14 Oktober 2016

Dapatkah anda membayangkan ketika datang ke perpustakaan, anda memasuki ruangan tanpa adanya rak-rak yang dipenuhi buku (bahan pustaka), meja baca dan petugas (pustakawan)? Mungkin saja pemandangan ini akan terjadi dalam 5 (lima) atau 10 (sepuluh) tahun mendatang, dimana perpustakaan hanya berisi barisan komputer, laptop yang siap melayani kebutuhan informasi anda. Tidak ada lagi pustakawan yang dengan ramah akan menyapa dan bertanya apa yang anda cari/butuhkan, semua akan anda lakukan sendiri.

Perkembangan teknologi informasi global sangat berdampak kesemua sisi kehidupan manusia, dimana, kapan, dan siapa saja dapat dengan cepat mendapat berbagai informasi yang mereka butuhkan. Penggunaan teknologi informasi berupa internet sudah merupakan kebutuhan dalam kehidupan saat ini. Melek informasi (Literacy Information) sudah tidak terbatas lagi pada mereka yang mampu secara finansial saja, melalui sarana komunikasi (smartphone/tablet) berbasis android saja semua orang sudah dapat mengakses berbagai informasi yang dibutuhkan.

Perpustakaan sangat terbantu dengan kemajuan teknologi informasi saat ini, sistem informasi manajemen perpustakaan berbasis web yang berisi informasi bibliografi dapat dengan mudah diakses oleh siapa saja. Saat ini sebahagian perpustakaan hanya berupa sebuah “server” yang didalamnya terdapat informasi bibliografi elektronik seperti e-book, e-journal, bahkan koleksi karya ilmiah sivitas akademika dalam bentuk digital.

Dalam perkembangan beberapa tahun terkahir, terlihat bahwa perpustakaan mendapat tekanan dalam hal pengadaan koleksi digital seperti e-book dan e-journal ini terlihat dari porsi anggaran yang lebih dari pengadaan buku teks. Tentu saja hal ini menjadi menarik apabila ada penelitian tentang tingkat pemanfaatan koleksi digital yang sudah dilanggan dalam beberapa tahun terkahir.

Akhirnya semua hal tersebut berdampak pada pustakawan, setuju tidak setuju atau mau tidak mau pustakawan secara perlahan tapi pasti tidak lagi mengerjakan tugas-tugas konvensional yang masih dilakukan saat ini, seperti pekerjaan klasifikasi buku, membuat barcode, label, shelving, penjilidan dan kegiatan sirkulasi. Bahkan mungkin saja perpustakaan hanya membutuhkan pustakawan yang mempunyai kompetensi dalam bidang teknologi informasi.(yr)

29 September 2014

Oleh : Yose Rizal, S.Sos
Pustakawan Muda Universitas Andalas

Pegawai Negeri Sipil (PNS) khususnya dibawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan akan tersenyum ketika mendengar kata "tukin" (tunjangan kinerja), yang terbayang dalam arti kata tersebut adalah tambahan penghasilan berupa tunjangan. Sejak dikeluarnya Peraturan Presiden Nomor 88 Tahun 2013 tentang Tunjangan Kinerja Pegawai di Lingkungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, membawa angin segar bagi PNS di jajaran Kemendikbud. Tentu saja dengan adanya tukin tersebut menambah semangat bekerja pegawai. Peraturan yang dikeluarkan pemerintah menyusul Perpres Nomor 88 Tahun 2013 adalah Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 107 tahun 2013 tentang Tunjangan Kinerja Bagi Pegawai di Lingkungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.