Tan Malaka dan Gerakan Kiri Minangkabau

13 April 2016

 

  • + Pengarang: Zulhasril Nasir
  • + Penerbit: Ombak
  • + Tahun Terbit: 2007
  • + Tebal Buku: 233 halaman

 Seperti kita ketahui, Sumatera Barat merupakan daerah yang kental religiositasnya. Apapun kepercayaan yang berkembang, Sumatera Barat tetap menjadi basis agama Islam yang kuat. Penulis tertarik membukukan fenomena ini sekaligus mengangkat cerita pahlawan kita yang terlupakan, Tan Malaka. Bahkan menurut seorang peneliti Departemen Sosial, Tan Malaka dianggap “off the record” dalam sejarah orde baru. Kemunculan dan kematiannya kini masih simpang siur. Tan Malaka hilang tak tentu rimbanya, mati tak tahu kuburnya.

Di zaman pergerakan Tan Malaka aktif dalam kegiatan partai komunis dunia. Karya besarnya, Madilog (Materialisme, Dialektika, dan Logika) dan Gerpolek (Gerilya Politik Ekonomi) memperkenalkan bangsa Indonesia kepada cara berpikir ilmiah.

 

Buku ini mengupas kaitan antara unsur-unsur egaliter Minangkabau dengan hubungan kerevolusioneran Tan Malaka. Paparan Zulhasril dimulai dari falsafah hidup orang Minangkabau, “Alam Takambang jadi Guru.” Dapat diketahui bahwa alam dan segenap unsurnya memiliki kaitan erat. Berbenturan tapi tidak saling melenyapkan. Menilik pandangan hidup orang Minang, fenomena alam, binatang, tumbuhan tunduk kepada hukum yang telah diatur oleh Tuhan melalui keharmonisan. Hal inilah yang diyakini menjadi dasar pemikiran Tan Malaka dalam berpergerakan.

Gerakan kiri di Sumatera Barat terbagi dalam Islam Komunis, Islam Nasionalis, Sosialis Demokrat, Nasionalis Kiri dan Komunis. Islam Komunis mencoba menggabungkan paham sosialisme Islam dan komunis dalam perjuangan anti penjajahan. Kaum Islam Komunis berasas pada ajaran Tan Malaka yang menghubungkan ajaran tentang kesamaan dan kebersamaan manusia dalam Islam dan Komunis. Islam Komunis kemudian digantikan Islam Nasionalis setelah gagalnya pemberontakan Silungkang (1927) dan ditangkapnya sebagian tokoh pergerakan.

Sosialis Demokrat kemudian dibentuk oleh kaum sekuler berpendidikan dan tidak mengedepankan ideology Islam sebagai bagian dari perjuangan. Gaya perjuangannya mengutamakan gagasan dan diplomasi. Pengikut kelompok ini tidak banyak dibanding kelompok lain.

Selanjutnya kaum Nasionalis Kiri. Mereka yang tergabung di dalam Nasionalis Kiri merupakan orang-orang politik kiri dan Islam yang masuk ke dalam Militer Gyu Gun (zaman Jepang). Mereka aktif bersama Masyumi dan PSII pada masa pergolakan PRRI (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia). Generasi ini adalah yang termuda dalam sejarah pergerakan Minangkabau.

Terakhir, kaum Komunis. Kalangan ini berasal dari gerakan kiri Tan Malaka yang terpengaruh ideology Komunis Marxis-Leninisme. Orientasi ideology itu semakin luas sehingga menghilangkan cir Islam Minangkabau (hal. 77).

Penulis dengan tangkas menggambarkan tokoh-tokoh pergerakan tersebut dalam bagan yang mudah dipahami. Secara garis besar, Hamka, Siradjudin, Isa Anshari, M.Natsir, dan Abdul Muis dikenal sebagai tokoh berorientasi Islam. Sementara Moh. Hatta, Tan Malaka, Chairul Saleh, D.N. Aidit, Sutan Sjahrir dan A. Rivai adalah tokoh berorientasi Nasional. Pertemuan Tan Malaka dan tokoh-tokoh pergerakan tersebut seringkali terjadi di Belanda, Bangkok, atau Semenanjung Malaya. Mengingat status pembuangan Tan Malaka selama 20 tahun di luar negeri.

Ada perbedaan sosial dan ideology antara kaum kiri Minangkabau perantauan (Batavia dan Belanda) dengan di Sumatera Barat,. PARI (Partai Rakyat Indonesia) yang didirikan Tan Malaka tahun 1927 adalah wujud kekecewaan terhadap kelompok komunis Jawa dan Sumatera yang melakukan pemberontakan. Ia melarang PKI melakukan aksi bersenjata, karena menganggap PKI belum mempunyai landasan berpijak yang memadai. Baginya, PKI sebaiknya membangun momentum secara berangsur-angsur lewat organisasi dan pendidikan (hal. 73). Jadi, jelaslah kesalahpahaman selama ini, Tan Malaka bukanlah otak pemberontakan PKI di Jawa dan Sumatera.

Secara ringkas buku ini mengkaji pergerakan kaum kiri Minangkabau dengan aspek sosial budaya alam Minangkabau. Semua itu dikombinasikan dengan perspektif Tan Malaka dan sejarah nasional-regional yang anti penjajahan. Yang unik adalah sebagian besar tokoh pergerakan kiri Minangkabau berasal dari lembaga pendidikan Islam terkemuka awal abad ke 20. Lembaga pendidikan tersebut antara lain; Sumatera Thawalib, Diniyah Putri (Padang Panjang), Adabiyah Islamic College (Padang), dan Sumatera Thawalib Parabek (Bukit Tinggi).

Pemaparan isi buku yang bertele-tele dimaklumi melihat padatnya materi yang ingin disampaikan. Selebihnya buku ini patut mendapat acungan jempol. Selamat membaca.

Galis Remina

 https://rebmagz.wordpress.com/2008/12/24/tan-malaka-dan-gerakan-kiri-minangkabautan-malaka-dan-gerakan-kiri-minangkabau/

 

Read 2800 times