemudian diajarkan kepada sivitas akademika dalam bentuk bimbingan literasi secara berkesinambungan.

Keempat, Kemampuan menguasai platform antarmuka (interface). Pustakawan harus mampu menguasai platform komunikasi agar dapat mengupgrade pengetahuan kepustakawanannya dan juga berinteraksi dengan pemustakanya. Sejak pandemi covid 19 aplikasi yang jamak dipakai adalah Zoom, Google Meet, Whatsapp dan Telegram. Aplikasi ini mampu membantu pustakawan agar dapat berkomunikasi dengan pemustaka.

Kelima, Kemampuan mengaplikasikan teknologi robotik. Era Revolusi Industri 4.0 menuntut pustakawan harus belajar hal baru yang belum pernah ada sebelumnya diterapkan di perpustakaan. Penerapan teknologi robotik adalah keniscayaan. Robot manipulator yang menggunakan tangan dapat diberdayakan untuk kegiatan weeding dan stock opname. Agar robot ini dapat dioperasikan dengan baik pustakawan harus belajar dengan teknisi yang dapat mengoperasikan robot tersebut.

Disamping lima kemampuan diatas, ada tantangan besar bagi Pustakawan Unand di Era PTNBH ini yaitu :

Pertama, tantangan mempertahankan peringkat 4 Kontributor Indonesia One Search (IOS). Pada tanggal 14 September 2021, dalam Acara Gemilang Perpustakaan Nasional yang bertepatan dengan Hari Kunjung Perpustakaan diserahkan anugerah Nugra Jasadharma Pustakaloka kepada Perpustakaan Unand secara online oleh Bapak Kepala Perpustakaan Nasional Syarif Bando. Sebagai PTNBH, pustakawan memiliki tanggung jawab untuk mempertahankan prestasi yang ada dan harus meningkatkannya ke jenjang yang terbaik.

Kedua, tantangan mempertahankan akreditasi perpustakaan. Nilai Akreditasi Perpustakaan Unand saat ini adalah A. Ditahun 2022, akreditasi Perpustakaan Unand berakhir dan pustakawan dituntut harus mampu mempertahankan akreditasi A tersebut. Hal yang urgen diperhatikan dalam mempertahankan akreditasi A ini adalah jam layanan, pendidikan Pustakawan baik formal maupun non formal dan juga staf pustakawan yang semakin hari berkurang karena banyaknya yang pensiun.

Sebagai penulis berharap agar pustakawan sepenuh hati siap meningkatkan kompetensi dan menjawab tantangan yang dihadapi di masa depan. Semoga tulisan ini menjadi perhatian bagi decision maker. Bona fortuna, semoga berjaya !

15 Desember 2021 In Berita dan Peristiwa

Pada hari Rabu, tanggal 15 Desember 2021, salah satu pustakawan Perpustakaan Universitas Andalas, Iswadi Syahrial Nupin, diwisuda oleh Rektor Institut Pertanian Bogor(IPB). Beliau berhasil menamatkan studinya di Program Studi Magister Manajemen Pendidikan Tinggi IPB.

Wisuda yang digelar secara daring oleh Institut Pertanian Bogor itu dihadiri oleh 801 orang mahasiswa, yang terdiri dari wisudawan Doctoral 39 orang, wisudawan magister 181 orang, dan wisudawan sarjana 661 orang. Kegiatan wisuda ini diawali dengan menampilkan profil IPB, dan dilanjutkan dengan pidato rektor IPB, serta pemindahan jambul untuk peserta wisuda yang hadir secara tatap muka.

Setelah menamatkan pendidikan di program magister, Iswadi Syahrial Nupin, yang sebelumnya menyandang gelar akademik sarjana sosial, saat ini telah resmi menyandang gelar magister manajemen (MM), dengan predikat lulus “Sangat Memuaskan”.

Judul tesis yang diangkat saat menempuh pendidikan magister adalah “Hubungan Antara Motivasi Kerja dan Petunjuk Teknis Jabatan Fungsional dengan Pengembangan Karier Pustakawan”. Dengan diwisudanya beliau, maka saat ini jumlah Pustakawan UPT Perpustakaan Universitas Andalas yang menyandang gelar magister bertambah menjadi 2 orang.


15 Desember 2021 In Iswadi Syahrial Nupin

Perpustakaan merupakan growing organism sesuai dengan perkembangan teknologi informasi. Di masa lalu Perpustakaan hanya gudang yang penuh dengan tumpukan buku. Penjaga gudang buku itu adalah pustakawan yang berada dibelakang tumpukan buku. Perpustakaan dianggap sebagai tempat ekslusif yang pemakainya khusus kalangan ilmuan. Perpustakaan bukanlah public sphere yang dapat digunakan untuk kepentingan kreativitas publik dan berkumpulnya masyarakat (community center).

            Makerspace telah menjadi trend perpustakaan di zaman now. Perpustakaan tidak hanya menyediakan kebutuhan pemustaka akan informasi akan tetapi juga menyediakan kebutuhan pemustaka yang berkaitan dengan jasa lainnya. Menurut Wikipedia dalam https://en.wikipedia.org/wiki/Library_makerspace, Makerspace Perpustakaan didefinisikan sebagai A library makerspace is an area and/or service that offers library patrons an opportunity to create intellectual and physical materials using resources such as computers, 3-D printers, audio and video capture and editing tools, and traditional arts and crafts supplies. In the field of library science, makerspaces are classified as a type of library service offered by librarians to patrons. Berdasarkan pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa Makerspace Perpustakaan merupakan layanan yang menawarkan kesempatan bagi para pemustaka untuk membuat materi intelektual dan fisik dengan menggunakan sumber daya seperti komputer, printer 3-D, alat perekam dan video audio dan video, dan perlengkapan seni dan kerajinan tradisional. Di bidang ilmu perpustakaan, makerspace diklasifikasikan sebagai jenis layanan perpustakaan yang ditawarkan oleh pustakawan kepada pelanggan. Eksistensi makerspace di Perpustakaan sangat bermanfaat untuk meningkatkan jumlah pemustaka dan juga menawarkan library entrepreneurship yaitu kewirausahaan dibidang perpustakaan. Pustakawan dapat berperan sebagai manager atau pemilik modal pada makerspace yang disediakan oleh Perpustakaan. Menurut Kyungwon Koh & June Abbas dalam Competencies for Information Professionals in Learning Labs and Makerspaces yang diterbitkan oleh Journal of Education for Library and Information Science, Vol. 56, No. 2 April 2015,  agar makerspace di Perpustakaan berjalan dengan baik dibutuhkan Pustakawan yang memiliki keterampilan sebagai berikut :

Pertama, kemampuan untuk belajar (to learn). Seorang pustakawan harus mempunyai kemampuan untuk belajar dan mempunyai sikap positif dalam mempelajari sesuatu yang baru. Dalam hal ini, seorang pustakawan harus berpikir terbuku (open mind). Dalam konteks makerspace, keberadaan teknologi dan peralatan yang digunakan dalam makerspace juga terus berkembang. Untuk itu, pustakawan harus terus belajar dan meng-upgrade pengetahuannya tentang hal-hal baru yang bisa diterapkan pada makerspace.

Kedua, kemampuan untuk berdaptasi pada perubahan situasi (to adapt to changing situations). Di dunia ini, segala sesuatu bisa berubah kapan saja, mulai dari tugas, tanggung jawab pekerjaan, situasi alam, perkembangan teknologi, dan sebagainya. Untuk itu, seorang pustakawan profesional harus mempunyai kemampuan untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan. Makerspace akan terus berkembang mengikuti perkembangan zaman. Untuk itu, profesionalisme harus didukung dengan adanya kemampuan untuk menyesuaikan diri kebutuhan zaman.

Ketiga, kemampuan untuk berkolaborasi (to collaborate), Untuk menciptakan sesuatu yang luar biasa, seseorang membutuhkan sebuah kolaborasi. Tidak semua hal bisa dikerjakan sendiri. Hal ini sesuai dengan kodrat manusia bahwa ia adalah makhluk sosial di mana keberadaannya selalu membutuhkan manusia yang lain. Demikian halnya untuk membangun sebuah makerspace. Seorang pustakawan harus berkolaborasi dengan pihak lain untuk memberikan warna baru di perpustakaan dengan adanya makerspace. Bagaimanapun, makerspace adalah tempat berkumpulnya para makers untuk menghasilkan sebuah produk baru sehingga dibutuhkan adanya sharing ide dari berbagai pihak dengan disiplin pengetahuan yang berbeda. Seorang pustakawan dapat berkolaborasi dengan para makers untuk mengembangkan sebuah ide dan mengerjakan sebuah proyek baru. Di sinilah pentingnya kemampuan berkolaborasi.

Keempat, kemampuan untuk mengadvokasi pembelajaran (to advocate for the learning). kemampuan untuk mengadvokasi (mendampingi) proses pembelajaran pada makerspace. Seorang pustakawan dalam hal ini harus bisa memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa keberadaan perpustakaan bisa menjadi tempat belajar yang tepat untuk meningkatkan kemampuan seseorang dalam bidang tertentu melalui makerspace.

Kelima, kemampuan untuk melayani beragam orang. Dalam hal ini, seorang pustakawan mengetahui keberagaman karakter masyarakat, mulai dari latar belakang budaya, kemampuan, usia, gender, dan lainnya. Hal ini agar proses pembelajaran yang ada di makerspace dapat berjaan dengan baik. Setiap orang dengan karakter yang berbeda akan berbeda pula cara mereka dalam belajar dan juga berpikir. Setiap orang yang ada di makerspace harus merasa nyaman untuk belajar dengan individu yang berbeda. Untuk itu  seorang pustakawan harus mampu melayani semua kalangan masyarakat.

            Di UPT.Perpustakaan Universitas Andalas belum tersedia layanan yang sesuai dengan definisi makerspace. Walaupun pernah terdapat warung mini yang menjual makanan ringan dan sarapan pagi di lantai satu gedung UPT.Perpustakaan Universitas Andalas. UPT.Perpustakaan Universitas Andalas belum pernah menawarkan kepada pemustaka untuk memanfaatkan ruang-ruang kosong yang berada di lantai satu sampai lantai empat. Seyogianya beberapa ruang kosong itu dapat didesain ulang agar dapat ditawarkan kepada pemustaka. Ada beberapa makerspace yang dapat dilaksanakan di UPT.Perpustakaan Universitas Andalas :

Pertama, Biro Jasa. UPT.Perpustakaan Universitas Andalas dapat menawarkan ruang kepada pemustaka untuk dimanfaatkan membuat Biro Jasa. Biro Jasa yang ditawarkan adalah Jasa Pembayaran Air dan Listrik, Penyediaan Token Listrik, Pembayaran Langganan TV Kabel, Pemesanan Tiket Pesawat, Penyediaan Pulsa dan Kartu Handphone dan sebagainya. Pemustaka sebagai pemilik modal menyewa makerspace tersebut dan juga membayar uang kebersihan. Pustakawan dapat pula dengan modal bersama berinvestasi dalam penyelenggaraan biro jasa ini. Keberadaan Biro Jasa ini di UPT.Perpustakaan Universitas Andalas sangat memudahkan pemustaka melakukan pembayaran air dan listrik tanpa harus meninggalkan UPT.Perpustakaan Universitas Andalas.

Kedua, Counter Jasa Service Laptop, Komputer dan Handphone. UPT.Perpustakaan dapat pula menawarkan kepada pemustaka yang berminat mengembangkan kewirausahaannya dengan membuka jasa service laptop, komputer dan handphone. Dengan adanya makerspace ini di UPT.Perpustakaan Universitas, pemustaka yang mengalami kerusakan Laptop, Komputer dan Handphone dapat mereparasinya di UPT.Perpustakaan Universitas Andalas.

Ketiga, Cafe. Keberadaan Cafe sangat dibutuhkan di UPT.Perpustakaan Universitas Andalas. Pemustaka yang terkuras energinya dalam berfikir dapat menikmati minuman dan makanan yang sesuai dengan standar harga mahasiswa di Cafe UPT.Perpustakaan Universitas Andalas. Panitia Pelaksana Kegiatan Seminar atau Talkshow dapat mengorder makanan dan minuman di UPT.Perpustakaan Universitas Andalas. Pengelolaan Cafe ini juga dapat dilakukan dengan cara bagi hasil antara pengelola dengan investornya.

Keempat, Studio Foto. Universitas Andalas mengadakan wisuda setahun empat kali. Pemustaka yang telah menyelesaikan pendidikannya dapat mengabadikan momen wisudanya baik bersama keluarga maupun pasangannya. Pemustaka tidak perlu lagi keluar dari lingkungan Universitas Andalas hanya sekedar mencari studio foto. Disamping itu, studio foto juga melayani foto pasangan Pre Wedding di UPT.Perpustakaan Universitas Andalas.

Kelima, Distro. UPT.Perpustakaan Universitas Andalas dapat menawarkan kepada pemustaka yang ingin membuka distro T-Shirt atau pun baju-baju olahraga. Bila perlu distro ini menyediakan printer cetak gambar baju yang dapat dipesan sesuai dengan keinginan pemustaka. Keberadaan distro ini akan menambah tingkat kunjungan pemustaka di UPT.Perpustakaan Universitas Andalas. Distro ini juga dapat menyediakan produk tambahan seperti gelas yang didesain dengan logo Universitas Andalas dan handycraft lainnya.

Keenam, Bursa Buku. UPT.Perpustakaan Universitas Andalas dapat juga menawarkan makerspace untuk dikelola pemustaka menjadi bursa buku. Bursa buku ini menjual buku-buku ajar dan teks bagi mahasiswa berbagai bidang studi dengan harga standar. Bursa buku ini dapat juga menyediakan diskon bagi buku-buku terbitan tiga tahun yang lalu untuk para pembeli.

            UPT.Perpustakaan Universitas Andalas dapat mengembangkan enam unit makerspace diatas sesuai dengan kebutuhan pemustaka. Pustakawan UPT.Perpustakaan Universitas Andalas diharapkan open mind dan mampu berkolaborasi dengan pemustaka agar aktivitas di makerspace berjalan dengan baik. Keberadaan makerspace membuktikan bahwa telah terjadi perubahan orientasi di Perpustakaan yang semula dianggap non profit menjadi profit oriented. Apabila UPT.Perpustakaan Universitas Andalas menyediakan makerspace maka UPT.Perpustakaan Universitas Andalas telah menjadi public sphere bagi pemustaka dan komunitas lainnya. Keberadaan makerspace dapat menstimulus pemustaka untuk pergi ke UPT.Perpustakaan Universitas Andalas. Walaupun bukan untuk melakukan transaksi pembayaran listrik atau air setidaknya pemustaka mengetahui manfaat makerspace yang disediakan oleh UPT.Perpustakaan Universitas Andalas.

            Labor omnia vincit, kerja mengatasi segalanya. Semoga decision maker dapat mewujudkan makerspace sehingga tingkat kunjungan ke UPT.Perpustakaan lebih meningkat lagi di masa mendatang.

Iswadi Syahrial Nupin, S.Sos.,MM

14 Desember 2021 In Iswadi Syahrial Nupin

Pada akhir Januari 2020, diperkirakan virus Covid 19 telah masuk ke Indonesia. Informasi ini didasari atas kajian Tim Pakar Fakultas Kesehatan Masyarakat Indonesia (FKM UI). Virus Covid 19 yang berasal dari kota Wuhan, Republik Rakyat Cina itu telah membuat perekonomian masyarakat menjadi lumpuh pada pertengahan tahun 2020 sehingga pendapatan masyarakat menurun. Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) membuat masyarakat enggan untuk bertransaksi ke kedai atau swalayan. Alternatifnya masyarakat lebih memilih berbelanja kebutuhan pokok secara online.

Di Kota Padang, warga dapat melakukan belanja online melalui toko online seperti elapau.com, tokopadang.com, padangstore.com dan lain sebagainya. Bagi masyarakat nagari, mereka hanya perlu menghubungi ojek langganannya melalui handphone dan memberikan catatan kepada pengendara ojek agar dapat membelikan makanan atau kebutuhan hariannya. Masyarakat berbelanja ke pasar hanya seperlunya saja. Mereka tidak bisa berlama-lama karena khawatir terinfeksi virus Covid 19. Disamping itu masyarakat juga dibatasi keluar kota ataupun mengunjungi tempat wisata. Harapan pemerintah agar masyarakat sebaiknya di rumah saja dan memakai masker terkadang enggan untuk ditanggapi. Masih ada saja warga yang berwisata tanpa mematuhi protokol Covid 19 yaitu memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak menghindari kerumunan.

            Virus Covid 19 juga menulari warga yang berada di nagari. Penularan virus  kemungkinan terjadi karena interaksi warga nagari dengan pemudik. Terkadang pemudik tidak mematuhi himbauan pemerintah nagari untuk tidak mengunjungi sanak kerabatnya sebelum melakukan karantina mandiri di rumah yang telah ditentukan pemerintah nagari sebagai tempat karantina. Saat ini pemerintah nagari sedang menggalakkan vaksinasi massal untuk mencegah penularan Virus Covid 19 kepada masyarakat nagari secara gratis.

            Pandemi Covid 19 yang masih mewabah saat ini membuat perpustakaan nagari sulit untuk melakukan pelayanan pemustaka. Jumlah pengunjung perpustakaan nagari dibatasi dan protokol kesehatan diterapkan didasarkan atas Peraturan Nagari (Pernag). Untuk mengunjungi Perpustakaan Nagari, pengunjung wajib mencuci tangan dengan hand sanitizer dan memakai masker.

            Perpustakaan sejatinya memiliki peran yang sangat vital dalam proses penyebarluasan informasi. Informasi yang dimiliki perpustakaan berasal dari buku dan non buku yang beraneka ragam subyek ilmu pengetahuan. Koleksi buku adalah koleksi tercetak yang memiliki halaman lebih dari empat puluh lima lembar sedangkan koleksi non buku dapat berupa jurnal atau majalah yang biasanya terbit secara berkala.

            Perpustakaan nagari juga berfungsi sebagai sumber belajar bagi masyarakat nagari. Adanya perpustakaan nagari memungkinkan masyarakat nagari mengenal local wisdom (kearifan lokal) masyarakat adatnya dan juga masyarakat adat lain di Indonesia. Bagi nagari yang berada didataran tinggi, masyarakat umumnya berprofesi sebagai petani dan peladang serta peternak. Petani dan peladang yang mengunjungi perpustakaan nagari biasanya membutuhkan informasi tentang komoditas hasil pertanian yang nilai jualnya tinggi, harga pasaran komoditas hasil pertanian dan budi daya tanaman serta pengolahan hasil tani agar memiliki nilai tambah dipasaran. Warga nagari yang berprofesi peternak juga membutuhkan informasi penting seputar harga ternak, cara mengolah hasil ternak seperti susu dan telur agar bernilai tambah serta pakan ternak yang bermutu untuk meningkatkan produksi ternak. Perpustakaan nagari sebaiknya dilengkapi dengan koleksi tentang pengelolaan desa wisata. Dengan adanya koleksi itu diharapkan warga nagari yang memiliki ulayat yang memiliki panorama sawah, sungai dan air terjun dapat mengelola obyek wisata nagari secara mandiri atau bersama pemuda nagari sehingga pendapatan nagari dapat meningkat pesat.

 Senada dengan hal tersebut, Sandiaga Uno, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menyatakan bahwa desa wisata merupakan masa depan pariwisata Indonesia dan simbol kebangkitan ekonomi. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif all out mendorong perluasan desa wisata. Berdasarkan pernyataan ini dapat disimpulkan bahwa perpustakaan nagari diharapkan mampu mendukung kebangkitan ekonomi yang dicanangkan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dengan cara menyediakan koleksi yang berkaitan dengan pariwisata dan informasi obyek wisata yang berada disekitar pelosok nagari dengan memanfaatkan media sosial seperti instagram. 

Agar potensi pariwisata dan ekonomi kreatif tersebut dikenal oleh netizen di dunia maya maka sebaiknya Pemerintahan Nagari memiliki website tersendiri yang informasinya berisi informasi Struktur Organisasi Tata Kerja (SOTK) Pemerintahan Nagari, Peraturan Nagari, Badan Usaha Milik Nagari, harga komoditas pertanian dan peternakan serta obyek wisata nagari. Perpustakaan nagari pun perlu memiliki website yang berisi informasi dan berita tentang aktivitas sosial ekonomi yang terjadi di nagari. Oleh karena itu diperlukan admistrator sebagai pengelola website nagari. Anak nagari yang memiliki latar belakang Diploma Tiga dapat dipekerjakan sebagai pengelola website nagari sekaligus Perpustakaan Nagari. Bila perlu pemerintahan nagari juga dapat membangun hotspot berbasis jaringan internet yang dapat diakses dengan menggunakan wifi  sehingga pelajar dapat terbantu dalam pembelajaran daring (dalam jaringan). Oleh karena itu diharapkan agar Telkomsel sebagai pemimpin pasar dalam bidang telekomunikasi di Indonesia dapat memperluas jaringannya ke seluruh pelosok nagari yang terdapat di Sumatera Barat.

Tidak ada salahnya pula para guru yang mengajar di nagari membawa siswa mengunjungi perpustakaan nagari dengan memanfaatkan momentum hari kunjung perpustakaan yang jatuh pada tanggal 14 September setiap tahunnya. Diperlukan adanya sinergi antara pemerintah nagari dengan para guru untuk menstimulus minat baca pada anak didik. Tingginya minat baca masyarakat nagari secara langsung mendukung program pemerintah khususnya Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia yang bercita-cita membangun masyarakat informasi Indonesia.

Pemerintahan Desa atau Nagari dapat menggunakan Anggaran Pendapatan Belanjanya untuk mengembangkan dan membangun perpustakaan. Menurut Sekretaris Jenderal Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Taufik Madjid bahwa jumlah desa yang menggunakan Dana Desa untuk keperluan perpustakaan desa meningkat sejak 2015. Meski, pada masa pandemi, jumlah tersebut mengalami penurunan karena terdampak penanganan Covid-19. Untuk data tahun ini, pihaknya mencatat, hingga Agustus 2021 ada 2.234 desa yang secara total memanfaatkan Dana Desa sebesar Rp 87 miliar untuk perpustakaan desa. Taufik mengatakan, meski Dana Desa terdampak oleh upaya penanganan pandemi Covid-19, ternyata masih ada desa yang memanfaatkannya untuk pengembangan atau pembangunan perpustakaan desa. Dari pernyataan ini dapat diketahui bahwa penggunaan Dana Desa atau nagari untuk keperluan perpustakaan desa atau nagari menurun sejak adanya Covid 19 dan ada desa atau nagari yang memanfaatkan Dana Desa atau Nagari untuk mengembangkan perpustakaan.

Aktivitas perpustakaan nagari sebagai agen perubahan tentu sangat membutuhkan dana  yang sesuai dengan kebutuhan perpustakaan nagari. Berdasarkan Peraturan kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2017 Tentang Standar Nasional Perpustakaan Desa/Kelurahan dinyatakan bahwa Anggaran perpustakaan desa secara rutin bersumber dari anggaran desa, anggaran perpustakaan kelurahan bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah dan dapat diperoleh dari sumber lain yang tidak mengikat. Tidak disebutkan pula dalam peraturan ini tentang berapa persen besaran alokasi anggaran Perpustakaan Desa/Kelurahan/Nagari dari Anggaran pendapatan Belanja Desa / Kelurahan / Nagari. Kemungkinan penetapan alokasi Anggaran Pendapatan Belanja Nagari yang untuk perpustakaan nagari berdasarkan musyawarah antara Badan Musyawarah Nagari dengan Wali Nagari. Penetapan alokasi anggaran perpustakaan nagari selanjutnya ditetapkan melalui peraturan yang ditetapkan oleh Wali Nagari dengan Ketua Badan Permusyawaratan Nagari. Hal ini sesuai dengan Permendagri No.110 Tahun 2016 BAB V tentang Fungsi dan Tugas BPD (Badan Permusyawaratan Desa) Pasal 32 poin i yaitu membahas dan menyepakati rancangan Peraturan Desa bersama Kepala Desa. Menurut penulis idealnya anggaran perpustakaan nagari itu sebesar 5 persen dari Anggaran Pendapatan Belanja Nagari diluar belanja aparatur nagari. Besaran 5 persen tersebut telah mencukupi untuk membeli koleksi buku perpustakaan dan perangkatnya.

Pemerintah nagari sebaiknya fokus dalam pengembangan perpustakaan nagari. Tidak hanya pengembangan koleksi, sarana dan prasarana tetapi juga kualitas staf perpustakaan nagari. Kualitas staf perpustakaan nagari dapat ditingkatkan melalui pelatihan khususnya pelatihan tentang katalog online. Adanya katalog online memungkinkan semua koleksi perpustakaan nagari terdata pada database. Pemerintah nagari dapat bekerjasama dengan Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi (FPPTI) Sumatera Barat untuk menyelenggarakan pelatihan tersebut. Semoga masyarakat literasi terwujud di nagari seluruh Sumatera Barat.

                      Iswadi Syahrial Nupin, S.Sos, MM

(Pustakawan Muda Universitas Andalas)

Halaman 2 dari 3